Bhaskara.id – Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebagai institusi pendidikan melakukan sistem perkuliahan secara hybrid di tengah pandemi. Perkuliahan yang diadakan dengan menggabungkan sistem tatap muka dan sistem daring secara bersamaan telah dimulai sejak April 2021.

Nabila Salma Kirana, mahasiswa Teknik Informatika angkatan 2019, memilih perkuliahan hybrid secara offline. “Jujur, kalau online, agak susah fokus karena di rumah sambil bantu orang tua,” keluh Nabila.

Menurut Nabila, pemahaman yang didapatkan antara perkuliahan secara online dengan perkuliahan secara offline itu berbeda. “Karena kalau kuliah secara offline jika ada hal yang ingin ditanyakan, ada dosen yang siap menjawab tanpa harus terganggu sinyal yang kurang stabil atau saat tiba-tiba orang tua memanggil,” ujar Nabila.

Nabila juga mengharapkan dapat menerima bantuan seperti kuota yang masih diperlukan walaupun dia mengikuti perkuliahan hybrid secara offline. “Karena kita kuliah harus mengakses internet, jadi otomatis butuh kuota,” ungkapnya.

Menurut Nabila, bantuan yang diberikan seharusnya tidak hanya dalam bentuk kuota, melainkan dalam bentuk pemotongan SPP karena beberapa semester terdahulu bantuan selalu diberikan dengan jumlah yang bervariasi. Namun, untuk semester ini, Nabila tidak mengetahui apakah bantuan seperti itu masih ada dengan berlakunya perkuliahan hybrid.

Berbeda dengan Nabila, Achmad Syamsudduha, mahasiswa Fakultas Hukum asal Cilacap, terpaksa mengikuti perkuliahan hybrid secara online karena tidak memenuhi persyaratan yaitu jarak dari rumah ke universitas yang terlalu jauh.

Alasan Achmad memilih perkuliahan hybrid secara online adalah fleksibilitas dalam mengakses perkuliahan online serta tidak membutuhkan usaha lebih untuk jauh-jauh pergi ke kampus dan mengikuti perkuliahan karena jarak rumahnya dengan kampus yang terbilang jauh.

Namun, Achmad sama seperti Nabila yang tidak mengetahui akan adanya bantuan dari pihak universitas. “Saya harap akan ada pemotongan atau setidaknya bantuan kuota yang dapat meringankan beban mahasiswa saat pandemi di mana masalah ekonomi menjadi sangat krusial,” ungkapnya.

Sama seperti semester sebelumnya, Achmad mendapatkan dua kali bantuan kuota internet dari pihak kampus untuk membantunya dalam melakukan perkuliahan secara online. Achmad menegaskan salah satu alternatif yang dapat digunakan dengan adanya pemotongan SPP untuk biaya bantuan kuota.

Pada Jumat (30/7),  Aman Suyadi yang dapat ditemui melalui sambungan telepon Whatsapp menjelaskan saat ditanya mengenai hal tersebut dan belum ada rancangan ke depan mengenai bantuan ataupun pemotongan SPP untuk kuota internet seperti semester sebelumnya.

Menimbang semester sebelumnya, mahasiswa mendapatkan sekitar Rp200.000 untuk pemotongan SPP dengan tujuan untuk bantuan kuota, tetapi sampai saat ini belum ada putusan atau wacana lebih lanjut mengenai hal tersebut, sedangkan seperti yang kita ketahui pembayaran uang kuliah akan dimulai di awal Agustus nanti.

Aman menjelaskan perihal pemotongan atau bantuan akan dibicarakan lebih lanjut melalui rapat pimpinan mingguan. “Belum ada keputusan, nanti ada rapat pimpinan yang membahas itu lagi. Tapi, sampai sekarang belum ada keputusan lagi apakah akan diteruskan pemotongannya yang 200 ribu. Nanti kalau sudah ada keputusan saya sampaikan,” tegas Aman.

Aman juga menambahkan masalah bantuan kuota untuk mahasiswa yang mengikuti perkuliahan hybrid secara offline akan dipertimbangkan saat rapat pimpinan nantinya dan menunggu hasil rapat tersebut. (CH/Bhas)