
Di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) terdapat Fakultas yang menerapkan jumlah mahasiswa dalam satu kelas sekitar 50 sampai 70 mahasiswa. Seperti yang terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES).
“Dengan 60 mahasiswa dalam satu kelas, saya merasa kegiatan perkuliahan kurang kondusif dan tidak efektif.” Begitu kata Sri Suparti, Dosen sekaligus Kepala Program Studi Ilmu Keperawatan S1 FIKES.
Sri Suparti berharap pihak Universitas lebih memperhatikan daya tampung per program studi. Alasannya, agar jumlah mahasiswa bisa sesuai dengan daya tampung dan tenaga pendidik di setiap Fakultas.
Apa yang dirasakan oleh Sri Suparti, senada dengan yang dirasakan oleh Nur Wulan selaku mahasiswa FIKES. Ia sering susah konsentrasi ketika kegiatan perkuliahan, Ia mengeluhkan ketika dosen hanya berinteraksi dengan bebarapa mahasiswa. “Saya merasa kegitan perkuliahan kurang efektif, karena jumlah mahasiswa dalam satu kelas ada 61.”, imbuhnya. Ia berharap target jumlah mahasiswa baru disesuaikan dengan fasilitas atau daya tampung UMP, agar mahasiswa bisa fokus melakukan kegiatan perkuliahan. Dan sebaiknya jumlah mahasiswa perkelas disesuaikan dengan kapasitas ruangan.
selain itu, keluhan juga muncul dari mahasiswa FEB, Faedhatul Azizah, yang mengatakan jumlah kursi sering tidak sesuai dengan jumlah mahasiswa yang akan menggunakan ruangan, membuat mereka harus mengambil kursi dari ruangan yang lain.
“Saya juga susah konsentrasi karena tidak semua anak dikelas bisa kondusif saat ada dosen atau saat perkuliahan, ada yang bercerita sendiri, ada yang memainkan gawainya. Jadi konsentrasi saya terbagi, belum lagi teman yang duduk disebelah saya sering mengajak ngobrol sendiri.” Jelas Faedhatul Azizah.
Bhaskara pun akhirnya mencoba mengkonfirmasi terkait kondisi kelas dan jumlah mahasiswa kepada pihak dosen dan Wakil Dekan 1 FEB.
Nur Isna selaku dosen FEB, menjelaskan salah satu alasan mengapa pihak fakultas menerapkan jumlah mahasiswa dalam satu kelas sebanyak 50, karena kurangnya tenaga pendidik atau dosen. Dengan pembagian 50 mahasiswa per kelas, jam mengajar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis sudah sangat padat, dari hari senin sampai dengan hari sabtu, mulai jam 07.00 sampai malam. Apalagi bila dipecah menjadi 40 mahasiswa per kelas.
Namun jika tidak memungkinkan untuk dipecah menjadi 40 mahasiswa dalam satu kelas, ia merasa tidak keberatan. Asalkan fasilitas ruang perkuliahan mendukung. Ia berharap gedung Kuliah Fakultas Ekonomi dan Bisnis bisa dalam satu gedung, agar konsentrasi mahasiswa tidak tengganggu karena harus berganti-ganti gedung dan jam kuliah pun lebih banyak termanfaatkan untuk penyampaian materi.
Berbeda dengan Nur Isna, Alfato Yusnar Kharismansyah yang juga dosen FEB merasa tidak mengalami kendala berat ketika harus mengajar 50 mahasiswa dalam satu kelas. Ia merasa ilmu yang disampaikan dapat diterima oleh seluruh mahasiswa dalam kelas. Seluruh mahasiswa juga dapat fokus memperhatikan saat kegiatan perkuliahan.
Walakin, menurutnya Karena dalam satu kelas terdapat 50 mahasiswa, maka suara dosen harus keras setiap kali mengajar. karena itu menurutunya untuk mengurangi beban mengajar di setiap kelas yang digunakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis harus terdapat mikrofon atau pengeras suara untuk menunjang kegiatan perkuliahan. Dengan begitu suara dosen dapat didengar hingga ke mahasiswa yang duduk di barisan paling belakang.
Sedangkan berdasarkan pengakuan Wakil Dekan 1 FEB, Wida Puwidianti Jumlah dosen FEB saat ini ada 41 dan setiap tahun FEB membuka lowongan untuk dosen baru sesuai dengan kebutuhan, melihat dari jumlah mahasiswa yang semakin bertambah. “Dalam Formulir (Borang) BAN-PT tidak ada aturan yang mengatur jumlah mahasiswa dalam satu kelasnya. Tetapi tergantung dari kapasitas kelasnya. Di FEB kapasitas kelas dapat menampung 50 mahasiswa. Jadi kami membatasi dalam satu kelas teori hanya bisa diisi oleh 50 mahasiswa, ketika satu kelas sudah penuh, mahasiswa yang lain harus mengambil kelas yang lain.” Ujar Wida Purwidianti selaku Wakil Dekan 1 FEB.
Ia pun turut menjelaskan bahwa fasilitas seperti mikrofon yang diperlukan oleh dosen sudah disediakan di ruang Tata Usaha (TU). Alasan pihak Fakultas mengumpulkan di ruang TU karena resiko hilang ketika diletakan di kelas cukup besar, sudah beberapa kali pihak FEB kehilangan mikrofon. Yang tersedia baru mikrofon biasa, untuk clip on sedang diusahakan. Bagi dosen yang memerlukan mikrofon bisa diambil di ruang TU dan digunakan dengan semaksimal mungkin.
Menurutnya jajaran pimpinan FEB berpedoman bahwa salah satu penilaian akreditasi berparameter pada kenaikan dan penurunan jumlah mahasiswa setiap tahunnya. Selain itu, pihak Fakultas juga berharap penambahan dan perbaikan fasilitas untuk FEB terus ditingkatkan.
“Kami sedang memperbaiki dan menambah fasilitas, dan sekarang juga sudah mulai ada perbaikan, semoga dengan kepemimpinan yang baru bisa lebih baik lagi.”, harap Wida. (RAP/Bhaskara)