Karya: Iffa Widiyani
Pendahuluan
Bhaskara.id – Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin banyak dialami oleh remaja seiring dengan pesatnya perkembangan media sosial dan teknologi digital. Remaja berada pada fase perkembangan yang ditandai dengan kebutuhan besar untuk diterima oleh lingkungan dan keinginan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok sosial. Kondisi ini sering dianggap sebagai hal biasa dalam pergaulan remaja, padahal FOMO dapat memengaruhi kesehatan emosional, konsentrasi belajar, serta cara remaja menilai dirinya sendiri. Oleh karena itu, isu FOMO pada remaja penting untuk dibahas agar dapat dipahami penyebab, dampak, serta cara menyikapinya secara lebih bijak di tengah kehidupan digital saat ini.
Selain menjadi alat komunikasi yang banyak digunakan oleh kalangan remaja, media sosial juga berperan sebagai sarana untuk kalangan remaja dapat berkembang dan juga mencari jati dirinya. Remaja lahir dan tumbuh pada era informasi dan digital berkembang dengan pesat oleh karena itu penerimaan serta literasi terhadap media sosial lebih mudah diterima oleh remaja. Namun penggunaan media sosial tidak selalu memiliki dampak yang positif, sebaliknya media sosial juga dapat memberikan dampak negatif terhadap psikologis remaja seperti munculnya perilaku bermasalah dan kecanduan terhadap media sosial.
Dengan media sosial pengguna dapat merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, dan berkomunikasi dengan pengguna lain membentuk ikatan sosial secara virtual. Namun hal tersebut dapat berubah menjadi kegelisahan ketika mereka mengecek media sosialnya dan melihat berbagai keseruan yang sedang dilakukan oleh teman-teman mereka. Hal tersebut membuat mereka tidak bisa untuk berhenti memantau aktivitas orang lain di media sosial, keadaan seperti itu disebut dengan Fear of Missing Out (FOMO).
Tujuan dari pembahasan topik ini adalah untuk memahami kondisi psikologis yang sering dialami remaja di era modern, khususnya yang berkaitan dengan kecenderungan berpikir berlebihan seperti overthinking atau rasa takut tertinggal (FOMO). Selain itu, pembahasan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kondisi tersebut dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari remaja, baik dalam aspek belajar, interaksi sosial, maupun perkembangan diri. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan remaja dapat lebih sadar terhadap keadaan mentalnya serta mampu mengelola pikiran dan emosinya dengan lebih baik agar tidak menghambat potensi dan produktivitas mereka.
Isi
Remaja adalah fase perkembangan dalam kehidupan manusia yang merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada tahap ini, individu mengalami berbagai perubahan yang signifikan, baik secara fisik, emosional, kognitif, maupun sosial. Secara fisik, remaja mengalami masa pubertas yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang cepat dan perubahan pada ciri-ciri biologis. Dari segi emosional, remaja cenderung memiliki perasaan yang lebih sensitif dan suasana hati yang mudah berubah. Dalam aspek kognitif, kemampuan berpikir mulai berkembang menjadi lebih logis dan abstrak, meskipun pengambilan keputusan sering kali masih dipengaruhi oleh emosi. Sementara itu, secara sosial remaja mulai membangun hubungan yang lebih luas dengan teman sebaya, berusaha mendapatkan pengakuan dari lingkungan, serta mulai menunjukkan kemandirian dari orang tua. Oleh karena itu, masa remaja sering disebut sebagai masa pencarian jati diri karena individu sedang membentuk identitas dan arah hidupnya di masa depan.
FOMO (Przybylski, Murayama, Dehaan, & Gladwell, 2013) sebenarnya merupakan sebuah ketakutan dan kecemasan dari seseorang yang merasa bahwa akan ada sebuah kejadian menarik dan menyenangkan yang akan terjadi di suatu tempat, sehingga menimbulkan keinginan kompulsif dari orang tersebut untuk mengharuskan dirinya berada dilokasi dan ikut mengalami kejadian yang ada disana. FOMO tidak termotivasi dari apa yang akan didapatkan namun dari apa yang mungkin
akan terlewatkan dari lingkungan sekitar. FOMO merupakan fenomena yang sedang berkembang dan merupakan faktor yang individu ini mengeluarkan uang lebih banyak dan maraknya aplikasi sosial. Seperti yang disebutkan sebelumnya remaja ingin memenuhi kebutuhan emosional mereka sehingga mereka menyerah pada tekanan sosial meskipun mereka tidak memiliki uang yang cukup.
Bukan hanya perkembangan media sosial yang menjadi faktor pemicu munculnya perilaku FOMO, banyak faktor lain diantaranya adalah tidak terpenuhinya kebutuhan psikologis akan relatedness atau penerimaan dari orang lain, tidak terpenuhinya kebutuhan psikologi akan self (kompetensi dan otonomi), perilaku membandingkan diri dengan orang lain, fitur hashtag atau tren media sosial, kepercayaan diri dan pola interaksi sosial di kehidupan nyata. Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa FOMO bukan hanya sekadar fenomena psikologis individu, tetapi juga merupakan dampak dari perkembangan teknologi dan budaya digital. Kondisi ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri, kesehatan mental, dan pola interaksi sosial seseorang di kehidupan nyata.
