Bhaskara.id – Pelantikan kepengurusan baru lembaga tinggi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada Kamis, 27 Februari 2025 yang berlangsung di Aula Syamsuhadi Irsyad UMP Tower lantai 10 berakhir ricuh setelah mendapat penolakan dari demisioner. Acara yang seharusnya menjadi momen transisi kepemimpinan ini diwarnai ketegangan akibat terlalu mendadak serta absennya jajaran rektorat dalam proses pelantikan.
Sehari sebelum acara, mahasiswa menerima informasi mengenai pelantikan tanpa adanya sosialisasi atau koordinasi sebelumnya. Hal ini memicu protes dari beberapa pihak, terutama pengurus demisioner. Mereka memprotes absennya petinggi kampus dalam pelantikan, yang seharusnya hadir untuk memberikan legitimasi resmi terhadap kepengurusan baru.
Menurut salah satu narasumber yang tidak ingin disebutkan namanya, beliau berpandangan mengenai informasi dan surat undangan yang terlambat dan tentunya terkesan terburu-buru. Tidak dipungkiri banyak Lembaga fakultas yang merasa kaget mendapat surat undangan pelantikan Lembaga tinggi Universitas. “Untuk berita simpang siurnya sudah ada, tetapi yang namanya instansi di Universitas, kita pasti tetap menunggu informasi secara resmi. Ada hitam diatas putih.” Ujarnya.
Kericuhan bermula setelah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) telah dilantik, ketika demisioner Presiden BEM menyuarakan keberatannya. Menurutnya, pelantikan tanpa kehadiran Rektor atau perwakilan universitas tidak sesuai dengan prosedur yang telah diterapkan sebelumnya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan sengit antara demisioner, panitia KOSMA, dan beberapa perwakilan lembaga fakultas yang hadir. Panitia menjelaskan bahwa acara tetap bisa berlangsung meskipun tanpa keterlibatan langsung dari pihak Universitas. ”Pelantikan oleh Presidium merupakan kesepakatan dari panitia bersama lembaga baru, dengan tujuan sebagai cerminan independent mahasiswa. Dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa.” Ucap salah satu panitia KOSMA.
Namun, penjelasan tersebut tidak diterima oleh pengurus demisioner yang tetap bersikeras menolak pelantikan tanpa kehadiran petinggi kampus. Situasi memanas ketika beberapa mahasiswa yang tidak setuju mulai menyuarakan protes, yang kemudian berujung pada keributan.
Salah satu panitia KOSMA juga menjelaskan bahwa sebelumnya mereka telah mencoba melakukan komunikasi dengan pengurus demisioner, khususnya dari DPM dan BEM. Panitia menyebut bahwa komunikasi dengan demisioner DPM berjalan lancar, sedangkan dengan BEM justru tidak mendapatkan kejelasan mengenai keterlibatan mereka dalam diskusi persiapan pelantikan.
“Kami sudah berusaha menghubungi demisioner BEM untuk berdiskusi, tapi tidak ada kejelasan apakah mereka bersedia atau tidak. Sayangnya, mereka tidak datang untuk berdiskusi, tetapi justru hadir saat pelantikan dan menjadi dalang dalam kericuhan,” tambahnya.
Perdebatan terus berlanjut hingga akhirnya suasana semakin memanas. Beberapa mahasiswa yang hadir mulai meneriakkan protes, sementara sebagian lainnya mencoba menenangkan situasi. Melihat situasi yang tidak kondusif, panitia akhirnya memutuskan untuk menghentikan acara lebih awal. (MN/MV/BHAS)