Oleh: Meydinna Soesisto

Kami semua bagai busur panah, dengan titip api Simkatmawa seorang
Segala pemanah berdaya seadanya
Kelimpungan ketar ketir, tak punya fokus seketika
Kamulah raksasa penyebabnya

Papan panah itu makin menjadi menghantuiku
Aku tak becus melihatmu
Juga aku yang tak mau melepas busur untukmu
Karena kau padat lika-liku
Yang temaram tanpa laju

Lalu ada fokus baru di papan lain, adikmu bukan?
Kalau tidak salah bisa kami sebut perek, Peraturan Rektor maksudnya
Jika dalam mataku, ia lagi menyilaukan
Banyak hasratnya dipatuhi, namun ia tak memahami

Akulah sang busur panah, yang tak paham haluan nan arah