Adapun dampak dari perilaku FOMO sebagai berikut:
a. Dampak Psikologis
Gen Z yang mengalami FOMO cenderung mengalami kecemasan sosial, gangguan tidur, dan tingkat stres yang lebih tinggi.
b. Dampak Sosial
Penggunaan media sosial yang berlebihan menyebabkan kurangnya interaksi sosial langsung dan menurunnya keterampilan komunikasi interpersonal.
c. Dampak Akademik
FOMO juga berdampak pada penurunan fokus belajar dan produktivitas akademik akibat gangguan dari media social.
d. Dampak Finansial
FOMO memiliki dampak besar pada finansial seseorang seperti perilaku konsumtif, perilaku berhutang dan kesulitan untuk menabung.
Perilaku FOMO dapat diatasi dengan pemulihan, berikut adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku FOMO
a. Percaya diri terhadap keunggulan diri sendiri
Setiap individu pasti memiliki keunggulan dalam dirinya oleh karena itu kita tidak perlu mengikuti standar orang lain agar dapat merasa diterima, ada banyak hal atau kegiatan yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan value diri seseorang.
b. Membatasi pemakaian media sosial dan perangkat gadget
Salah satu sumber utama FOMO adalah media sosial, yang dapat memengaruhi pikiran dan perasaan kita tentang orang lain dan sering kali membuat kita merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Dipercaya bahwa mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial akan mengurangi kecemasan yang ditimbulkannya, sehingga kita dapat lebih memperhatikan lingkungan sekitar dan diri kita sendiri.
c. Membangun hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang harus terus membangun ikatan sosial dan menjaga silaturrahim melalui percakapan atau kunjungan (ittaqul arham). Interaksi langsung dengan orang lain di dunia nyata dapat membantu kita mengatasi pengalaman FOMO. Kita harus berkonsentrasi pada pengembangan jaringan sosial kita daripada terus-menerus menilai diri kita sendiri terhadap orang lain secara daring. Bergaul secara langsung memungkinkan kita untuk lebih memahami pengalaman dan perasaan orang lain yang tidak terlihat di media sosial. Dengan cara ini, kita dapat menjadi lebih bijaksana dan tidak mudah merasa iri terhadap kehidupan orang lain.
Kesimpulan
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) merupakan kondisi psikologis yang semakin sering dialami remaja di tengah perkembangan media sosial dan teknologi digital yang pesat. Pada masa remaja, individu berada dalam tahap pencarian jati diri serta memiliki kebutuhan besar untuk diterima oleh lingkungan sosialnya. Kondisi tersebut membuat remaja lebih rentan merasa cemas atau takut tertinggal ketika melihat pengalaman orang lain yang tampak lebih menarik melalui media sosial.
FOMO tidak hanya berdampak pada perasaan sesaat, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan remaja. Dari sisi psikologis, FOMO dapat meningkatkan kecemasan, stres, dan menurunkan kepercayaan diri. Dari sisi sosial, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengurangi interaksi langsung dan melemahkan keterampilan komunikasi interpersonal. Selain itu, FOMO juga berdampak pada akademik karena menurunkan fokus belajar, serta dapat mendorong perilaku konsumtif yang berpengaruh pada kondisi finansial remaja.
Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memiliki kesadaran dalam mengelola penggunaan media sosial dan membangun rasa percaya diri terhadap diri sendiri. Dukungan dari lingkungan sekitar serta upaya memperkuat hubungan sosial di dunia nyata juga diperlukan agar remaja tidak terjebak dalam tekanan sosial di dunia digital. Dengan pengelolaan yang baik, remaja dapat terhindar dari dampak negatif FOMO dan mampu berkembang secara lebih sehat, baik secara mental, sosial, maupun akademik.
Referensi
Akbar, R. S., Aulya, A., Psari, A. A., & Sofia, L. (2019). Ketakutan akan kehilangan momen (FoMO) pada remaja kota Samarinda. Psikostudia J. Psikol, 7(2), 38.
Hidayati, Y., & Nasution, M. I. P.(2025). Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di Era Digital: Studi tentang Dampaknya pada Gen Z. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(3), 1218–1228.
Komariah, K., Tayo, Y., & Utamidewi, W. (2022). Pengaruh Penggunaan Jejaring Sosial Terhadap Perilaku Fear of Missing Out (FoMO) pada Remaja. NUSANTARA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 9(9), 3463-3471.
Siregar, E., Gismin, S. S., & Nurhikmah, N. (2023). Gambaran Fear of Missing Out (FOMO) Pada Remaja di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 3(1), 236-241.