Bhaskara.id – PURWOKERTO, 13 Juni 2026 – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Banyumas Raya menggelar aksi demonstrasi bertajuk “Revolusi Indonesia: Gulingkan Prabowo-Gibran” di depan Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, Sabtu (13/6). Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai membebani masyarakat, terutama terkait kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok.
Massa aksi yang berkumpul di Lapangan Purwanegara kemudian melakukan berbagai orasi dan nyanyian menuju Pendopo Sipanji untuk menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Banyumas. Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan yang menjadi sikap bersama aliansi mahasiswa Banyumas Raya.
Fathan, selaku perangkat aksi dan dinamisator, menyebut jumlah peserta yang terlibat mencapai sekitar seratus orang. Menurutnya, aksi tersebut bertujuan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Bupati Banyumas dan Ketua DPRD Kabupaten Banyumas.
“Kami membawa lima tuntutan utama yang berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat, penggunaan anggaran pemerintah, serta berbagai kebijakan yang dinilai perlu dievaluasi,” ujarnya.
Sementara itu, Setiawan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jendral Soedirman (BEM FH UNSOED) mengatakan bahwa kenaikan harga BBM menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan oleh mahasiswa dan masyarakat. Menurutnya, kenaikan tersebut berdampak pada meningkatnya biaya transportasi serta harga kebutuhan pokok.
“Tuntutan utama kami adalah terkait kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok yang semakin memberatkan masyarakat,” katanya.
Setelah menyampaikan orasi dan tuntutan, perwakilan mahasiswa akhirnya diterima untuk melakukan audiensi dengan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan utama yang menjadi sikap bersama Aliansi Banyumas Raya Marah.
Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Sadewo menyatakan kesediaannya untuk meneruskan tuntutan mahasiswa kepada pemerintah pusat di Jakarta. Pernyataan tersebut mendapat apresiasi dari peserta aksi, meskipun mahasiswa tetap meminta adanya bukti nyata atas komitmen yang disampaikan.
Mahasiswa menegaskan bahwa audiensi dengan pemerintah daerah bukanlah akhir dari perjuangan mereka. Mereka menyatakan akan terus mengawal perkembangan tuntutan yang telah disampaikan dan memantau tindak lanjut dari pemerintah.
“Kami melihat ini baru langkah awal. Jika tuntutan yang kami sampaikan tidak mendapatkan kepastian atau tindak lanjut yang jelas, kemungkinan akan ada aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar,” ujar Setiawan.
Aksi yang berlangsung sejak siang hingga sore hari tersebut berjalan kondusif dengan pengawalan aparat keamanan. Melalui demonstrasi dan audiensi tersebut, mahasiswa berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat serta memberikan respons konkret terhadap berbagai aspirasi yang disampaikan. (LY/BHAS).