
Oleh: Huti Ulvatiani
Judul : Hidden Figures
Produser : Donna Gigliotti, Peter Chernin, Jenno Topping, Pharrell Williams dan Theodore Melfi
Durasi Film : 127 Menit
Tanggal Rilis : 10 Desember 2016
Sutradara : Theodore Melfi
Penulis Skenario : Allison Schroedaer dan Theodore Melfi
Negara : Amerika Serikat
Adaptasi dari : Buku Hidden Figures oleh Margot Lee Shetterly
Bhaskara.id – Film Hidden Figures menceritakan tentang tiga perempuan berkulit hitam yang saat itu menjadi kaum minoritas di Amerika Serikat (AS). Mereka adalah Mary Jackson (Janelle Monae), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), dan Katharine Goble (Taraji P. Henson). Mary Jackson adalah seorang teknisi yang pernah ditolak oleh NASA, kecuali apabila dia berhasil lulus di pendidikan tinggi bagi kulit putih. Dorothy yang memiliki peran sebagai pelaksana tugas supervisor atau pengawas dari area barat selalu tidak berhasil dalam memperoleh jabatannya secara permanen karena alasan warna kulitnya.
Sementara, Katherine Goble menjadi tokoh sentral dari film Hidden Figures. Saat AS berpacu melawan Rusia untuk mengirim seorang pria ke luar angkasa, NASA menemukan bakat yang belum dimanfaatkan dari ketiga wanita matematikawan keturunan Afrika-Amerika itu. Mereka bekerja sebagai otak di balik salah satu operasi terbesar dalam sejarah AS. Berdasarkan kisah kehidupan nyata yang luar biasa dari ketiga wanita yang dikenal sebagai “manusia komputer” ini, film Hidden Figures mengikuti kisah Mary, Dorothy, dan Katherine saat mereka dengan cepat naik pangkat di NASA bersama banyak pemikir terhebat dalam sejarah. Ketiganya secara khusus ditugaskan untuk menghitung peluncuran penting seorang astronot—John Glenn (Glen Powell)—ke orbit dan menjamin kepulangannya dengan selamat. Dorothy, Mary, dan Katherine Gobels melintasi semua jenis kelamin, ras, serta garis profesional. Sementara, kecerdasan dan keinginan mereka berhasil mendapatkan mimpi besar yang melampaui apapun yang belum pernah dicapai sebelumnya oleh umat manusia. Perjuangan dan dedikasi yang mereka berikan dengan kuat mengokohkan ketiganya dalam sejarah AS sebagai pahlawan Amerika sejati.
Film Hidden Figures sangat berbeda dengan film-film lain buatan Amerika. Adegan yang diperankan oleh para tokoh sangat menjiwai dan latar pada film tersebut dibuat benar-benar senyata mungkin agar penonton merasakan yang sebenarnya terjadi. Warna kulit yang menjadi isi utama film ini mampu membuat penonton ikut merasakan bagaimana kegigihan, keberanian, dan semangat juang yang tinggi dalam menggapai impian oleh tiga matematikawan itu.
Awalnya, mereka bekerja di sebuah tempat di area barat yang dikhususkan untuk orang-orang berkulit hitam. Tak dapat dipungkiri, kecerdasan dari Mary Jackson, Dorothy Vaughan, dan Katharine Goble yang ahli dalam ilmu matematika membawa mereka pada sebuah kesempatan yang luar biasa dan mereka mulai dikenal banyak orang karena kecerdasannya padahal NASA dikhususkan bagi pekerja berkulit putih saja serta lulusan dari perguruan tinggi kulit putih pada saat itu.
Namun dengan kecerdasan dan ketelitiannya, Katherine Goble bisa masuk di NASA. Ia bisa bekerja sama di sana karena NASA sedang membutuhkan seseorang yang cerdas juga teliti untuk bisa menghitung ketepatan orbit serta dapat membawa angkasawan pulang ke bumi dengan selamat pada saat itu.
Awalnya, Katherine Goble sangat dikucilkan karena warna kulit yang dimilikinya. Untuk minum saja, ada perbedaan antara kulit putih dan kulit hitam. Di tengah-tengah dirinya bekerja di NASA, Katherine Goble selalu kurang nyaman apalagi saat dirinya ingin menggunakan toilet bahkan toilet di NASA hanya dikhususkan bagi wanita berkulit putih saja. Oleh karena itu, Katherine Goble harus berjalan sepanjang beberapa meter untuk bisa memakai toilet dengan membawa tumpukan berkas pekerjaan yang harus dikerjakannya.
Di samping itu, Dorothy Vaughan tetap berada di komputasi area barat sebagai pelaksana tugas pengawas. Di sana, ia juga sedang mengajukan permohonan untuk menjadi pengawas tetap yang belum ia dapatkan karena warna kulit yang dimilikinya pula. Mary Jackson, ia adalah seorang teknisi yang pernah ditolak oleh NASA, kecuali apabila dia berhasil lulus di pendidikan tinggi bagi kulit putih. Demi keinginannya itu, ia mengajukan permasalahan tersebut ke pengadilan dan memperjuangkan permohonan kepada hakim tentang keinginannya untuk mengenyam pendidikan tinggi bagi kulit putih. Sampai akhirnya, ia mendapatkan kesempatan untuk mengenyam ilmu di perguruan tinggi yang dominan kulit putih dengan jadwal malam hari.
Setelah banyak perjuangan dan pengorbanan ketiga matematikawan itu, mereka membuahkan hasil. Dari perjuangan Katherine Goble yang berani membuat perbedaan perilaku antara yang berkulit putih dan hitam, sudah tidak ada lagi perbedaan perilaku tersebut bahkan ketua pemimpin NASA sendiri yang menyetarakan toilet untuk semua jenis kulit. Pada akhirnya, ia tetap bekerja di NASA untuk misi Apollo 11 ke bulan dan Kapsul Angkasa Luar. Pada usia 97 tahun, Katherine menerima penghargaan Medali Kemerdekaan Presiden.
Sementara, Dorothy Vaughan mendapatkan tugas barunya di NASA untuk menjadi pengawas di LAB Komputasi IBM NASA dan membawa serta anggota komputasi area barat untuk ikut bergabung yang berdominan kulit hitam itu. Selain itu, Mary Jackson lulus dari pendidikan tingginya. Ia menjadi staf NASA dan teknisi Aeronautika Wanita Afrika-Amerika pertama dan manajer wanita Langley—tempat dia memperjuangkan wanita semua warna kulit.
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari film ini ialah kegigihan wanita minoritas yang cerdas dan memiliki pengaruh besar bagi Amerika pada saat itu. Penyetaraan warna kulit yang sangat dijunjung tinggi oleh warga di sana membuktikan bahwa wanita kulit hitam pun punya hak untuk berjuang, memberikan dedikasi, dan mengabdi untuk negeri. Film ini sangat memukau dan terkenal pada masanya karena film ini berkisah nyata tentang kejayaan Amerika yang berhasil menerbangkan roket ke angkasa dan mengirimkan astronot sampai ke bulan berkat kegigihan 3 wanita berkulit hitam. Itulah teladan yang patut diapresiasi dari kerja keras mereka selama itu.