berirngan dengan adanya pemiihan presiden mahasiswa muncul selebaran yang bernama bhasgaskara, selebaran ini menuai kontroversi karena tidak seimbangnya konten yang ada di dalamnya. (20/5)
Bhaskara – Pemilihan Umum (Pemilu) Calon presiden (Capres) dan Calon wakil Presiden (Cawapres) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) periode tahun 2017/2018 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Munculnya media berupa selebaran pamflet dan pesan broadcast  mengatasnamakan Bhagaskara (Bahasan, Gagasan, Karya, dan Suara Mahasiswa), sempat heboh di kalangan civitas akademika, Rabu (12/5). 
Pasalnya, nama media tersebut mirip dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bhaskara yang notabenenya sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa dan media pers di UMP. Selain itu, tidak ada keterangan penulis dan lembaga yang menerbitkan produk jurnalistik tersebut.  Terlebih lagi, ditinjau dari segi kepenulisan ini belum memenuhi kaidah jurnalistik yakni keberimbangan, disebabkan isinya condong mengkampanyekan salah satu pasangan calon dan menjatuhkan pasangan lainnya.
Munculnya produk Bhagaskara tersebut berisi profil Pasangan Capres dan Cawapres BEM nomor satu yaitu, Iqbal Muslim dari prodi Teknik Sipil dan Rahmat Dwi Nugroho dari prodi Pendidikan Pancasila dan  Kewarganegaraan (PPKn), sedangkan condong menjatuhkan pasangan  nomer dua yaitu, Capres Arief Solehan dari prodi Pendidikan Sejarah dan Cawapres Ilham Aji Asmara Dewa dari prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Dampaknya, beberapa mahasiswa sempat keliru antara produk Bhaskara dengan Bhagaskara. Seperti yang dirasakan oleh salah satu mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) semester dua, Mirza, mengaku sempat terkecoh saat membaca ulasan Bhagaskara. “Kemarin sempat baca itu, tulisannya terkesan berusaha menjatuhkan salah satu paslon dengan kata-kata yang frontal dan ada broadcast juga, tapi cuma berupa sindiran-sindiran aja,” ujarnya kepada awak Bhaskara.
“Menurut saya itu bisa saja dibuat oleh salah satu tim sukses dari paslon atau sebaliknya, apapun itu merupakan kampanye yang tidak baik. Seharusnya kalau mau bikin ulasan kampanye jangan menjatuhkan paslon lain dengan tujuan agar terlihat lebih baik,” ungkap Fauzia Ismu mahasiswi Fakultas Hukum. Ia menambahkan tulisan Bhagaskara yang anonim menimbulkan spekulasi dari para pembaca bahwa bisa saja itu dibuat oleh tim sukses paslon satu untuk menjatuhkan paslon dua atau bisa saja itu dibuat oleh tim sukses paslon dua untuk membuat seolah paslon satu berusaha menjatuhkan mereka.
Menanggapi hal tersebut, Iqbal Muslim Capres nomor satu mengungkapkan tidak tahu menahu perihal si pembuat Bhagaskara, bisa saja dibuat oleh tim suksesnya atau tim sukses dari paslon dua agar seolah-olah publik menyalahkan paslon satu. “Ada dua kemungkinan, yang pertama dari pihak kami atau yang kedua dari pihak sana sehingga publik menyalahkan kami,” ungkapnya.
Adapun Cawapres nomor satu, Rahmat menanggapi bahwa ini merupakan salah satu dinamika kampus. “Dimana-mana pasti ada dinamika, tinggal bagaimana cara menyikapinya saja,” tanggapnya.
Sedangkan mahasiswa Fakultas Hukum semester dua selaku tim sukses paslon satu, Eko Nur Setiawan, mengatakan tidak ada pengaruh signifikan yang dirasakan oleh tim sukses maupun paslon satu terkait adanya selebaran Bhagaskara sehingga tidak menjadi masalah yang berarti.
Hal berbeda diungkapkan Malina Ulinnuha, selaku tim sukses paslon dua. “Yang jadi masalah itu kenapa harus ada berita-berita seperti itu, kami cuma pengen tau aja siapa yang buat,” tegasnya.
Saat ditemui, paslon nomor dua yang menjadi bahan ulasan Bhagaskara mengaku tidak terlalu serius menanggapi perihal tersebut dan menyerahkan kembali semuanya pada kepercayaan masing-masing pembaca. Arief Solehan selaku Capres paslon nomor dua mengaku santai menghadapi permasalahan ini dan memilih fokus sesuai undang-undang yang sudah ada.
Senada dengan Capres paslon dua, Ilham selaku Cawapres pun tidak mempermasalahkannya. “Kami tidak menyalahkan pihak manapun, hanya mengira-ngira saja siapa yang membuatnya,” katanya.(IRA/Bhaskara)