Penulis: Firda Fayza

Bhaskara.id – Pembangunan gedung baru di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terus menunjukkan perkembangan infrastruktur kampus. Salah satu yang sedang berlangsung adalah pembangunan gedung baru yang akan difungsikan sebagai ruang kelas dan Biro Sistem Informasi. Pembangunan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan akademik bagi mahasiswa. Namun, di tengah pembangunan gedung baru tersebut justru menimbulkan masalah baru bagi mahasiswa yakni semakin menipisnya lahan parkir bagi mahasiswa. Lahan parkir tersebut hilang dan tidak ada solusi pengganti.

Biro Sistem Informasi (BSI) UMP merupakan biro yang memberikan pelayanan kepada civitas akademika UMP berupa sistem akademik, email kampus, hingga platform e-learning OnClass UMP. Sebelum gedung barunya dibangun, BSI menempati Gedung Prof. Baedhowi di lantai 2 dan 3. Pembangunan gedung baru di lingkungan Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini merupakan bagian dari penataan ulang fasilitas kampus yang mencakup pemindahan dan penambahan sarana perkuliahan yaitu ruang kelas bagi mahasiswa.

Namun, di tengah proses pembangunan tersebut, muncul masalah baru yang secara langsung dirasakan oleh mahasiswa. Masalah tersebut yaitu semakin menyempitnya lahan parkir. Area proyek yang kini digunakan untuk pembangunan gedung baru sebelumnya merupaakan salah satu lahan parkir di UMP. Padahal, sebelum pembangunan pun, kapasitas lahan parkir di UMP sudah terbilang minim dan sering dikeluhkan mahasiswa.

Pembangunan ini menimbulkan pertanyaan penting dalam perencanaan pembangunan gedung baru, sejauh mana kebutuhan dasar mahasiswa terutama terkait fasilitas parkir diperhitungkan dan diperhatikan? Apakah perluasaan fisik kampus harus dilakukan dengan mengorbankan kenyamanan dan aksesibilitas mahasiswa?

Pembangunan gedung baru yang berdiri di atas lahan parkir menimbulkan persoalan bagi mahasiswa. Khususnya bagi mahasiswa fakultas yang lebih sering menggunakan lahan parkir tersebut karena lokasinya yang dekat. Kondisi ini menyebabkan mahasiswa berebut lahan parkir di sela-sela lahan parkir Fakultas Farmasi. Tidak jarang mereka harus mencari lahan parkir dengan cepat dan berebut ketika berburu-buru masuk kelas. Lahan parkir yang sempit membuat mahasiswa harus berputar lebih lama hanya untuk menemukan tempat parkir yang layak. Jika area di sekitar fakultas sudah penuh, alternatifnya adalah memarkir kendaraan di lokasi yang jauh dari gedung kuliah dan justru menimbulkan ketidakefisienan waktu.

Masalah ini menunjukkan adanya kurangnya keseimbangan dalam perencanaan fasilitas pendukung pembangunan. Ketika kebutuhan ruang kelas dan gedung BSI terpenuhi, namun justru mengabaikan kebutuhan lainnya yang tak kalah penting. Mahasiswa sebagai pengguna ruang kampus paling aktif menjadi pihak yang terdampak langsung, namun minim pelibatan dalam pengambilan keputusan. Ketidakseimbangan ini menunjukkan pentingnya kampus tidak hanya membangun dari segi fisik, tetapi juga merancang skema agar pembangunan tersebut tidak memicu permasalahan baru.

Ketidakseimbangan ini menunjukkan pentingnya kampus tidak hanya membangun dari segi fisik, tetapi juga merancang skema agar pembanguna tersebut tidak memicu permasalahan baru, meskipun pembangunan terseebut juga memiliki maksud baik sebagai salah satu fasilitas penunjang akademik. Mahasiswa sebagai pengguna utama fasilitas kampus seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan. Pengabaian terhadap kebutuhan dasar mahasiswa justru akan menimbulkan ketidaknyamanan yang kontraproduktif terhadap tujuan akademik itu sendiri.

Wajar apabila UMP sebagai kampus swasta memiliki ambisi untuk terus berkembang dan membentuk citra sebagai kampus modern yang layak dilirik Masyarakat luas. Namun, upaya mempercantik kampus dari luar seharusnya tidak mengorbankan hal-hal yang lebih mendasar. Penambahan gedung tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan penyediaan fasilitas penunjang yang memadai.

Kenyamanan mahasiswa dalam menjalani kegiatan perkuliahan seharusnya menjadi tolak ukur dalam setiap kebijakan yang diambil. Kebutuhan seperti ruang kelas, lahan parkir, dan aksesibilias harus dipenuhi secara berimbang. Ketika Biro Sistem Informasi dan ruang kelas dibangun sebagai sarana penunjang akademik, tetapi kebutuhan lahan parkir tetap terabaikan, maka yang terjadi hanyalah pergeseran masalah bukan solusi yang menjadi jawaban dari keresahan mahasiswa selama ini. Pembangunan ruang kelaas dan gedung BSI akan lebih maksimal jika ditopang dengan fasilitas pendukung lain yang proporsional, termasuk akses parkir yang layak.

Pembangunan gedung baru untuk ruang kelas dan gedung Biro Sistem Informasi merupakan langkah nyata UMP dalam meningkatkan sarana akademik dan layanan digital kampus. Upaya ini tentu patut diapresiasi sebagai bagian dari pengembangan institusi. Namun, jika pembangunan tersebut justru mengorbankan fasilitas dasar seperti lahan parkir tanpa solusi pengganti, maka permasalahan lama hanya berpindah bentuk. Alih-alih menjadi solusi, pembangunan ini malah memunculkan persoalan baru yang mengganggu aktivitas harian mahasiswa. Karena itu, setiap kebijakan pembangunan perlu dirancang secara menyeluruh dan memperhatikan kebutuhan mahasiswa secara proporsional, agar kemajuan fisik kampus juga sejalan dengan kenyamanan penggunanya.