Oleh: Afif Fadhullah Azis

Bhaskara.id – Pada suatu ketika teman saya akan melaksanakan sidang skripsi, kami bercerita tentang makna hadirnya seorang teman yang menghadiri sidang skripsinya. “Saya tidak butuh hadiah, yang saya butuhkan hanya kedatangan teman di saat bahagia (sidang skripsi) ini,” kata teman saya.

Setelah berbincang, saya pergi untuk menyelesaikan urusan lain dan kembali setelah teman saya menyelesaikan sidangnya. Ketika hendak duduk, tiba-tiba teman saya menanyakan “mana hadiahnya?”, dengan sedikit kaget saya berpura-pura tenang dan menjawabnya dengan bercanda “lah katanya cukup datang, tidak perlu memberi hadiah”.

Saya sudah berteman dengan teman saya ini bertahun-tahun, saya tahu ketika dia serius atau bercanda. Pada kesempatan kali ini, ia benar-benar serius meminta hadiah namun menggunakan ekspresi bercanda. Kisah kami menimbulkan sebuah pertanyaan tentang ‘Apa makna dari pemberian hadiah/bucket ketika menuju wisuda atau ketika diwisuda?’.

Tahapan yang dilalui mahasiswa menuju wisuda 

Setiap Universitas memiliki kebijakan pelaksanaan seminar proposal, seminar hasil atau sidang skripsi. Di tempat saya berkuliah, untuk dapat memulai seminar proposal atau seminar hasil harus dihadiri minimal sepuluh peserta sedangkan untuk sidang skripsi hanya boleh dihadiri oleh dosen penguji.

Banyak proses yang perlu dilalui untuk mencapai momen-momen tersebut, termasuk ketika membuat propasal dengan meninjau banyak pustaka, mengatur format tulisan di Microsoft Word,  mengamati objek penelitian atau melatih mental untuk berbicara di depan audiens. Tak jarang banyak kesulitan yang harus dihadapi sehingga membutuhkan banyak pertolongan dari teman terdekatnya, bantuan yang diberikanpun harus mengorbankan waktu, tenaga, dan uang bensin secara cuma-cuma.

Momen-momen ini biasanya dibarengi dengan pemberian hadiah oleh teman-teman lainya termasuk teman yang tidak membantu prosesnya. Dengan pemberian hadiah ini si empu-nya merasa senang melebihi senangnya saat dibantu proses skripsi oleh temannya, sehingga ingatanya terpaut pada teman yang memberi hadiah. Bukankah ini terlihat semu?

Aturan ujung-puncak Daniel Kahneman

Daniel Kahneman adalah seorang psikolog yang mendapat nobel penghargaan di bidang ekonomi, karena penelitian tentang psikologinya menciptakan ilmu baru bernama Behavioral Economics. Daniel Kahneman meneliti bagaimana manusia memutuskan sesuatu di dalam kehidupan sehari-harinya.

Terdapat tiga tahap percobaan yang dilakukan olehnya. Tahap pertama, partisipan diminta memasukan salah satu tanganya ke dalam air dingin dengan suhu 14 derajat celcius selama 60 detik. Sedangkan tangan yang lain digunakan untuk menkan tombol alarm jika sewaktu-waktu tangan yang masuk ke dalam air dingin diangkat karena sudah tidak kuat dengan dinginya air. Setelah selesai melakukan tahap pertama partisipan diminta untuk mengkompres tanganya menggunakan handuk hangat untuk menyesuaikan suhu tubuhnya.

Lalu masuk tahap ke dua percobaan. Tahap ke dua hampir sama dengan tahap pertama, perbedaanya adalah pada detik ke 60 suhu air dinaikan menjadi 15 derajat celcius secara perlahan dan waktu ditambah 30 detik. Jadi total waktu percobaan ke dua adalah 90 detik.

Terakhir, partisipan diberitahu bahwa akan ada satu lagi percobaan (yang sebenarnya tidak akan pernah dilakukan). Namun sebelum disuruh untuk melakukan percobaan ke tiga, partisipan diminta untuk memilih percobaan tahap berapa yang paling mereka sukai. Dan percobaan tahap kedua adalah percobaan yang paling banyak partisipan sukai, yaitu sebanyak 70%.

Partisipan memilih percobaan ke-dua karena pada 30 detik terakhir suhu air berubah menjadi hangat meskipun harus menambah waktu siksaan 30 detik (karena suhu 14 dan 15 derajat tidak berbeda jauh). Dari sini Kahneman menyimpulkan bahwa manusia akan lebih menyukai diri yang merasakan daripada diri yang mengingat. Manusia akan mengingat kejadian puncak yang dialami (karena itulah yang terakhir dirasakan), ketimbang proses yang ia rasakan. Inilah yang dinamakan Daniel Kahneman sebagai aturan ujung puncak.

Alasan mengapa hadiah lebih diinginkan

Bagi manusia yang memiliki altruisme tinggi dan tidak mempunyai sumber daya banyak, pikiran yang mucul pertama kali ketika mendengar teman yang sedang melakukan skripsi adalah ‘membantu’. Apapun yang bisa kita bantu maka kita bantu meskipun hanya sebatas mengandalkan tenaga (karena sumber daya yang minim) atau datang ke seminar proposalnya.

Namun, orang yang membantu ketika proses menuju wisuda terkadang tidak diingat ketika si empu-nya diwisuda. Pertanyaan yang selalu muncul adalah “kamu kok tidak datang ke wisudaku?” bukan “terima kasih ya, sudah membantu proses wisudaku”.

Padahal semua orang tahu bahwa membantu satu hari lebih baik daripada wisuda satu hari, karena jika tidak dibantu bisa saja proses wisuda menjadi mulur. Yang seharusnya dapat dikerjakan dalam satu hari, jika tanpa bantuan akan mulur menjadi dua atau tiga hari.

Kenapa mereka lebih mengingat tentang wisuda?

Karena wisuda adalah momen puncak yang menyenangkan dari proses panjang perkuliahan, momen puncak inilah yang akan diingat terus dalam hidup. Coba perhatikan di mana-mana yang selalu dipajang adalah foto-foto ketika wisuda, bukan foto-foto ketika mengambil data atau mencangkul tanah.

Sedangkan pemberian hadiah adalah impuls tambahan untuk sebuah kesenangan yang mereka alami di puncak sehingga orang yang memberi hadiah akan diingat terus-menerus. Dari sini kita tahu bahwa mereka membutuhkan hadiah untuk memenuhi hasrat atau impuls ujung-puncaknya.

Seharusnya mereka yang dibantu proses wisudanya tahu diri. Sudah dibantu malah meminta yang lain, kalo kata orang jawa bilang, “uwis diwenehi ati, malah njaluk jantung”.