
Peluncuran dan bedah buku Antalogi Karya Sastra yang berjudul “Kembang Glepang” akhirnya resmi dilaksanakan oleh Dinas Pemuda, Olahraga, budaya dan Pariwisata Pemkab Banyumas di Pendopo Wakil Bupati, senin pagi (31/12). Peluncuran 1.100 eksemplar buku tersebut akan ditujukan kepada sekolah-sekolah dan perpustakaan. Upaya pembuatan antalogi ini mengalami beberapa kendala yang dinilai oleh Penyunting dan para Kritikus sastra menjadi PR Banyumas dalam hal kesastraan jawa. Pasalnya naskah mulai disusun dari dua tahun yang lalu dan kini baru resmi diluncurkan.
Jarot Setyoko selaku Penyunting Kembang Glepang mengakui terdapat beberapa kendala dalam pembuatan antalogi tersebut sehingga masih banyak PR untuk Banyumas terutama dalam penginyongan. “Perlu adanya pembakuan dalam bahasa ngapak sebab setiap daerah memiliki logatnya masing-masing. Selain itu, perlunya ada kurikulum bahasa ngapak didalam pembelajaran sekolah.” Ujarnya saat berada di mimbar narasumber acara tersebut.
Menanggapi hal tersebut, dari pihak pemerintah telah berupaya membuat kurikulum bahasa penginyongan. “Sebenarnya, kurikulum bahasa Jawa ngapak atau Penginyongan sedang dalam proses pembuatan dan akan diterapkan di sekolah-sekolah.” Ungkap Bambang Widodo.
Senada dengan Jarot Setyoko, narasumber kedua yaitu Abdul Aziz Rasjid menanggapi terkait kesulitannya mencari referensi budaya Banyumas. Begitu disayangkan, justru yang melakukan penelitian tersebut banyak dari luar Banyumas. Oleh karena itu kehadiran Kembang Glepang layak diapresiasikan. “Antalogi ini lahir dari Rahim komunitas sastra yang ada di Banyumas, walaupun belum lengkap tetapi ini cukup beragam dari berbagai komunitas”. Ujarnya.
Dalam keterlibatan pembuatan buku Kembang Glepang ini, ada 66 penulis yang sebagian besar terdiri dari Komunitas Penyair Institut Universitas Muhammadiyah Purwokerto (KPI UMP) dan komunitas Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) dari Institut Agama Islam Negeri Purwokerto. Sebagai ajang evaluasi, Abdul Aziz Rasjid memberi kritikan terhadap penulis Banyumas mengenai gaya penulisannya. “Seniman Cerpenis Banyumas memiliki keterpengaruhan kental seperti Ahmad Tohari sementara puisi mendapat keterpengaruhan oleh Sapardi Djoko Damono.” Tambahnya. Ia mengomentari bahwa seniman itu pembaharu, meskipun sastra memang cenderung kutipan tetapi sastra juga mengenal metafiksi. “Tentunya ada pembaharuan kosakata.” Pungkasnya.
Begitu halnya dengan Jefrianto seorang kritikus sastra selaku narasumber ketiga. Ia mengatakan bahwa buku Kembang Glepang ini menjadi pemantik kita (wong Banyumasan) untuk mengenal dan melestarikan dialek Banyumasan atau penginyongan yang termasuk sastra Jawa. “Banyumas masih gerilya dalam sastra Jawanya. Untuk membangun semangat dialek Banyumasan, kita tidak boleh melupakan bahasa Jawa sebagai bahasa asalnya.” Tegasnya. Hal ini terjadi karena masyarakat luas beranggapan bahwa bahasa ngapak bukanlah bagian dari bahasa Jawa sehingga perlu mengenalkan bahwa ngapak itu bagian dari bahasa Jawa. Ia pun menambahkan, saat ini yang ditunggu adalah sosok seniman sastra Jawa pasca Ahmad Tohari. Ahmad Tohari telah membuat kamus Banyumas, Majalah Ancas juga telah mendirikan Yayasan membahas sastra Jawa. “Lalu, endi wong Banyumas liane?” Komentarnya.
Hal ini dirasa menjadi PR pemerintah guna membenahi kebudayaan di Banyumas. Harapan para kritikus sastra terhadap pemerintah yakni tidak sekedar menerbitkan buku antalogi saja tetapi kedepannya ada festival sastra yang dapat berkolaborasi dengan seni lainnya. (UH/Bhas)