Bhaskara.id – Intensive English atau biasa disebut IE adalah salah satu mata kuliah berbasis bahasa Inggris yang dikhususkan untuk mahasiswa aktif semester 1 sampai dengan 4 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Muncul beberapa pandangan dari mahasiswa terkait pelaksanaan mata kuliah IE seperti yang dirasakan oleh Renaldi Praduna—mahasiswa aktif semester 3 Fakultas Farmasi. Renaldi menuturkan kalau pelaksanaan kelas IE lebih banyak mendapatkan tugas.

“Kita mengambil kelas IE dalam seminggu ada dua kali pertemuan, sedangkan dalam dua kali pertemuan itu kita hanya diberi tugas. Namun, ada juga materi pembelajaran, tetapi menurut saya itu kurang efektif untuk mahasiswa sekarang apalagi hanya mengerjakan tugas,” tutur Renaldi.

Menurut Renaldi, perkuliahan IE perlu dilaksanakan melalui Zoom atau bimbingan. Pemberian materi dalam bentuk teks dirasa tidak efektif karena hal tersebut dapat dipelajari secara mandiri melalui Youtube. Berdasarkan penuturannya, perkuliahan IE melalui Zoom baru dilaksanakan sebanyak satu kali.

Renaldi merasakan ada perbedaan dalam pelaksanaan kelas IE dari semester sebelumnya. Perbedaan yang dirasakan yaitu pada semester sebelumnya lebih banyak mendapatkan video pembelajaran dan adanya bimbingan tidak seperti semester saat ini. Perbedaan tersebut sangat dirasakan dalam perkuliahan IE semester ini sehingga dirasa kurang efektif.

“Kalaupun pembelajarannya dalam bentuk video itu, silakan saja. Asalkan jangan dalam bentuk teks, usahakan lebih baik belajar secara online lewat Zoom dan kita juga bisa memahami serta memiliki interaksi dengan dosennya, apalagi kita bayar,” keluh Renaldi.

Renaldi merasa kalau mahasiswa akan merasa malas dan tidak menonton video atau membaca teks materi yang disampaikan dosen apabila hanya diberikan materi ketika tidak ada bimbingan atau Zoom. Akan tetapi, mahasiswa dapat belajar lebih giat dan dapat berinteraksi dengan dosennya ketika pembelajaran dilakukan melalui Zoom menurutnya.

Berbeda dengan metode pembelajaran dari sebelumnya, Triska Pratiwi—mahasiswi aktif semester 3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)—menyampaikan metode pembelajaran IE dilakukan melalui WhatsApp Group. Dosen menyampaikan materi apa saja yang akan dibahas kemudian mahasiswa mengerjakan tugas tersebut di Schoology sehingga mahasiswa tersebut dapat mengisi presensi.

Triska juga merasakan bahwa kurang adanya feedback pemahaman materi yang didapat. “Menurutku, mahasiswa kurang dapat mengerti karena mahasiswa itu seperti disuruh memahami materi sendiri. Kalau semisal ada Gmeet atau Zoom untuk menjelaskan materi, sepertinya akan lebih efektif. Apalagi bahasa Inggris yang tidak begitu mudah materinya, pasti ada beberapa anak yang belum paham jika hanya membaca materi di Schoology,” tutur Triska.

Berbeda dengan Triska, Pinastika Bara Ahyas—mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan (FKIP)— menuturkan kalau ia tidak memiliki keresahan terhadap metode pembelajaran IE yang didapatkannya.

“Sampai sekarang, belum ada keresahan apa-apa, aman-aman saja. Hanya terkadang sedikit merasa keberatan kalau harus mengerjakan tugas dahulu sebelum presensi. Kalau tidak mengerjakan tugas, tidak bisa mengisi pranala absen. Jadi mau tidak mau harus mengerjakan tugasnya dahulu,” ungkap Bara.

