Aksi Solidaritas terhadap pemukulan dan penangkapan massa aksi penolakan PLTPB diadakan di jalur Jl. Jend. Soedirman menuju timur depan air mancur Purwoketo. Aksi tersebut dilakukan oleh mahasiswa di universitas se-banyumas. (10/10)
– – Aksi Damai ASS Dibubarkan Secara Paksa
– – Sebanyak 24 Massa Aksi ditangkap dan Lebih dari 30 Orang Mengalami Luka-Luka
– – Tindakan Brutal Aparat Menuai Kecaman
“Usir PT. SAE! Tolak PT.SAE!” Teriak seorang ibu paru baya di tengah-tengah massa aksi yang menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden. Ia adalah Muhniah (46), salah satu dari ratusan demonstran dalam Aliansi Selamatkan Slamet (ASS-Red) pada Senin pagi (9/10) kemarin. Terik dan panasnya sinar matahari, tak menurunkan sedikitpun semangatnya dalam menyuarakan kegelisahan pembangunan mega proyek yang akan berdiri di lereng Gunung Slamet tersebut.
Saat itu, ia bersama massa aksi lainnya tengah melakukan long march dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, menuju kantor Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk menanyakan kejelasan rekomendasi pemberhentian proyek PLTP. Dalam perjalanannya menuju Kantor Bupatitepatnya dipersimpangan Jl. Dr.Angka, ia bersama massa aksi kemudian membentuk formasi melingkar dan mengadakan beberapa orasi. Setelah itu perjalanan dilanjutkan.
Di persimpangan Jl. Ahmad Yani. Muhniah kembalimenjadi sosok orator ulung yang berasal dari perwakilan para ibu Kecamatan Cilongok.“Banyune buthek, dewek dadi ora bisa adus! (airnya keruh, kita jadi tidak bisa mandi)”Ungkapnyadengan dialek banyumasan.
Akhirnya, pada pukul 10.50 WIB, ia dan massa aksi tiba di depan kantor Pemkab Banyumas. Massa pun mulai membentuk barisan sambil menyanyikan yel-yel “tolak tolak PLTPB, usir PT.SAE sekarang juga!”. Di sela-sela waktu istirahatnya, iamengungkapkan kegelisahan kepada awak bhaskara, “air itu adalah nomor satu yang selalu dibutuhkan oleh warga.Dampak air keruh ini menyebabkan gangguan kesehatan seperti diare dan gatal-gatal. Bahkan, untuk sekarang ini untuk mandipun kita harus beli air bersih.”
Di lain tempat, salah satu koordinator aksi ASS, Catur Sasongko memulai orasinya.Sasongkomengungkapkan kekesalannya sembari memegang sebotol air keruh yang diperolehnya dari sungaidi wilayah sekitar Cilongok.Sasongko mengungkapkan, “ini adalah bukti bahwa PLTP Baturraden berdampak negatif bagi lingkungan.”
Budi sebagai salah satu warga yang terdampak dari pembangunan PLTP menguatkan pendapat Sansongko sebelumnnya. “Tadinya air kami bersih.Bisa buat masak dan minum, tapi sekarang berubah menjadi keruh setelah adanya pembangunan tersebut,”tambahnya.
Sayangnya aksi yang dilakukan ASS tak mendapat respon positif. Bupati sebagai sosok yang diharapkan oleh massa aksi tak ada di tempat.MenurutAsisten Ekonomi Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Banyumas,Didi Rudianto mengatakanbahwa bupati sedang berada di Semarang. Ia menjelaskan bahwa bupati tengah menghadap gubernur untuk menindaklanjuti keluhan dari masyarakat.
Kekecewaan massa aksi terus bermunculan. Sebab, aksi demonstrasi ini bukan yang pertama. Ini merupakan aksi kedua yangdilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat Banyumas untuk menuntut bupati memberikan rekomendasi pencabutan izin pendirian proyek PLTP yang digarap oleh PT.SAE. Namun, bupati masih belum memberikan kejelasan akan tuntutan tersebut.
