Bhaskara.id – Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) merupakan kompetisi di bidang seni bagi mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud. Peksiminas rutin diadakan setiap dua tahun sekali, tahun ini merupakan agenda Peksiminas yang ke XV. Tetapi pada kompetisi bergengsi kali ini, diketahui bahwa UMP tidak dapat berpartisipasi pada Peksiminas XV, karena gagal dalam proses seleksi administrasi.
Berdasarkan pengakuan Purnadi selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan alumni (BKA) pada Selasa, (03/11). Ia menyatakan gagalnya UMP dalam Peksiminas karena kesalahan dari BKA yang tidak paham mengenai alur pendaftaran online dan input data.
“Dari pihak BKA melakukan kesalahan. Kita sudah mendata karena secara online. Karena kita belum pernah melakukan pendaftaran online dengan strategi yang sekarang. BKA kurang paham, bahwa pendaftaran yang kita daftarkan masuknya ke operator semua. Harusnya operatornya satu, baru masuk ke tangkai-tangkai lomba,” tutur Purnadi.
Purnadi menyampaikan, kesalahan tersebut merupakan keteledoran mereka. Pihak BKA baru sadar setelah ada pemberitahuan jika UMP tidak masuk seleksi. Terkait pemberitahuan (ke mahasiswa) yang lama, dikarenakan ada kabar dari contact person (CP) untuk berkirim surat ke Pusat Prestasi Nasional.
“Kami juga berusaha untuk mengirim surat via email, ke Pusat Prestasi Nasional. Sebetulnya Senin kita mau proses, tapi ada yang terkena Covid. Jadi kita tidak jadi proses. Saya juga masih menunggu info dari CP agar kita bisa punya peluang tetap melaju di Peksiminas,” tutur Purnadi.
Wakil Rektor III, Akhmad Darmawan menanggapi dengan rasa kecewanya kepada pihak BKA karena ketidaktahuan mereka membuat UMP tidak bisa melaju di Peksiminas tahun ini.
“Saya sangat kecewa. Saya tidak tahu mempercayakan siapa, karena ini sudah kesalahan teknis. Daftar saja tidak bisa. Covid itu bukan sebagai alasan. Ini tidak mungkin ada plan B karena sudah proses seleksi. Intinya kita sudah tidak bisa mendaftar ke Peksiminas,” ungkap kekecewaan Ahmad Darmawan.
Darmawan menuturkan jika UMP selalu berpartisipasi dalam kegiatan Peksiminas. Tetapi baru kali ini, UMP tidak mengikuti Peksiminas.
“Dalam sejarah kemahasiswaan UMP, berpuluh tahun. Baru kali ini UMP tidak ikut serta dalam Peksiminas. Sebelumnya itu pasti ada yang menyumbang juara. Karena mahasiswa kita punya kemampuan yang luar biasa, sering juara,” ujar Darmawan, Selasa (03/10) di Auditorium Ukhuwah Islamiyah UMP.
“Mahasiswa sudah susah payah latihan. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan materi. Kok dianggap sepele, karena tidak bisa daftar,” imbuh Darmawan.
Ekor dari permasalahan tersebut, pada Rabu, (04/11) Kepala BKA, Purnadi secara resmi melayangkan surat pengunduran diri kepada rektor. Hal tersebut ia sampaikan melalui surat pengunduran diri yang beredar di kalangan mahasiswa.
Surat pengunduran diri Kepala BKA yang beredar di kalangan mahasiswa.
Dalam surat pengunduran diri tersebut, Purnadi menyatakan mengundurkan diri atas arahan dari WR 3 dan juga desakan mosi tidak percaya dari mahasiswa, alih-alih mengakui kesalahannya.
Siraj Farasi, Mahasiswa Fakultas Kedokteran yang merupakan peserta terpilih tangkai lomba lagu pop hingga Rabu, (04/11) saat diwawancarai oleh reporter menyatakan tidak tahu bahwa UMP gagal melangkah di Peksiminas.
“Saya sudah masuk grup khusus yang mengikuti Peksiminas di UMP. Tidak ada sama sekali yang memberitahu bahwa UMP gagal melaju di Peksiminas. Bahkan dari pihak BKA pun tidak memberitahu,” tutur Siraj Farasi yang kerap dipanggil Siraj.
