Bhaskara.id ‐ Gelombang unjuk rasa terus dilakukan di berbagai daerah untuk menyuarakan Keputusan Baleg Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membahas Revisi Undang-Undang Pilkada. Ribuan mahasiswa bersama Masyarakat mulai turun kejalan melaksanakan aksi protes dimulai pada 22 Agustus 2024.
Sementara itu, unjuk rasa juga terjadi di wilayah Purwokerto yang diikuti ratusan mahasiswa perguruan tinggi mulai dari Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (AMIKOM) Purwokerto, UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri, Institut Teknologi Telkom Purwokerto, IMM Purwokerto, GMNI, dan PMII.
Unjuk rasa dimulai di depan Gedung DPRD Banyumas pada Jumat, 23 Agustus 2024 pukul 16.00 WIB, diperkirakan jumlah massa mencapai kurang lebih 500 mahasiswa. Ferdi Tri Sasongko selaku koordinator lapangan UMP mengungkapkan tujuan dari adanya aksi hari ini adalah pembahasaan putusan MK, 10 tahun masa kepemimpinan Jokowi, dan keadaan Indonesia yang darurat demokrasi.
“Aksi ini sebagai langkah awal pertama kita untuk Gerakan Gerakan yang membawahi nama mahasiswa apalagi di generasi gen Z ini kita bisa mengembarakan aksi-aksi reformasi yang dulu redam. Dan mungkin dengan adanya generasi baru kita bisa melakukan aksi-aksi yang jauh lebih besar kepada pemerintah untuk lebih bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya,” ujar Ferdi.
Sementara itu, aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Purwokerto in berujung pada kericuhan dan tindakan represi yang dilakukan oleh aparat kepolisian untuk memukul mundur mahasiswa. Akibatnya, banyak mahasiswa yang mengalami luka dibagian kepala, kening, pelipis, kaki, dan tangan.
Arkan, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman mengungkapkan rasa kecewanya terhadap tindakan yang dilakukan oleh aparat kepolisian pada saat demo berlangsung. Ia merasa sosok polisi yang harusnya menjadi pelindung malah menjadi momok yang menakutkan untuk masyarakat.
“Sangat disayangkan dimana aparat-aparat yang seharusnya mengayomi masyarakat malah menjadi sosok yang menakutkan untuk masyarakat itu sendiri. Pergerakan mahasiswa sejatinya menurut kami adalah pergerakan untuk masyarakat, tapi banyak kawan-kawan kita, termasuk saya dan kita semua mendapatkan tindakan yang tidak mengenakan bahkan sampai melukai fisik dan psikis. Sangat disayangkan,” jelas Arkan. – LY