
Oleh : Garda Sukma Kirana
Judul : The Will to Meaning
Penulis : Viktor E. Frankl
Penerjemah : Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika)
Tebal : 296 halaman
Tahun terbit : Agustus, 2020 (Versi terjemahan)
ISBN : 978-623-242-148-6
Buku yang jika judulnya dialih bahasakan menjadi “Kehendak Untuk Bermakna” ini merupakan karangan Viktor E. Frankl, seorang psikiater—yang menurut peresensi juga seorang filsuf aliran eksistensialism—yang mengembangkan sebuah terapi bernama Logoterapi. Logoterapi ini perpaduan antara pendekatan psikologi dengan filsafat eksistensialism. Sehingga pada penerapannya, Logoterapi mengajarkan kepada klien untuk berusaha mencari makna dalam kehidupan. Lalu, apa gunanya makna tersebut? Penemuan makna berguna untuk membantu manusia merasakan dan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.
Apakah terdapat hubungan antara kebahagiaan dengan penemuan makna? Jadi menurut Frankl, setiap manusia pasti memiliki permasalahannya sendiri-sendiri. Entah itu stress dengan aktivitas keseharian, trauma dengan masa lalu, depresi dan sejenisnya yang menyebabkan manusia merasakan berada pada titik terendah dalam hidupnya. Jika manusia telah menemukan titik terendah dalam hidupnya, maka ada kemungkinan untuk menyerah, putus asa, hingga bunuh diri. Untuk menghindari hal-hal tersebut, manusia perlu untuk mencari pemaknaan terhadap hidup supaya merasakan kebahagiaan ketika menemukan makna itu tadi. Karena menurut Frankl, rumus untuk bahagia adalah bukan mengejar kebahagiaan, tetapi kejarlah kebermaknaan. Jika seseorang mengejar kebahagiaan, bisa saja sebenarnya ia sudah bahagia namun belum bisa merasakannya. Sedangkan jika ia mengejar kebermaknaan, maka semakin bertemu makna hidup, akan semakin bahagia dirinya.
Pada proses pencarian makna hidup, seorang klien bisa dibantu oleh orang lain sebagai pemandu (konselor, terapis, psikolog) untuk mencari makna hidupnya. Tugas dari pemandu di sini adalah menganggap lawan bicaranya sebagai sebuah subjek, bukan sebuah objek. Menganggap klien sebagai subjek di sini berarti pemandu harus melakukan aktivitas timbal balik, dan memahami kondisi lawan bicaranya. Selain tugas pemandu menganggap lawan bicaranya sebagai subjek, pemandu juga harus memahami kapasitas dirinya. Karena manusia pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Begitupun dalam pencarian akan makna hidupnya. Jika seorang klien memiliki latar pendekatan teologis untuk mencari makna hidup, maka pemandu harus memandu dengan pendekatan teologis. Tetapi jika hal tersebut di luar kapasitas pemandu, maka pemandu berhak tidak melanjutkan pemanduan klien dan memberikan rujukan kepada yang lebih berkompeten. Hal ini harus dilakukan agar klien tidak menjadi semakin “parah” dengan kondisi yang dialaminya.
Frankl sendiri bisa menulis buku ini dan menemukan Logoterapi bukan tanpa sebab. Ia merupakan bekas tahanan Nazi Jerman pada perang dunia ke-dua. Pada saat berada di kamp konsentrasi Nazi, ia ditangkap bersama keluarganya. Bahkan saat itu istrinya sedang hamil. Namun, karena penyiksaan yang dilakukan Nazi, dari keseluruhan keluarganya yang ditangkap, hanya dirinyalah yang selamat. Tentunya hal ini membuat dirinya merasa tertekan pada saat baru diloloskan dari kamp konsentrasi. Bermula dari tekanan-tekanan batin ini (kehilangan keluarga, termasuk istrinya yang sedang hamil), dirinya mulai mencari pemaknaan terhadap kehidupannya. Oleh sebab itu, buku ini di tulis berdasarkan pengalaman hidup dan materi-materi kuliah umum yang dilakukan Frankl dari tahanan ketahanan, kuliah umum kampus, hingga aktifitas terapi dengan kliennya.
Secara keseluruhan, buku ini memiliki kelebihan seperti:
1. Kualitas terjemahannya bagus—terkadang buku terjemahan memiliki kualitas yang acak-acakan, tetapi Penerbit Noura tidak seperti itu.
2. Penyampaian materinya sistematis dari awal sampai akhir. Bahkan di akhir buku, disampaikan sebuah penerapan dan teknik melakukan logoterapi yang menarik.
3. Terdapat beberapa contoh percakapan antara Frankl dengan kliennya yang membuat pembaca bisa membayangkan cara penerapan logoterapi terhadap diri sendiri maupun orang lain.
4. Pandangan eksistensialis Frankl tentang manusia yang bisa membuat pembaca merasa dihargai dengan kehadiran buku ini.
Selain kelebihan, tentunya buku ini memiliki kekurangan seperti:
1. Penggunaan istilahnya terkadang terlalu sulit dipahami oleh orang awam.
2. Akan lebih mudah dibaca jika menggunakan catatan kaki, bukan catatan akhir.
3. Bagi orang awam, munculnya tokoh-tokoh seperti Heidegger, Sartre, Nietzsche, Adler dan lain-lainnya beserta secuil pandangan pemikiran tokoh tersebut tanpa adanya pengantar yang
panjang membuat pembaca awam kebingungan.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku ini baik disarankan bagi mereka-mereka yang ingin mengenal pandangan eksistensialism yang sudah menjerumus ke Ilmu Psikologi. Selain itu, bagi mereka yang ingin belajar tentang Transpersonal, buku ini juga sebuah rujukan yang bagus untuk dibaca. Bahkan bagi mereka yang tidak tertarik dengan kedua topik tersebut, tetap saja bisa menarik sebagai bahan bacaan karena buku ini secara tidak langsung menuntun kita sebagai pembaca untuk terus hidup dan mencari makna di balik setiap kegiatan yang kita jalani, dan pengalaman yang kita dapat supaya dapat merasakan sebuah kebahagiaan di balik tekanan dan penderitaan.