Setelah mengetahui berita tersebut, Siraj merasa sangat kecewa. Ia mengaku kembali ke Purwokerto sejak persiapan lomba Peksiminas. Ia selalu latihan setiap hari atau dua hari sekali. Tetapi pada saat itu, ia tidak kunjung mendapat kabar terkait kelanjutan Peksiminas.
Siraj juga memberikan saran agar panitia persiapan Peksiminas UMP lebih transparan dan informatif di grup, bukan hanya melalui personal chat. Dan meminta agar panitia satu suara, karena informasi yang diberikan sangat kurang. Ia juga menyatakan yang paling penting ialah berbicara kenyataan jangan hanya harapan.
“Sebetulnya titik utamanya di komunikasi. Karena kita sudah menunggu dari lama. Kita pun sudah kangen untuk berkompetisi. Kita mau di era pandemi setidaknya kita bisa menyalurkan suara hati kita lewat karya,” harap Siraj.
“Misal kenyataannya dari awal kita udah ketinggalan, tolong dibicarakan. Soalnya ini tiba-tiba ada kabar gagal di administrasi, menurut saya suatu hal yang konyol. Tapi yasudah, baru saja ada panitia yang chat saya secara personal bilang akan ada perkumpulan buat apresiasi, dan pendampingan terkait peksiminas,” ungkap kesal Siraj.
Tetapi hingga saat ini, Siraj sendiri belum paham apa yang dimaksud dengan pendampingan Peksiminas, apakah memang mereka akan melanjutkan Peksiminas atau bagaimana.
Senada dengan Siraj, Husnia Nur Amalia, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UMP yang mengikuti tangkai lomba tulis puisi juga menyatakan kekecewaannya. Ia juga baru mengetahui bahwa UMP gagal melaju di Peksiminas, dan tidak ada informasi melalui grup Peksiminas.
“Sudah mau satu bulan, tidak ada kejelasan apapun terkait pengumuman. Panitia hanya bilang nanti akan ada pengumuman lebih lanjut, tunggu saja, stay on Instagram. Dan sekarang malah baru tahu ada yang bilang UMP gagal melaju di Peksiminas,” ungkap Husnia Nur Amalia yang akrab dipanggil Husnia.
“Saya kesal. Digantung sebulan tanpa kejelasan, eh ternyata ada berita itu. Yang lebih kasihan lagi peserta lainnya. Dari minggu-minggu sebelumnya sudah bertanya kapan pengumumannya. Tetapi dari pihak kampus belum memberitahu kejelasannya, atau sebab akibat sampai sekarang belum ada pengumuman,” ungkap Husnia.
Husnia juga mengatakan hingga Rabu, (04/11) pihak BKA masih belum memberikan pernyataan kepada para peserta terkait kelanjutan Peksiminas melalui grup. Husnia berharap jika ada suatu kendala atau ada masalah lebih baik pantia langsung saja menginformasikan. Sehingga tidak membuat peserta menunggu lama tanpa kejelasan.
Ia juga menyayangkan terkait kabar gagalnya Peksiminas justru ia dengar dari orang lain, bukan dari pihak panitia persiapan Peksiminas UMP sendiri.
“Di grup hingga saat ini belum ada klarifikasi sampai sekarang. Intinya jangan menyepelekan, setidaknya dalam mengikuti event harus dimaksimalkan. Jangan membuat para peserta menjadi pupus harapan. Apalagi ada banyak mahasiswa baru yang ikut lomba, setidaknya jangan mengecewakan mereka yang baru masuk dunia kampus dengan hal seperti itu,” saran Husnia kepada pihak panitia.
Husnia berharap agar kedepannya semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Dan berharap agar kampus bisa lebih baik untuk memaksimalkan dalam mengikuti event, baik nasional regional, terlebih event internasional. Karena bagaimana pun hanya pihak kampus yang berhak atas segalanya, jika peserta sudah memaksimalkan tapi kampus kurang, sama saja seperti minum air dalam gelas kosong.
(RTA/BHAS)