Padahal selama bulan Juli sampai Oktober, telah terjadi beberapa kali air keruh yang dirasakan oleh sebagian warga Kecamatan Cilongok. Pada tanggal 1 Oktober kemarin misalnya, saat hujan deras terjadi, air sungai pun keruh oleh lumpur bekas proyek PLTP Baturraden. Dampak tersebut menimbulkan kekesalan warga sekitar dan akhirnya menimbulkan aksi penolakan untuk kedua kalinya.
Adzan zuhur berkumandang. Massa aksi menghentikan aksinya sesaat. Kemudian sebagian dari mereka beristirahat dan berjalan menuju masjid terlebih dahulu untuk menjalankan ibadah. Selang beberapa menit, massa aksi kembali berkumpul untuk melanjutkan aksinya.
Namun, Pada pukul 14.00 WIB,rintik air mulai jatuh satu persatu di wajah setiap massa aksi. Hingga akhirnya hujan deras mulai turun. Massapun mendirikan tenda-tenda perjuangan yang ditopang oleh beberapabambu. Setelah tenda didirikan, massa aksi berteduh di dalam tenda sambil tetap mendengarkan orasi yang dilakukan oleh beberapa rekan seperjuangannya.
Di sisi lain, terlihat aparat mulai mempersiapkan Pakaian Penanggulangan Huru Hara (PHH) di depan Pendapa Sipanji Banyumas. Keadaan sempat mencekam. Namun massa aksi tetap bertahan dan terus melakukan rangkaian kegiatannya.
Seiring dengan tenggelamnya matahari hujan pun mulai reda.Dalam keramaian alun-alun Purwokerto di waktu petang, massa aksi tetap bertahan menyuarakan aspirasidan tuntutannya. Pentas budaya pun digelar untuk menghibur massa aksi sekaligus menyuarakan aspirasi dalam bentuk lagu dan puisi.
Pada pukul 19.25 WIB, Bangkit, salah satu massa aksi ASS mengajak massa untuk bersama menghubungi bupativia SMS dan Whatsapp. Pesan tersebut serentak dikirim kepada bupatiyang berbunyi, “Pak, kita tunggu di depan kantor kabupaten. Cabut izin PLTPB di gunung Slamet.”
Tak berselang lama, beberapa massa aksi mendapat balasan dari bupati. Balasan tersebut bertuliskan, “Kalian itu ngawur(salah), yang berhak cabut itu Dirjen dan Gubernur. Kenapa tidak langsung saja ke Dirjen atau gubernur? Aja Semblotongan Cah Bagus! (jangan sembarangan anak baik)”.
Malam semakin larut. Beberapa massa mulai meniggalkan lokasi. Namun, semangat sebagian massa yang mendirikan tenda-tenda perjuangan tak juga padam. Dalam sorot lampu temaram di depan kantor Pemkab, massa masih berorasi menunggu kedatangan bupati.
Permainan gitar dalam musikalisasi puisi turut mengibur massa aksi yang mulai terlihat kelelahan. Orasi-orasi dari beberapa massa terus diutarakan. Aksi damai yang diselingi dengan pentas kebudayaan itu pun berjalan dengan lancar sampai pukul 22.00 WIB.
Setelah itu, Bangkit mengambil alih kendali dan mengatakan bahwa massa akan diusir saat jam 22.00 WIB. Namun keputusan itu tidak berdasarkan dari negosiasi kedua pihak, padahal massa aksi ASS sudah mengajak pihak kepolisian untuk bernegosiasi.
“Kita ingin sama-sama enak aja, kalau nanti akan dibubarkan kita tidak mau ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Karena kita mengadakan aksi damai tanpa kerusuhan dan atas dasar penyampaian hak-hak kita. Jadi kami secara resmi dari Aliansi Selamatkan Slamet meminta agar adanya negosiasi dengan aparat keamanan terkait keberlangsungan aksi ini,” ungkapnya.Ia juga menambahkan bahwa jika ada tindakan sebelum ada hasil negosiasi maka itu adalah tindakan brutal dan sangat represif.
