
Minggu, 17 Februari 2019 Aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) mengadakan aksi kampanye melawan kekerasan terhadap perempuan di halaman Sasana Krida Raga Satria, GOR Satria Purwokerto. Kegiatan ini dilakukan untuk memperingati hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang bertepatan pada 14 Februari.
Kampanye ini berbentuk tarian flashmob dalam gerakan One Billion Rising yang dilakukan oleh para peserta, diantaranya Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Pemuda Baru (PEMBARU), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Teater Perisai UMP, PENAMAS, BEM Telkom dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Bayumas. Selain itu, adanya pernyataan sikap terkait penolakan kekerasan terhadap perempuan.
Gerakan One Billion Rising atau kebangkitan satu milyar (perempuan) merupakan sebuah gerakan kampanye yang dilakukan melalui nyanyian dan tarian untuk melawan eksploitasi dan kekerasan terhadap perempuan yang telah berjalan sejak 2013 di lebih dari 200 negara.
Dinda, selaku koordinator lapangan mengatakan, bahwa peringatan hari anti kekerasan terhadap perempuan tidak hanya dilakukan di Purwokerto saja. “Terdapat 15 Provinsi di Indonesia, serta 207 negara di belahan dunia yang memperingati hari tersebut, namun dengan cara yang berbeda-beda,” Tuturnya.
Dinda menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa banyak perempuan di dunia yang masih mengalami tindakan kekerasan baik secara fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi. Di indonesia sendiri, tercatat pada tahun 2017 kasus kekerasan pada perempuan mencapai angka 335.062.
Dinda juga mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara untuk memperingati Hari Perempuan internasional pada 08 Maret 2019 mendatang. Disamping itu, selain mengadakan kampanye, sebelumnya FPR pun sudah mengadakan diskusi publik tentang kekerasan terhadap perempuan.
Ia berharap bahwa dengan adanya kegiatan kampanye seperti ini, tindakan kekerasan terhadap perempuan dapat diminimalisir. “Semoga dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat dapat mengungkapkan kekerasan yang dialaminya atau orang-orang di sekitarnya.” Imbuhnya.
Siska, salah satu anggota Teater Perisai UMP yang ditunjuk sebagai instruktur gerakan flashmob mengatakan bahwa dirinya setuju dengan adanya kegiatan seperti ini. Ia mengakui bahwa saat ini masih banyak perempuan yang mendapatkan tindakan pelecehan. Selaras dengan Dinda, Siska pun berharap dengan adanya acara ini dapat mengurangi tindakan kekerasan terhadap perempuan.
Salah satu anggota FMN Cabang Banyumas, Badar menuturkan dirinya tertarik mengikuti kampanye ini karena ingin belajar untuk menghilangkan kebudayaan patriarki dalam dirinya. “Ini akan menjadi suatu kegiatan yang akan terus berlanjut karena menarik untuk dijadikan sebagai tempat belajar bagi seluruh kalangan. Selain itu, hal ini merupakan bentuk ekspresi rakyat pada negara.” Tuturnya. Selain itu, menurutnya kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari perjuangan mahasiswa untuk mengurangi tindakan kekerasan yang terjadi.(TA/NI/BHAS)