Sumber Foto: Anggota Mapala Satria
Sumber Foto: Anggota Mapala Satria

Bhaskara.id – Letusan erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada 4 Desember 2021 menggerakkan banyak hati untuk membantu para korban. Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menjadi salah satu institusi yang mengirimkan relawan ke lokasi terjadinya bencana secara berurutan dari Mapala Satria dan komunitas Psikososial. Tim relawan yang diterjunkan langsung untuk membantu korban bencana disambut hangat oleh warga sekitar.

Dimas Bagus Prasetyo, mahasiwa Fakultas Teknik Informatika dan salah satu perwakilan Mapala Satria, ditempatkan di Desa Curah Kobokan 10 km dari kawah titik erupsi Gunung Semeru (08/12) yang merupakan zona merah. Dimas menjelaskan kondisi daerah sekitar Semeru sudah hancur saat datang pertama kali dan sebagian wilayah sudah tertutup abu vulkanik.

“Kami ditempatkan di desa yang dulunya bekas tambang pasir sebelum kejadian berlangsung dan sekarang ketika sudah terjadi bencana desa itu sudah luluh lantah, hampir  semua rumah hancur dan rata dengan tanah,” ungkapnya.

Berdasarkan penuturan Dimas, Tim Mapala Satria yang tergabung dalam SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia bertugas dalam mencari dan mengevakuasi korban, assessment korban bencana atau pengumpulan data korban terdampak bencana, dan pembagian bantuan logistik kepada warga terdampak.

“Saat proses pencarian korban, kami tim SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia berhasil menemukan dua mayat yaitu ada kakek-kakek dan cucunya dalam kondisi sudah membusuk dan terdapat luka bakar,” tambah Dimas.

Beberapa kendala dirasakan oleh tim relawan pada saat proses pencarian korban, seperti medan yang sulit dijangkau dan kekhawatiran terjadinya erupsi susulan. “Kita memang belum terlalu mengenal medan di situ sehingga kendalanya adalah belum mengenal medan, lingkungan, alat-alatnya, dan memang kita operasi dadakan seperti itu tidak bisa direncanakan,” ungkap Dimas.

Dimas menjelaskan kalau syarat minimal dari relawan yang diterjunkan di zona merah yaitu memiliki kemampuan dalam melakukan jungle rescue serta penyelamatan di pegunungan. Selain itu, relawan harus memahami dan dapat membaca ilmu tata kompas sehingga dapat memahami medan dengan cepat dan mengetahui jalur penyelamatan jika nantinya terjadi erupsi susulan.

Sumber Foto: Anggota Psikososial
Sumber Foto: Anggota Psikososial

Selanjutnya, tim kedua yang diturunkan oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) adalah relawan Komunitas Psikososial yang telah kembali dari misi kemanusiaan bencana alam erupsi Gunung Semeru Lumajang, Jawa Timur pada Selasa (21/12) pukul 5 pagi.

Salah satu relawan yang juga merupakan mahasiswa Psikologi Semester 3, Kuntayuda Ahsana, berbagi cerita dan pengalamannya selama 9 hari menjalani misi kemanusiaan tersebut.

Para relawan Psikososial ditempatkan di Divisi Psikososial yang bertugas melakukan assessment serta bekerja sama dengan puskesmassetempat dalam mendata kondisi penduduk di 6 dusun agar dapat dipastikan sehat secara fisik maupun psikologis. Setelah 2 hari melakukan assessment, relawan Psikososial merancang Program Sekolah Ceria yang bertujuan untuk memberikan dukungan psikologis kepada anak-anak penyintas bencana erupsi Gunung Semeru.

Relawan Psikososial meminta izin kepada Kepala Dusun Ngambon untuk mengadakan Program Sekolah Ceria di musala. “Saya mempunyai kesan terhadap kakak dan adik yang terlihat cukup memiliki risiko trauma. Mereka cenderung diam, tidak meresponspertanyaan yang diberikan, serta enggan untuk makan,” tuturnya.

Berdasarkan hal tersebut, relawan psikososial berinisiasi untuk melakukan pendekatan dengan mengajak kakak beradik itu pergi jalan-jalan ke toko seragam untuk membeli perlengkapan sekolah.

Menurut Kuntayuda, para relawan Psikososial harus menjadi pendengar yang baik, tidak mengungkit peristiwa yang sedang terjadi, serta tidak terlalu jauh atau ikut hanyut dalam perasaan penyintasdalam menangani penyintas ditinjau dari segi psikologisnya.

“Kita sebagai relawan Psikososial seharusnya jangan mengungkit peristiwa yang sedang terjadi, tetapi kita lebih baik mengungkit informasi sebelum bencana ini terjadi, seperti; apa pekerjaan bapak/ibu, adik sekolah di mana, siapa saja nama teman-teman adik, dan sebagainya,” jelas Kuntayuda.

Situasi dan kondisi daerah sekitar Semeru menurut Kuntayuda sudah stabil. Pada siang hari cuaca panas, sedangkan pada sore hari cuaca menjadi dingin. Namun, ada kondisi yang disayangkan yaitu terdapat beberapa posko yang logistiknya tidak rapi dan merata.

Kuntayuda berharap agar dirinya dapat selalu siap secara fisik dan psikologis apabila ada panggilan respons bencana serta selalu membaca materi psikososial. Ia juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa. “Bagi yang ingin terjun menjadi relawan dapat menyelesaikan semua tanggungan kampus terlebih dahulu. Tujuannya yaitu agar kita bisa fokus sebagai volunteer,” pesannya. (FAF/CH/Bhas)