Toto gelap (Togel), kian digandrungi oleh berbagai kalangan disuatu pedesaan. Mencari angka keberuntungan telah menjadi sebuah rutinitas sehari-hari. Pementasan “Kas_min” oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater perisai UMP menyajikan sosok Kasmin yang diyakini mampu memberi angka keberuntungan, namun Kasmin jua lah yang merenggut nyawa orang-orang yang meyakininya. (5/5)
Lantunan tembang Darma Mapacat, mendengung syahdu ditelinga ratusan penonton di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP sebagai pertanda pementasan telah dimulai. Pak Haji Kasno tengah membolak-balik koran di depan warung miliknya. Ia mengenakan peci putih dikepala, dengan janggut hitam turut menghiasi wajah yang nampak mengamati koran. Akan tetapi siang itu, suara Hj. Siti tiba-tiba memecah, sebab gemas dengan lakon suaminya yang tak henti-henti mengandrungi koran tersebut. Amarah istrinya meledak kala mengungkit masalalu suami yang sering masuk Bui. Keheranannya diperparah dengan kepulangan suami yang selalu membawa duit berlimpah, hingga mampu naik haji dan digunakan modal untuk membuka warung.
Ditengah perhelatan, sosok pemuda kurus dengan rambut merah bergelombang menghampiri dua pasangan yang masih berdebat didepan warungnya. Tatapannya kosong dan wajahnya kucel menggambarkan ia tidak mengurus dirinya. Ia memiliki kelainan jiwa, namanya adalah kasmin. Pak Haji Kasno segera menyambut dan mempersilahkan duduk sekaligus memberi sepotong roti. Tak lama kemudian, Si Budi budek, seorang Bandar togel juga menghampiri warung dan bertanya mengenai pandangan pak Haji Kasno seputar nomer keberuntungan yang kira-kira keluar. Pak Haji Kasno mengaku selama ini ia beruntung sebab selalu mendapat nomer dari si Kasmin. Sontak membuat Si Budi terkejut namun akhirnya ia berusaha membujuk pak Haji agar diijinkan bergantian untuk mengurusi Kasmin. Sosok kasmin (keterbelakangan mental) hanyalah salah satu orang yang dianggap mujur dalam menentukan nomor togel.
Warung pak Haji Kasno semakin ramai dengan kedatangan Karsidi, seorang lelaki bertompel yang bekerja sebagai pekerja dari juragan ayah Kasmin. Ia diperintahkan untuk menjemput Kasmin akan tetapi ia asyik menceritakan kemalangannya sebab gajinya selalu dipotong dan utang kian menumpuk. Namun perhatiannya teralihkan kala membincangkan nomor keberuntungan yang diperolehnya dari mimpi. Beberapa saat kemudian, kala karsidi dan kasmin telah pergi, pemain yang berperan menjadi seorang guru berseragam dan seorang lelaki pengangguran bernama Rawan juga singgah ke warung tersebut dan kesempatan itu digunakan oleh pak haji untuk menagih hutang keduanya.
Setali tiga uang, Budi si Bandar Togel juga menagih hutang mereka. Akan tetapi keduanya tak membayar malah membahas nomor keberuntungan untuk memasang togel. Dari cerita ini menggambarkan bahwa togel menjadi primadona berbagai kalangan dan sejatinya tak jauh dari lilitan utang yang kian menumpuk.
Singkat cerita, sore telah beranjak dan malam pun menghampiri kediaman pak Haji Kasno. Dalam tenangnya, Sang Ibu menyambut hangat kedatangan anaknya yang bernama Untung yang mengenakan seragam polisi ditubuhnya. Raut wajah si Untung cemas seraya mencari Bapak. Ibu memperhatikan kegelisahan pada wajah anak semata wayangnya. Tak tahan menyimpan kekhawatiran, dengan berat hati si Untung mengatakan kabar buruk pada ibunya bahwa Bapaknya terdaftar sebagai target operasi di Kapolres tempat ia bertugas karena diduga pak Haji Karno terlibat atas terbunuhnya Budi.
Tangis dan emosi ibunya memuncak, tatkala sang anak hendak menjebloskan Bapaknya sendiri ke Bui. Terjadi dialog yang begitu panjang antara sang anak dan ibu yang terus memohon agar si anak mampu menolong bapaknya. Namun keteguhannya ingin menegakkan hukum membuat ia tetap pada pendiriannya. Bahkan ia ikhlas jikalau harus menembakkan kepalanya sendiri dengan pistol daripada menahan rasa malu sebab memiliki bapak seperti itu. Pertengkaran kian memanas kala pak Haji Kasno datang ke kediamannya. Sesekali ibu mengeluskan dada seolah tak percaya.
Tak kuasa dengan adu mulut yang terjadi antara ketiganya, Sang ibu dan Untung masuk ke kamar meninggalkan pak Haji Kasno yang sedang duduk seorang diri di ruang Tamu. Tak menunggu berapa lama, suara amukan Kasmin terdengar hingga kediaman pak Haji Kasno, sontak membuat pak Haji Kasno keluar dan berusaha menenangkan Kasmin. Kasmin terlihat beringas hingga membuat pak Haji Kasno kewalahan dan membentaknya, dengan spontan Kasmin menancapkan pisau yang dipegangnya. Darah mengucur deras diperut bekas tusukan pisau tersebut dan seketika itu juga menewaskannya.
Akhir yang tragis dialami oleh Pak Haji Kasno yang telah dikenal sebagai penggemar togel di desanya. Pementasan “Kas_min” berakhir dengan adegan terbunuhnya pak Haji Kasno ditangan Kasmin, padahal kasminlah yang selalu diyakininya bisa memberikan angka keberuntungan untuk togelnya. Semua pemain dan crew yang bertugas, menghamburkan diri ke panggung pementasan seraya lampu dinyalakan serta lantunan musik bergema, ditambah riuhnya tepuk tangan penonton, mengantarkan pada penghujung acara pementasan.
Pementasan yang dilakoni pemain Teater Perisai ini, tidak lepas dari bentuk kritik sosial terhadap masyarakat yang terkena penyakit toto gelap (Togel). Banyak masyarakat yang menggilai togel dan fenomena inilah yang menjadi inspirasi Sutradara “Kas_min” yakni Rifqi Isna. Kegelisahannya bermula karena fenomena ini dirasakan langsung oleh masyarakat disekitarnya. Sesuatu yang tabu kini menjadi lumrah dan setiap kalangan turut menggemari permainan togel tersebut. Seolah tak pandang bulu, dikisahkan bahwa togel digandrungi bukan hanya kaum bawah dengan status pengangguran, pelayan saja, bahkan kaum terdidik pula melahap togel tersebut. Tak jarang, hasil togel menjadi sumber penghasilan untuk menafkahi keluarga dan menjadi tamu di Baitullah (Mekah).
Pementasan yang diproduksi oleh efek lampu neon ini, memberi pesan mendalam kepada penonton. Sutradara menjelaskan pada sesi diskusi bahwa sebagai kalangan terdidik supaya lebih kritis melihat fenomena yang terjadi. “Harapannya setelah menonton pertunjukan ini, ada respon baik dari kalangan terdidik terutama mahasiswa agar terpicunya daya kritis untuk bijak menanggapi fenomena tabu yang sekarang telah menjadi lumrah di masyarakat.” Ujarnya. (UK/Bhas)