Namun, Pihak kepolisian tidak menggubris permintaan resmi tersebut.Alih–alih melakukan negosiasi, mereka jurstru memberikan perintah terakhir bahwa massa diharuskanmembubarkan diri sebelum dibubarkan oleh petugas.
Setelah pihak kepolisian menyampaikan hal tersebut, gerbang kantor Pemkab Banyumas langsung dibuka. Ratusan aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang ada didalam berjalan dengan barisan panjang mendekati massa aksi yang sedang duduk. Pada saat itu, massatengah melantunkan solawat sambil tetap duduk ditempat dan tidak bergerak.
Namun dibagian kiri massa aksi, terjadi pembubaran secara paksa dan terkesan brutal. Sementara itu Satpol PP mulaimembongkar tenda yang berdiridi belakang barisan massa aksi. Tindakan represifpun mulai dilakukan oleh aparat berupa pemukulan terhadap massa aksi. Suara teriakan meronta dan meminta ampun kerap terdengar di dalam lokasi tersebut. Salah satu massa aksi, Chen, yang meronta saat akan ditangkapterus meneriaki aparat denganteriakan “fasis!”. Sembari ditangkap, ia juga dipukul di beberapa bagian tubuhnya.
Selain itu, terlihat juga beberapa orang dikejar oleh aparat yang berusaha merekam tindakan represif tersebut.Bahkan wartawan yang dilindungi UU Pers pun tak luput dari aksi arogan aparat tersebut.
Pada pukul 22.46, sebagian massa aksipindah di kampus IAIN Purwokerto dengan untuk mendiskusikan tindakan yang akan dilakukan setelah kejadian tersebut. Bangkit yang selamat dari penangkapan aparat berusaha mengumpulkan data siapa saja massa yang terkena tindakan represif aparat dan juga nama-nama massa yang ditangkap oleh kepolisian. Selain itu, bangkit juga mendata beberapa barang yang diambil dan rusak karena kericuhan yang terjadi.
Pukul 01.00 dini hari, ASS mulai menyebarkan pers rilis untuk menindak lanjuti tindakan itu. Di dalamnya berisi tentang kecaman aliansi terhadap tindakan brutal dan represif berupa penangkapan, pemukulan, intimidasi dan perusakan barang oleh pihak aparat kepolisian dan satpol PP terhadap massa aksi. Selain itu, pers rilis itu juga berisi nama-nama massa aksi yang dipukuli serta ditangkap walau terbatas hanya data sementara dan menunggu perkembangan.
Setelah adanya pers rilis dari pihak ASS, bermunculan beberapa pihak yang memberikan pernyataan sikapnya kepada publik.Salah satunya adalah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto.AJI mengecam tindakan represif aparat kepada jurnalis dan masa aksi.Mereka juga mendesak Kapolres dan Bupati Banyumas mengusut personel yang melakukan tindakan kekerasan serta meminta agar segera membebaskan jurnalis, pers mahasiswa dan peserta aksi yang ditahan.
Sekitar Pukul 11.00 WIB, massa aksi yang ditahan akhirnya dibebaskan. Raut wajah gembira sempat tergambarkan oleh beberapa massa aksi yang ditangkap. Namun, luka-luka mulai dari kaki, dada hingga wajah menjadi bukti rasa sakit yang mereka alami masih tersisa.
Aksi Respon Cepat
Bersamaan dengan pembebasan massa aksi, ada puluhan wartawan yang mengelar aksi solidaritas di depan Kantor Bupati Banyumas. Aksi tersebut didasari karena adanya tindakan represif terhadap beberapa wartawan.Salah satunya adalah wartawan Metro TV, Darbe Tyas saat meliput kericuhan yang terjadi. Berdasarkan kronologis resmi yang dibuat olehPersatuan Wartawan Indonesia Banyumas (PWI Banyumas), Darbe mengalami memar di beberapa bagian tubuh, seperti dada, punggung dan tulang rusuk sebelah kiri karena tindakan brutal dari aparat tersebut.
