Oleh: Khanan Saputra
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Purwokerto)
Bhaskara.id- Antoni Gramsci seorang teoritikus Marxis yang lahir di Ales, sebuah kota kecil di Italia, pada 22 Januari 1891. Kehidupannya sangat mengenaskan ketika dirinya ditahan oleh penguasa fasis, yang membuat Gramsci diisolasi dalam dunia politik. Walupun dipenjara, tembok hanyalah tembok, dari tembok itu juga pikirannya menembus ke luar. Selama menjalani pengasingan itu, otak Gramsci terus bekerja walaupun dengan segala rasa sakit yang ia rasakan. Dari situ juga, Gramsci melahirkan karya masyhur “Prison Notebook”, salah satu karya yang berkontribusi terhadap pengetahuan Marxisme.
Bagaimana Kelas Dominan Membentuk Hegemoni?
Gramsci sendiri melihat adanya kemunduran para buruh atas kesadaran kelasnya, sehingga memberikan dampak pengaburan daya revolusioner dari buruh itu sendiri. Kesadaran kelas hilang bukan begitu saja, kesadaran hilang karena adanya kelas dominan yang menggunakan kekuatannya, baik itu kekerasan ataupun kekuatan moral bahkan intelektual. Dari penggunaan kekuatan tersebut, yang kemudian melahirkan konsensus dengan pelbagai aliansi yang nantinya akan tertuju pada blok sosial. Blok sosial sendiri oleh Gramsci diartikan sebagai kesuksesan kelas dominan yang telah melakukan berbagai upayanya untuk menjaga kondisi yang ada. Dari terciptanya blok sosial itu, maka hegemoni yang diperkakas oleh kelas dominan disebarkan melalui organisasi hingga gagasan.
Hegemoni tersebut juga tercipta oleh intelektual yang berkontribusi di dalamnya. Dalam hal ini, Gramsci menggolongkan dua jenis intelektual; intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional ialah orang-orang yang lahir dari suatu kelas tertentu namun dirinya memilih terpisah dari kelas tersebut. Intelektual pertama ini menganggap dirinya berada dalam posisi yang netral, tak terkontaminasi oleh salah satu kelas yang ada – walaupun oleh kelas yang melahirkannya. Sedangkan intelektual organik ialah intelektual yang mewakili kepentingan salah satu kelas, yang tak hanya berpikir, namun juga mengorganisir salah satu kelas yang ia pijaki. Dengan kata lain, intelektual organik ini bisa berasal dari kelas borjuis yang menggerakkan kepentingan kapitalisme, ataupun berasal dari kelas buruh yang berpihak terhadap perjuangan buruh itu sendiri.
Strategi Penghancuran Kelas Dominan
Dalam kondisi yang semacam itu, Gramsci memetakan dua tahapan serangan, yakni; perang posisi dan perang siasat. Perang posisi merupakan upaya jangka panjang yang memiliki target superstruktur kebudayaan dari kelas dominan, di mana kaum buruh harus mempersiapkan plannya yang bertujuan membentuk budaya baru dan negara model baru melalui kritik terhadap sistem yang lama. Jika hal itu terus tergencar, maka ketika waktunya tepat, perang siasat bisa ditempuh yang dibersamai dengan penggunaan kekerasan guna menumbangkan rezim kapitalisme. Permasalahan waktu yang tepat ini memang harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Gramsci sendiri bisa dikatakan terinspirasi oleh Revolusi di Rusia yang didesain oleh Lenin. Namun, Gramsci melihat bahwa revolusi yang terjadi di Rusia tak bisa didistribusikan ke daratan Eropa yang lain, melihat ada perbedaan corak negara antara wilayah Eropa Barat dengan Rusia.
Gramsci juga mengistilahkan konsep ‘krisis hegemoni’. Baginya, krisis hegemoni bersumber pada ketidakmampuan sistem lama dalam memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat. Dalam keadaan yang semacam ini, akan menimbulkan konsekuensi logis atas terbukanya ruang bagi kelas yang lainnya untuk masuk. Namun penting dicatat, bahwa untuk kelas lain masuk dan meraih hegemoni, suatu kelas harus bisa memperlihatkan wajahnya sebagai yang mewakili kepentingan universal. Dalam hal untuk mencapai itu semua, maka kelas yang akan masuk itu harus memiliki kesadaran kelas yang mumpuni terlebih dahulu. Sebab, jika kelas lain tak memiliki kesadaran yang mumpuni, sistem lama bisa saja terus melanggeng dengan konsolidasi yang baru.
Review Singkat
Buku ini memberikan gambaran mengenai pemikiran dari Antonio Gramsci tentang negara dan hegemoni. Buku ini juga menceritakan latar belakang kehidupan Gramsci serta aktivitas politiknya yang ditempuh. Hal tersebut sangat baik, sebab pemikiran dari filsuf sendiri acap kali dipengaruhi oleh kehidupannya. Namun, buku ini juga tak hanya berfokus membahas Gramsci, ada penjabaran dari filsuf yang lainnya, misalnya ketika membahas konsepsi negara, penulis buku juga menjabarkan konsepsi negara dari filsuf naturalis. Hal itu memang bagus, terlebih penulis buku sudah memberikan disclaimer di awal terkait hal itu. Namun, atas hal tersebut membuat pembahasan dari pemikiran Gramsci sendiri kurang mendalam. Sehingga, buku ini kurang bisa untuk memberikan gambaran secara mendalam mengenai pemikiran dari Gramsci tentang negara dan hegemoni. Walaupun begitu, buku ini mungkin lebih cocok untuk dijadikan buku pengantar guna mempelajari pemikiran Gramsci, untuk yang kemudian guna menggali pemikiran Gramsci melalui buku yang lain ataupun langsung dari tulisan yang Gramsci tulis.
Catatan Singkat
Pemikiran Antonio Gramsci mengenai negara dan hegemoni bisa digunakan sebagai pisau analisis untuk melihat bagaimana sebuah sistem yang dirancang oleh kelas dominan dijalankan dan dipertahankan. Sebab, dari adanya kelas dominan yang memimpin tersebut akan terus berupaya untuk menebar pengetahuan agar selaras dengan kepentingannya, proses dalam hal ini melibatkan kekerasan maupun moral dan intelektual. Sehingga atas adanya hal tersebut, masyarakat bisa terbius dengan hegemoni dari kelas dominan dan membentuk masyarakat dengan kesadaran palsu. Namun begitu, mengenai strategi yang diambil untuk menjemput dunia baru, saya sendiri masih berpikir-pikir untuk menyepakatinya.
Identitas Buku
Judul: Antonio Gramsci Negara dan Hegemoni
Penulis: Nezar Patria dan Andi Arief
Tahun Terbit: 1999
Penerbit: Pustaka Pelajar
Jumlah Halaman: 209