Ilustrasi: wahyu

 

 
 
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dihebohkan dengan penyebaran status whatsapp yang menggunakan kata-kata seperti film “Dilan 1990”. Kalimat, “jangan kuliah di ump, mahal. Ini berat. Biar aku saja. (Dahlan 2018)” sempat viral di kalangan mahasiswa karena penyebarannya yang cukup pesat lewat status whatsapp.  
Status tersebut mengungkapkan bahwa biaya kuliah di UMP dirasa mahal dan berat. Berdasarkan data dari sebaran rincian biaya masuk UMP, rata-rata biaya masuk untuk tahun ajaran 2017/2018 mencapai Rp 8.970.000 (bukan termasuk fakultas kedokteran). Status itu merupakan bentuk dari keluhan pembuatnya yang menganggap biaya kuliah UMP cukup mahal.
Status inipun akhirnya menjadi sorotan birokrat. Bahkan beberapa mahasiswa sempat dipanggil oleh pihak kampus untuk dimintai keterangan. Namun hingga kini, pihak Bhaskara belum berhasil menemukan orang yang pertama membuat status tersebut. Jadi, kami belum sempat mewancarainya.
Menurut Wakil Rektor II di bidang Administrasi Umum, Joko Purwanto menyatakan bahwa tulisan tersebut dirasa tidak bertanggungjawab,”jika bertanggung jawab, kenapa tidak langsung berbicara ke pimpinan saja”ujarnya.
Menurutnya, definisi mahal yang dimaksud pada status tersebut tidak jelas. jika dibandingkan dengan universitas negeri, UMP  masih tergolong murah. “Universitas Negeri terlihat murah lantaran mendapat subsidi dari pemerintah setiap tahunnya,” katanya.
Dana yang disalurkan oleh mahasiswa telah diimbangi dengan pengadaan fasilitas di UMP yang sudah tergolong memadai. Hal inipun, katanya, sudah dibuktikan oleh tim peneliti akreditasi. “Orang yang membuat status itu merupakan orang-orang yang suka membuat masalah, jika tidak suka dengan UMP kenapa masuk UMP,” tambahnya.
Mirza yang merupakan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menganggap isi dari status tersebut merupakan bentuk kritikan melalui media sosial. Ia pun mengakui bahwa jika dilihat dari jumlah biaya persemester UMP memang terbilang mahal. Namun ia juga mengatakan bahwa kualitas UMP cukup bagus.
“Swasta dimana-mana memang mahal, karena swasta itu berdiri tanpa subsidi pemerintah. UMP mengeluarkan biaya pendidikan yang tidak sedikit lewat dana non-pemerintah. Maka selagi kita mendapatkan kualitas pendidikan yang setara dengan biayanya itu tidak menjadi masalah”ucapnya.
Agus Mulyadi, selaku Kepala Biro Kemahasiswaan menyatakan UMP tidak mahal, beberapa mahasiswa mengatakan mahal karena persepsinya berbeda-beda. “Mereka tidak paham betul bahwa status itu merugikan kampusnya sendiri. Hal itu juga akan berdampak pada mahasiswa sendiri lantaran UMP akan kurang di percaya masyarakat dan berimbas pada kualitas lulusan dan akreditasi,” katanya.
 Agus mengatakan mahasiswa yang ikut menyebarkan dan sempat dipanggil untuk memberikan keterangan ternyata tidak paham terhadap isi status tersebut. Ia pun meminta agar berhati-hati dalam menyebarkan informasi soal UMP. “Ini bukan soal saya membela UMP, ini karena saya tahu sendiri seluk beluk UMP. Walaupun misalnya itu benar, saya akan berpikir untuk tidak menyebarkannya keluar agar tidak berdampak buruk” ucapnya.
Ujianti, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang saat itu sempat dipanggil oleh pihak birokrat memberikan pernyataan bahwa status itu diperoleh dari temannya. Menurut ujianti, status tersebut memang membuat tertarik mahasiswa lain untuk ikut menyebar luaskan. Ia mengakui bahwa status itu bisa berdampak adanya penurunan jumlah calon mahasiswa yang mendaftar di UMP pada tahun berikutnya.
“Akan tetapi menurut saya sebagai mahasiswa, memang kenyataannya mahal apalagi untuk kalangan tidak mampu yang ingin kuliah di UMP” ucapnya. Dengan munculnya status tersebut ia mengharapkan pihak kampus bisa melakukan evaluasi, lantaran ia yakin bahwa mahasiswa yang membuat status itu pasti punya alasan dan menjadikan media sosial sebagai media kritiknya. (AA/Bhaskara)