Sementara itu, aksi solidaritas pun muncul dari elemen mahasiswa se-Kabupaten Banyumas yaitu UNSOED, IAIN Purwokerto, UMP, UNWIKU serta AMIKOM.
Aksi tersebut dimulai pukul 14.15 di depan air mancur Purwokerto dengan memenuhi jalur Jl. Jendral Soedirman yang menuju ke arah timur. Terkecuali dari IAIN, mahasiswa se-Banyumas telah berkumpul dan menyuarakan aspirasinya. Sementara itu, perwakilan dari IAIN mengadakan Long march dari kampusnya dan tiba pada pukul 14.50 menyusul mahasiswa dari kampus lain.Beberapa orasipun di kumandangkan untuk membakar semangat perjuangan para mahasiswa yang hadir.
Kapolres Banyumas, Bambang kembali mengucapkan permohonan maaf kepada massa yang merasa kesal atas tindakan represif yang terjadi. Pada saat itu, bambang juga berjanji untuk kedepannya menjamin tidak akan ada lagi aksi kekerasan yang dilakukan oleh aparat terhadap massa aksi. Dan Ia juga menyatakan akan mengganti segala kerugian material berupa barang yang dirusak oleh aparat dengan syarat memberikan bukti-bukti perusakan.
Pada pukul 15.07, Bupati Banyumas, Ahmad Husein menjumpai massa aksi ditemani oleh Kapolres. Pertama, Husein mengucapkan permohonan maaf atas terjadinya tindakan represif kepada massa aksi ASS. Kedua, ia menyatakan bahwa telah memenuhi tuntutan dari penolakan proyek panas bumi kepada gubernur. “Saya mohon maaf. Sekarang tinggal tunggu keputusan gubernur, saya hanya bisa menuruti keputusan gubernur dan presiden,” ungkapnya.
Hujan mulai turun deras. Namun semangat massa aksi masih tetap berkobar. Oji, anggota massa aksiyang menjadi korban kekerasan aparat meminta agar aksi dipindahkan ke pendapa Sipanji. Hal itu dimaksudkan agar pembicaraan antara bupati dengan massa aksi bisa lebih kondusif. Namun bupati tidak menerima saran itu dengan alasan tidak cukupnya ruangan yang tersedia di pendapa.
Setelah Husein tak bersedia bernegosiasi untuk memindahkan diskusi di dalam pendapa Sipanji, ia akhirnya memilih untukmeninggalkan massa aksi. Massa aksi yang telah basah kuyub, berpindah menuju area lapangan alun-alun untuk menggelar konferensi pers dari ASS dan LBH Yogyakarta.
Bangkit memulai konferensi dengan menceritakan proses kericuhan yang terjadi. Setelah itu, Deni, salah satu korban pemukulan sekaligus sebagai wartawan pers mahasiswa Projustitia menggambarkan proses pemukulan yang terjadi.“Saya dengan teman saya, waktu itu lagi ngopi. Tapi saya akan pulang dan berniat menyusul teman saya serta mengambil motor yang diparkir di depan kantor bupati. Tapi, tiba-tiba aparat mendatangi saya, memukuli dan menahan saya. Padahal saat itu saya sudah bilang saya hanya ingin pulang,” ungkapnya.
Sedangkan Azka yang mengalami luka dibagian telinga, kepala dan tangannya ikut menyatakan keluh kesahnya atas sikap aparat terhadap massa aksi. “Menyampaikan pendapat adalah hak bagi semua orang, tapi semalam aparat telah melayani masyarakat (massa aksi) layaknya hewan,” ungkapnya sambil sedikit terbawa emosi.
Setelah adanya pernyataan dari korban, Lembaga Badan Hukum (LBH)Yogyakarta, Budi mengatakan bahwa hal iniadalah tragedi kemanusiaan dengan adanya 26 massa yang direpresif oleh aparat keamanan. Beberapa dari mereka mengalami patah di bagian hidung, dan sobek dibagian telinga.“Purwokerto kini sedang darurat demokrasi karena hak kebebasan berekspresi telah dibatasi,” tambahnya.
