
Oleh: Muhammad Lutfi
Najwa Shihab pernah berkata dalam Narasi.tv pada episode ‘Tentukan Sendiri Definisi Cantikmu’ dalam kanal Youtube. “Seorang perempuan dikatakan cantik jika dia memiliki kulit putih, hidung mancung, dagu lancip, pipi tirus, tinggi semampai, dan bertubuh langsing. Kecantikan seolah-olah dimanifestasikan hanya dalam wujud fisik semata dan orang-orang mulai menyesuaikan diri dengan definisi kecantikan yang dibangun tersebut, dan itu tidak bisa kita bantah sedikit pun dengan argumen apa pun.”
Realitasnya, seseorang yang memiliki fisik yang menarik lebih adil hidupnya ketimbang seseorang yang memiliki fisik yang bisa dikatakan biasa saja, tetapi dia memiliki kelebihan di bidang lain. Padahal seyogyanya, agama mana pun tidak pernah menatap kecantikan dari postur tinggi seseorang ataupun warna kulit seseorang.
Berapa banyak wanita yang ingin mencapai kata cantik merelakan kantongnya terkuras, waktunya tersita, pikirannya terbebani, dan orang tuanya dibodohi.
Bahkan karena standar kecantikan berdasarkan realitas yang ada di masyarakat seperti yang telah disebutkan pada awal paragraf, penulis beranggapan hal tersebut menghina martabat manusia sebagai makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan, bahkan melebihi malaikat sekalipun kerap kali jadi bumerang bagi manusia yang tidak memenuhi kriteria kecantikan yang dibuat manusia.
Ketika wanita yang berkulit gelap mengunggah fotonya di medsos, acap kali ada oknum yang mencaci dan menghina dengan lontaran-lontaran kalimat yang tidak manusiawi dan tidak sedikit pula foto wanita yang dijadikan bahan candaan, baik berupa meme, stiker di WhatsApp, dan lain sebagainya yang bertujuan untuk merendahkan.
Mungkin kita semua tertawa dan mungkin pula si wanita pun ikut pura-pura tertawa di depan teman-temannya sebelum akhirnya menumpahkan air mata di dalam kamar. Tidak cuma sebatas itu, bahkan standar kecantikan pun bisa menjadi bumerang bagi wanita yang memiliki fisik sempurna.
Tidak sedikit kasus seksualitas yang terjadi disebabkan oleh adanya oknum-oknum tertentu yang mengunggah fotonya dan menandainya tanpa izin, yang berujung mengganggu kehidupan pribadi wanita itu sendiri. Sampai akhirnya, dicari data-data pribadinya dari alamat rumah, nama orang tua, tanggal lahir, dan sebagainya.
Tidak jarang pula, banyak wanita yang dibuntuti sampai akhirnya dieksekusi entah akhirnya mati ataupun sekedar ingin menjamahi.
Media sosial seakan menjadi momok menakutkan, bagi wanita yang memenuhi standar kecantikan ataupun yang tidak memenuhi standar kecantikan. Bagi yang tidak memenuhi standar kecantikan, kehidupannya selalu dicaci bahkan bentuk tubuhnya selalu jadi bahan tertawaan. Sebaliknya, bagi yang memenuhi standar kecantikan, sering kali terjadi pelanggaran privasi. Banyak yang mengakses fotonya untuk bahan penipuan atau untuk sekedar mencari keuntungan supaya mendapat adsense dan paid promote hingga jutaaan.
Merusak reputasi atau kredibilitas, pelecehan yang berbasis online, entah itu berupa komentar negatif, padahal dia sendiri tidak pernah mengunggah foto atau video pribadinya sendiri, data-data pribadinya bocor yang bisa menjadi senjata untuk ancaman langsung kekerasan seksual ataupun fisik.
Padahal sejatinya cantik sendiri memiliki arti indah dan menarik, betapa kekeliruannya apabila standar kecantikan itu dilihat dari bentuk tubuh yang ideal, warna kulit yang putih, atau tinggi yang semampai. Bahkan sekarang, betapa banyak akun medsos yang seakan mengayak antara orang yang cantik dan tidak cantik.
Sesempit itukah kata cantik di otak kita, padahal sejatinya cantik yang memiliki arti indah dan menarik. Tidak dilihat dari fisik, melainkan dilihat dari hati dan akhlakul karimah yang baik.
sumpah aku sebagai wanita terwakilkan sekali
Dalan konteks tulisan tersebut fokusnya hanya pada eksploitasi kecantikan wanita di media online. Namun ditarik lebih dalam maka akan menemukan kesimpulan bahwa hal tersebut berasosiasi dengan pergudlukingan. Alam bawah sadar manusia cenderung memilih orang-orang gudluking, meskipun alam sadarnya mengatakan bahwa mereka memilih orang yg berkopetensi.
Salah satu alasan kenapa ajang kontes The Voice menghadapkan jurinya ke belakang untuk menyeleksi peserta bukan ke depan karena wajah/postur tubuh bisa mempengaruhi keputusan seseorang.
Di The Voice juri menghadap belakang, setelah juri cocok dengan suara peserta, juri baru memencet tombol tanda sebagai suara peserta bagus dan lolos ke dalam kontes. Sebuah teknik untuk menghindari keputusan yg tidak rasional
Ram Charan dalam bukunya Know How menyarankan supaya orang harus dievaluasi selama 6 bulan untuk dijadikan pemimpin. Karena jika terpilih secara terburu-buru maka para pemilih hanya akan memilih berdasar wajah/penampilan dan akan menghasilkan pemimpin yg buruk. Sebagai contoh adalah kasus Warren Harding Eror dimana Presiden ke 29 Amerika dipilih berdasarkan postur tubuh dan wajah bukan berdasarkan pengetahuan sehingga beliau tidak bisa memimpin dengan baik dan dianggap presiden yg gagal.
Ini berlaku di social media. Gudluking berbanding lurus dengan jumlah follower. Meskipun di beberapa kasus tidak seperti itu, itupun karena orang yg ndak gudluking adalah orang berprestasi.
Pergudlukingan menjadi salah satu alasan kenapa orang-orang yg ndak gudluking harus bekerja lebih keras.
Maka dari itu perlu adanya sosialisasi dan solusi tentang pengetahuan dan akibat pergudlukingan, karena orang cerdas yg tidak gudluking bisa kalah pamor sehingga sistem berjalan dengan buruk.