Oleh: Habibi Khimas A.F

Bhaskara.id – “Setiap orang adalah jenius. Tapi kalau kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka selama hidupnya dia akan mempercayai bahwa dia bodoh,” (Albert Einstein).

Quotes tersebut nampaknya layak disematkan pada dunia pendidikan kita hari ini. Hal ini dirasakan berdasarkan pengalaman penulis ketika duduk di bangku sekolah, baik sekolah dasar, menengah, atas, atau bahkan di perkuliahan sekalipun seperti yang sedang dijalani saat ini.

Sistem pendidikan sekarang memaksa peserta didik untuk menjalankan sebuah kurikulum yang menyeragamkan antara satu dengan yang lainnya. Pengajar cenderung hanya menginformasikan ilmu pengetahuan daripada memerhatikan masalah-masalah yang dialami oleh setiap peserta didiknya.

Padahal, setiap peserta didik memiliki masalah yang berbeda-beda akibat pembelajaran yang monoton itu. Tak jarang pula, setelah kegiatan pembelajaran usai, peserta didik gemar mengeluhkan apa yang baru didapatkannya. Sehingga, peserta didik mengalami tekanan-tekanan akibat tugas yang telah diberikan, presensi yang memaksa, dan keinginan yang tak dapat dipenuhi dari pendidikan.

Hal tersebut berdampak pada pola pikir peserta didik dan akan terus berjalan secara turun temurun. Adapun karakter peserta didik yang secara tidak sadar akan terbunuh melalui pembelajaran.

Bagaimana mungkin peserta didik dapat mengenali perannya, jika wadah untuk berekspresi tak difasilitasi. Secara tidak sadar, mereka dipaksa oleh sistem untuk menaati peraturan yang sudah diberlakukan, dan tidak dapat diganggu gugat. Bilamana peserta didik melanggar peraturan itu, ia akan mendapat sebuah labeling dari pihak sekolah. Tetapi, pihak sekolah tak mau tau akan persoalan yang dialami oleh peserta didik.

Pengajar tak ubahnya berperan sebagai subjek yang hanya memberi informasi pengetahuan, sedangkan murid sebagai objek untuk menanam modal ilmu pengetahuan, yang diharap dikemudian hari dapat berlipat ganda.

Secara tidak langsung, pola ini telah terjadi secara turun-temurun dinegara kita. Dari peserta didik menjadi pendidik dan dilanjut oleh peserta didik, hingga terus-menerus berputar. Paulo Freire menyebutnya sebagai sistem pendidikan gaya bank.

Pendidikan di era sekarang lebih terfokus kepada industri. Sehingga, hasil dari sebuah pendidikan mengacu pada pemahaman bahwa pendidikan adalah sebuah sarana untuk mencari pekerjaan. Bahkan pendidikan agama islam juga mulai terisolasi dari dunia pendidikan itu sendiri. Padahal, pendidikan tersebut sangat penting, karena menyangkut permasalahan asupan rohani. Bukan hanya pendidikan agama islam saja, ilmu budaya, sosial juga akan tergerus seiring berkembangnya zaman yang terpusat pada industri.

Pendidikan yang mengarah terhadap industri akan menjadikan manusia terpatri pada pekerjaan. Peran manusia sesungguhnya bukan mengarah pada hal tersebut. Secara garis besar, manusia memiliki hakikat sebagai makhluk sosial.

Konteks pendidikan tersebut mematahkan manusia sebagai makhluk sosial. Konteks itu lebih mengacu pada sistem pendidikan gaya bank dimana peserta didik hanya diberi modal ilmu pengetahuan serta dijadikan objek oleh pendidikan tersebut.

Objek akan menjadikan peserta didik mempelajari ilmu pengetahuan teoritis yang tidak berkesadaran. Sementara guru sebagai subjek dari sebuah pendidikan, hanya memberi ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, pendidikan menjadi bersifat negatif dari sebuah teori yang wajib diingat dan dihafalkan.

Karakter manusia secara tidak langsung ditindas oleh sistem pendidikan. Akibatnya, peran manusia sebagai makhluk sosial berubah layaknya peran robot yang hanya bekerja dan dikendalikan.

Keadaan ini menutup manusia dari kebebasan berekspresi yang akan cenderung fokus pada kepentingan individual maupun segelintir golongan. Padahal, manusia sebenarnya dapat mengenali jati dirinya dari bentuk imajinasi-imajinasi yang menghasilkan kreatifitas dan inovasi.

Masyarakat yang tidak memiliki kesadaran mengenai hak-hak mereka secara terpaksa akan mengikuti arus dan menjadi alat produksi dari sistem pendidikan yang telah dibuat untuk mematikan daya nalar dan kritis. Sehingga, masyarakat tersebut menjadi sekelompok kaum yang tertindas akan hak-haknya yang dirampas, tujuan dari sistem pendidikan gaya bank mematri manusia untuk bersikap apatis terhadap aspek kehidupannya.

Sistem pendidikan gaya bank memaksa manusia menaati apa yang telah ditetapkan. Secara tidak langsung, pola tersebut menyihir manusia untuk selalu mengangguk dan mengikuti tata aturan yang menjadi parameter kesuksesan berupa pekerjaan.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Gary Vaynerchuk, seorang pengusaha yang namanya cukup dikenal, “Saya tidak gagal di sekolah. Tapi, sekolah yang menggagalkan saya. Sekolah menggagalkan pembisnis setiap hari. Karena sekolah bukan dibuat untuk pembisnis, tapi dibuat untuk pekerja”.

Akar persoalan tersebut berdampak pada sikap manusia yang semula makhluk sosial menjadi bersikap individualis. Manusia akan berfikir bahwa hidup hanya untuk mencari pekerjaan dan pekerjaan yang layak menjadi parameter kesuksesan. Dampak ini sangat buruk bagi moral manusia, dimana kepentingan lebih utama dari kemanusiaan.

Buah dari pendidikan tersebut dominan meghasilkan sikap amoral berupa korupsi, kolusi, nepotisme yang akan menindas minoritas dan meruntuhkan negara. Termasuk negara kita yang menggunakan sistem gaya bank, telah nyata apa yang terpampang dan berlarut-larut masalah tak pernah surut.

Padahal, pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Manusia dan pendidikan seyogyanya bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Bentuk dari padanya adalah sebuah keharusan untuk dimiliki dan didapatkan manusia, agar tercipta manusia yang memanusiakan manusia.

Pendidikan adalah proses hidup manusia untuk beretika, bermoral, dan menjalankan aktivitas kebudayaan. Proses ini berlangsung dari lahir sampai akhir hayat, dimana manusia selalu dikelilingi oleh ilmu melalui pendidikan.