Ilustrasi: Wahyu

Dibalik kemeriahan Ospek Merdeka 2017, terdapat beberapa pekerjaan yang masih belum dituntaskan oleh panitia. Terlampau lima bulan silam momen ospek berlalu, Sertifikat ospek belum juga dibagikan kepada mahasiswa baru angkatan 2017. Selain itu, terdapat juga pekerjaan pengembalian uang sebelas ribu rupiah milik mereka yang belum juga dikembalikan.

Dua masalah tersebut memang menjadi perhatian dan menimbulkan pertanyaan bagi mahasiswa baru. Terutama sertifikat ospek yang menjadi salah satu syarat wisuda untuk mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Mahasiswa fakultas psikologi, Ayu merasa gelisah lantaran telah lima bulan semenjak kegiatan ospek dilakukan tidak ada kejelasan mengenai sertifikat ospek. “ Kita sebagai mahasiswa merasa dibingungkan karena kegiatan ini sudah lama, tetapi sertifikat belum pernah dikabari kapan disebar, sementara dosen sudah mengingatkan agar mulai mengunggah sertifikat ospek di website EKK online,” ungkapnya.
Sementara ketua panitia ospek, Rizal rifai merasa memang terdapat keterlambatan dalam pembagian sertifikat lantaran ada beberapa masalah. Ia mengatakan keterlambatan ini disebabkan karena adanya permasalahan politik kampus yang tengah memanas, yaitu adanya sengketa pemilihan presiden BEM UMP.
Rizal mengira bahwa kasus ini akan segera diselesaikan oleh pihak bersangkutan, yaitu Dewan Mahasiswa. “Karena memang ada banyak permasalahan yang harus diselesaikan, dari mulai susunan kabinet yang ada didalam buku ospek sampai nama Arief Solehan (paslon no.2) yang tercantum pada sertifikat sebagai presiden BEM UMP. Akhirnya saya mencoba menunggu waktu yang tepat,” tambahnya.
Ia sempat mengeluhkan kebingungan soal penyelesaian masalah ini, sementara panitia harus segera memutuskan langkah kedepannya. Berlarut-larutnya masalah ini memaksa panitia untuk memutuskan bahwa sertifikat harus dibagikan dalam waktu dekat. “Semoga minggu depan, tanggal 7 Februari sertifikat sudah bisa dibagikan. Dan saya harap teman-teman harus menerima keputusan panitia Ospek apa adanya. Karena berkas sertifikat sudah satu paket dengan baju dan buku ospek dalam pembeliannya,” katanya.
Namun, Rizal mengakui ia belum memikirkan sistem pembagian sertifikat, karena ada pamong yang mulai kecewa atas keterlambatan ini. Tetapi ia akan mengusahakan untuk berkoordinasi dengan seluruh pamong, lalu ketika hal itu tidak bisa direalisasikan maka akan ada dibuat lokasi pengambilan sertifikat.
Keluhan lain yang mulai ramai adalah soal kejelasan uang sebelas ribu untuk pembelian kertas untuk pembuatan formasi yang akan dikembalikan kepada peserta ospek. Masalah ini disebabkan karena adanya kesalahan komunikasi antara SC dan OC. Awalnya kami berniat memudahkan peseta dengan cara mempersiapkan kertas tersebut untuk peserta. Namun ada salah satu panitia yang tanpa koordinasi melakukan penarikan uang kepada peserta ospek dan mengaku sudah ada komunikasi dengan panitia yang lain.

Karena uang itu sudah terlanjur dibelikan kertas, maka rizal berusaha mengajukan pengembalian dana tersebut untuk mengantisipasi pemungutan uang yang dirasa tidak diperbolehkan. Akhirnya pihak kampus siap mengganti uang tersebut dengan syarat ada laporan pertanggungjawabannya dahulu. “Saat ini uang pengganti sudah ditangan panitia, maka ia akan segera membagikan kepada mahasiswa berbarengan dengan penyerahan sertifikat,” katanya. (AG/Bhaskara)