Sumber Ilustrasi: Bhaskara.id/Divisi Kreatif

Abraham Lincoln mendefinisikan demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Jika diliat secara filosofis, memang benar, bahwa pemerintah diciptakan untuk membentuk sebuah rakyat yang adil dan teratur, sehingga rakyat wajib andil untuk menentukan siapa yang akan memerintahnya.

Berbeda dengan sistem aristokrat yang hanya menjunjung tinggi para penguasa elit, dalam sistem demokrasi semua orang dipandang sama meskipun dari suku, ras dan agama yang berbeda, setiap manusia bebas menentukan pilihanya, sehingga demokrasi bisa dikatakan sebagai sistem yang menjunjung tinggi harkat dan martabat umat manusia.

Salah satu ciri khas demokrasi yang dapat dirasakan oleh rakyat adalah adanya pemilihan umum yang dilaksanakan setiap beberapa tahun sekali, hal ini biasa kita sebut sebagai pesta demokrasi. Disebut sebagai pesta demokrasi, karena hampir sebagian besar rakyat dalam sebuah negara merasakan bebasnya untuk memilih pemimpin yang ia inginkan.

Representasi Demokrasi di Fakultas

Fakulas adalah sebuah entitas akademik di bawah Universitas yang mana di dalamnya terdapat mahasiswa yang perlu diorganisir. Pengorganisiran ini memerlukan adanya sebuah organisasi yang mewadahi berbagai macam sifat mahasiswa.

Di samping itu, memang benar, fakultas juga bisa dinamakan sebagai organisasi, karena juga mengatur mahasiswa di dalamnya. Namun fakultas tidak mengatur urusan teknis, minat dan bakat mahasiswanya, karena fakultas berfokus pada urusan akademik. Oleh karena itu, dibentuklah lembaga untuk menyalurkan minat dan bakat mahasiswanya. Lembaga tersebut bernama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM).

Secara luas, lembaga tersebut mirip dengan negara demokrasi, ada eksekutif yang diwakilkan BEM dan HMPS, ada juga legislatif yang diwakilkan oleh DPM. Sehingga pelaksanaanya pun, mirip dengan demokrasi pada umumnya. Semua lembaga tersebut merepresentasikan negara demokrasi, namun dalam bentuk mini, sehingga pelaksanaanya pun menggunakan sistem demokrasi yang berdasarkan nilai-nilai kemahasiswaan.

Hilang dan munculnya demokrasi di fakultas pertanian dan perikanan

Sudah lebih dari 4 tahun demokrasi di tingkat fakultas pertanian dan perikanan (FPP) tidak berjalan, pemilihan ketua lembaga hanya berdasarkan aklamasi karena mahasiswa yang mencalonkan diri sebagai ketua hanya satu orang, sehingga mau tidak mau, kita dipaksa untuk menerima pilihan apa adanya.

Hal ini menandakan bahwa demokrasi di dalam fakultas mengalami kemunduran, sehingga dapat dinilai bahwa sumber daya mahasiswa di dalam fakultas pertanian dan perikanan tidak berkualitas terutama dalam hal kepemimpinan dan keorganisasian.

Sebuah alasan klasik yang pernah saya dengar dari salah satu mahasiswa FPP adalah “saya belum pantas untuk memimpin mahasiswa banyak” padahal seperti yang kita tahu, bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan justru kepantasan dapat diraih ketika dalam masa kepemimpinan, karena disitu kita dituntut untuk belajar. Toh, ranah kepemimpinan ini masih dalam konteks mahasiswa, sehingga masih dapat dimaklumi jika terjadi sedikit kesalahan.

Mundurnya demokrasi di fakultas pertanian dan perikanan, telah diakhiri oleh HMPS Agroteknologi yang pada tanggal 2 Juli 2022 untuk pertama kalinya mengadakan pemilihan umum. Dalam pemilihan tersebut ada dua kandidat yang mencalonkan diri, sebagai ketua dan wakil ketua. Kandidat nomor satu dipegang oleh Avika Zika Fadilah sebagai ketua dan Anisa Nur Baiti sebagai wakil ketua, sedangkan kandidat nomor dua dipegang oleh Rofi Almani sebagai ketua dan Aprilia Catur Pudyastuti sebagai wakil ketua.

HMPS Agroteknologi menjadi organisasi di dalam fakultas pertanian dan perikanan untuk pertama kalinya mengadakan pesta demokrasi, setelah beberapa tahun belakangan, ini menjadi prestasi tersendiri karena menjadi titik awal menuju fakultas pertanian yang syarat akan mahasiswa oraginsatoris dan mampu menjunjung tinggi nama fakultasnya.

Menjadi Cambuk bagi Lembaga lainya

Pesta demokrasi yang dicetus oleh HMPS Agroteknologi, tentu menjadi cambuk bagi lembaga fakultas pertanian dan perikanan lainya, karena sudah ada organisasi di lingkungan fakultas yang lebih maju darinya.

Namun, bagi BEM dan DPM FPP, ini tidak cuma cambuk, melainkan hinaan dan siksaan sosial karena BEM dan DPM adalah organisasi yang tugasnya memainkan roda politik, sehingga pengetahuan tentang kepemimpinan dan keorganisasian sudah mereka khatamkan sebelumnya. Sehingga menjadikan fakultas hanya sebagian kecil dari tempat permainan politik mereka, dan pesta demokrasi hanya dianggap sebagai rutinan setiap satu tahun sekali.

Penulis:
Afif Fadhlullah Azis seorang Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto