
(Ilustrator : Divisi Kreatif LPM Bhaskara)
Bhaskara.id- Pembayaran SPP di Universitas Muhammadiyah Purwokerto untuk paruh pertama tahun ajaran baru sedang berlangsung. Saat ini, beberapa mahasiswa telah melakukan pembayaran sebelum tenggat waktu berakhir pada 20 Agustus 2021. Namun, nominal pembayaran belum berubah atau masih sama dengan jumlah saat sebelum pandemi berlangsung. Banyak mahasiswa mengeluh karena tidak ada perubahan pada nominal pembayaran atau tidak ada pemotongan SPP sebagai bantuan dari pihak universitas.
Sempat mengalami perubahan di hari pertama pembayaran tanggal 2 Agustus 2021, nominal pembayaran kembali ke semula tanggal 3 Agustus 2021. Perubahan yang terjadi pada nominal pembayaran hanya berselang satu hari dan menimbulkan pertanyaan dari pihak mahasiswa. Walaupun ada kemungkinan nominal kembali berubah, nominal pembayaran tak kunjung berubah lagi hingga tanggal 13 Agustus 2021.
Di masa PPKM yang terus berlangsung, menyebabkan perekonomian masing-masing mahasiswa mengalami penurunan. Akan tetapi, mereka tetap harus melakukan pembayaran SPP penuh walaupun tidak menggunakan fasilitas yang ada tanpa mendapatkan bantuan dari pihak universitas.
Hamzah, mahasiswa FKIP yang pernah mendapatkan bantuan pada saat pembayaran semester sebelumnya, menuturkan kalau ia belum mengetahui ada atau tidaknya bantuan seperti itu lagi untuk semester ganjil. “Untuk semester ini, belum mendengar akan ada potongan,” tuturnya saat ditemui melalui sambungan chat Whatsapp (13/08). Menurutnya, bantuan saat pandemi sangat diperlukan apalagi di masa PPKM berkepanjangan dan berdampak langsung pada turunnya perekonomian.
Hamzah juga menambahkan kalau pihak universitas seharusnya lebih peduli terhadap mahasiswa tanpa harus bersuara terlebih dahulu. “Hampir semua terkena dampaknya, termasuk orang tua yang membiayai kita,” tambahnya.
Hamzah berharap bahwa pihak mahasiswa dan universitas dapat berjalan bersama-sama dan saling mengontrol terhadap keduanya. Hal tersebut dilakukan karena kedua pihak itu jelas saling membutuhkan, baik dalam keberlangsungan akademik maupun kemahasiswaan yang membutuhkan tingkat komunikasi yang intens. Hamzah juga menjelaskan pihak universitas harusnya lebih peka terhadap permasalahan sebenarnya yang dialami oleh mahasiswa.
Sama halnya dengan yang terjadi pada Hamzah, Zalfa Sakila—mahasiswa Fakultas Teknik Angkatan 2019—tidak tahu akan ada lagi potongan SPP seperti semester sebelumnya. Menurut Zalfa, bantuan pemotongan SPP sangat diperlukan. “Mengingat sekarang sedang dalam masa PPKM yang menyebabkan banyak orang-orang yang terdampak dari segi finansial, jadi sangat diperlukan,” tambah Zalfa.
Zalfa menuturkan untuk hal ini harus ada komunikasi dari kedua belah pihak yang sama-sama terdampak PPKM dan pihak universitas dapat mendengarkan aspirasi mahasiswa serta apa yang mahasiswa butuhkan. “Saya harap pihak universitas lebih mendengarkan aspirasi kita sebagai mahasiswa,” tutur Zalfa.
Menindaklanjuti hal ini, sebelumnya pada Jumat (30/7), Aman Suyadi yang sempat ditemui melalui sambungan telepon Whatsapp menjelaskan perihal pemotongan atau bantuan akan dibicarakan lebih lanjut dengan pimpinan saat rapat pimpinan mingguan dan akan menyampaikan keputusan lanjut.
Akan tetapi, hingga masa pembayaran SPP berlangsung, masih belum ada jawaban pasti dari rapat pimpinan Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang dilakukan setiap minggu. Hal ini dikonfirmasi dengan jawaban Jebul Suroso (13/8) saat dimintai wawancara melalui pesan chat Whatsapp yang mengatakan belum merapatkan hal tersebut. (CH/Bhas)