Antrian panjang saat hendak keluar melalui palang pintu otomatis Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Rabu (11/09).

Sudah 3 bulan lamanya palang pintu otomatis berlaku, berawal dari tahap uji coba yang berlangsung pada bulan Agustus, dan diberlakukan secara efektif pada bulan September. Teknisnya mahasiswa, dosen, karyawan serta masyarakat umum masuk dengan menekan tombol di sistem yang disediakan kemudian keluarlah karcis, karcis tersebut tidak boleh hilang, dan juga harus diberikan kepada petugas ketika pengendara hendak keluar. Karcis yang diberikan-pun tidak boleh berbeda dengan karcis ketika kita masuk, karena nomor plat kendaraan sudah terekam di sistem tersebut dengan menggunakan karcis tersebut. Sehingga sulit bagi pencuri untuk memanipulasi atau mencuri sepeda motor, karena harus ada keselarasan antara motor dengan karcis.

Priyono selaku koordinator satpam UMP pernah menyatakan kekesalannya karena pada waktu yang lalu telah terjadi pencurian sepeda motor, sehingga dia tidak ingin terjadi kasus pencurian sepeda motor lagi. “Saya berharap dengan diberlakukannya palang pintu otomatis ini dapat memperketat sistem keamanan kita” ujar Priyono.

Semenjak diberlakukannya palang pintu otomatis, memang benar tidak dijumpai kasus kehilangan motor, dan mahasiswa-pun merasa lebih aman. Seperti yang diungkapkan oleh Tyas selaku mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, “Dengan diberlakukannya palang pintu otomatis, kampus sekarang lebih aman dan tidak ada motor yang hilang lagi”.

Tetapi terdapat beberapa kendala yang disebabkan oleh palang pintu otomatis, yaitu antrian yang panjang. Priyono mengungkapkan hal tersebut terjadi karena keterbatasan palang pintu otomatis yang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa atau para pengendara yang masuk dan keluar. Universitas Muhammadiyah Purwokerto tercatat baru memiliki 3 palang pintu otomatis untuk masuk dan 3 palang pintu otomatis untuk keluar.

“Sementara memang baru terdapat beberapa palang pintu otomatis terlebih dahulu, karena juga memperhatikan aspek wilayah UMP, dan ketika pembangunan gedung 10 lantai itu selesai, maka kemungkinan akan diadakan perluasan palang pintu otomatis dengan menambah slot palang pintu otomatis. Sehingga diharapkan nantinya bisa meminimalisirkan adanya kemacetan.” ungkap Priyono

 “Hari pertama kuliah memang terjadi macet, lalu kami benahi dan evaluasi, hal yang paling mendasar adalah karena gate palang pintu otomatisnya kurang, tetapi akhirnya kami antisipasi macet tersebut menggunakan kartu parkir serta karcis” ungkap Priyono.

Sebelumnya Priyono juga pernah mengatakan bahwa ketika hendak masuk dan keluar melalui palang pintu otomatis harus menggunakan KTM sehingga mahasiswa hanya perlu menempelkan kartu itu di sistem tersebut dan karyawan menggunakan ID Card nya, barulah masyarakat umum yang menggunakan karcis. Tetapi hingga saat ini, hal tersebut belum terealisasikan karena prosesnya lama, dan harus memindai sekian ribu kartu terlebih dahulu agar bisa mensinkronkan dengan sistem tersebut. Priyono juga berharap bagi para pengendara agar bersabar untuk antri, karena banyak ditemui para pengendara yang terburu-buru.

Selain itu, Tyas juga memberikan masukan bagi pihak kampus agar bisa mengatasi antrian panjang terutama pada pukul 07:00 pagi. Lalu pihak koordinator satpam UMP menjelaskan bahwa ketika antrian sudah terlihat panjang, maka para satpam berinisiatif untuk membuka semua get palang pintu untuk masuk dan membagikan kartu parkir kepada para pengendara dengan dalih apabila hanya menggunakan karcis saja untuk masuk maka akan memakan waktu lama dan bisa menimbulkan antrian yang melonjak, tetapi dengan dibantu menggunakan kartu parkir dan membuat slot baru bagi para pengendara motor, hal itu dapat menjadi solusi ketika antrian sudah panjang.(RT/Bhaskara)