Bara merasa tidak keberatan dalam pembelajaran IE yang dilaksanakan, “Untuk saya pribadi tidak keberatan. Keuntungan yang didapat tetap ada walau hanya sedikit, tetapi lumayan untuk menambah wawasan lagi tentang bahasa Inggris. Walaupun tidak terlalu maksimal, tetapi untuk selebihnya tidak masalah. Toh, ini online kan untuk menyukseskan program pemerintah juga agar rantai penyebaran virus Covid-19 cepat terputus,” ungkapnya.

Dalam menanggapi hal tersebut, Aldias Surya Dadari selaku sekretaris Language Development Center (LDC) menyampaikan kalau tujuan utama dari UMP mengadakan kelas IE adalah dari adanya Surat Keputusan (SK) Rektor. Namun, UMP sendiri berbeda dengan Universitas yang lain dimana menggunakan standar TOEFL sebagai passing grade dalam syarat wisuda atau sebagai syarat dalam melaksanakan pendadaran ataupun yudisium. Di UMP sendiri, syarat untuk dapat mengikuti wisuda adalah dengan adanya sertifikat pengayaan bahasa Inggris.

Di samping itu, dalam meningkatkan mutu dan kualitas, LDC melakukan International Standard Organization (ISO) dimana dalam ISO ini sebagai manajemen mutu, proses pelayanan seperti adanya pelatihan, tes, terjemahan dan kegiatan ini juga bisa dilaksanakan untuk umum.

Di dalam ISO tersebut terdapat klausul management complain yang di dalamnya berisikan fasilitas untuk dapat menyuarakan segala bentuk keluhan yang nantinya akan mendapatkan tindakan langsung. Management complain tersebut dapat di akses di situs web LDC UMP. (ldc.ump.ac.id.)

LDC telah menyediakan evaluasi seperti dalam situs web yang tertera. Survey Teacher and Teaching Quality Quishioner (TTQQ) dalam situs web tersebut mahasiswa hanya perlu mengisi teacher pengampu dan unggah Kartu Mahasiswa (KTM). Situs web TTQQ lebih fokus digunakan dalam menangani keluhan pembelajaran yang diberikan dari instruktur. Kemudian juga terdapat form LDC berbicara yang didalamnya termuat keluhan secara umum dan pernyataan terbuka.

Bustanuddin As Suaidy selaku Kepala Bagian Program Pengayaan Bahasa Inggris menegaskan kalau LDC memiliki beberapa aktivitas akademik yang dilaksanakan untuk menjaga quality control.

Suaidy menambahkan ada beberapa pertimbangan terhadap kelas pembelajaran Intensive English. Pertimbangan pertama yaitu karena memang mengikuti edaran yang memberikan standar yang rendah yaitu minimum satu kali dilaksanakan pembelajaran tatap maya sebelum atau sesudah Ujian Tengah Semester (UTS). Kemudian, pertimbangan selanjutnya adalah berkaitan dengan adanya keluhan mahasiswa yang di mana keluhan atau informasi ini didapatkan dari seorang mentee.

“Pertimbangan seperti itu yang kemudian membuat barangkali penyesuaian pembelajarannya itu menjadi berbeda-beda. Sinkronus tetap dijalankan dan asinkronus seperti penugasan yang di dapatkan feedback, dan improvement juga harus dilaksanakan bersama-sama seperti itu. Jadi, agar semua berjalan dengan baik,” jelas Suaidy.

Suaidy menjelaskan jika ada transisi hybrid, pihak kampus sudah memfasilitasi pelaksanaan perkuliahan Intensive English di SMK Mulya Bhakti. “Pihak LDC berupaya penuh meningkatkan kualitas sesuai dengan penerapan perkuliahan hybrid sesuai dengan surat keputusan kampus termasuk Outcome Best Education (OBE) yang di dalamnya terdapat sharing impulsmen, meningkatkan critical thinking dari mahasiswa, dan outcome skill performance mahasiswa UMP,” pungkasnya. (MHN/AS/Bhas).