sumber ilustrasi: google.com

Oleh: Habibi khimas alhusni

Bicara media sosial tentu semua orang tahu. Bahwasanya, media sosial memiliki manfaat dan dampak yang begitu kentara. Pada era sekarang ini, orang telah menggantungkan dirinya dengan media sosial. Sampai-sampai media sosial telah menjadi kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Sejak 2009, Tahun dimana IOS dan android telah diperkenalkan. Suatu peranti yang kita kenal dengan nama gawai. Gawai ini menjadi mula adanya ketergantungan kita terhadap media sosial.

Orang yang telah bergantung pada media sosial akan mengalami kecanduan. Dimana hal ini, dapat menyebabkan guncanggan pada kesehatan psikis. Walaupun sebenarnya, banyak juga manfaat yang sangat membantu  kehidupan kita. Dampak dari menggunakan gawai secara tidak bijak, sebenarnya telah kita rasakan. Tapi, hal ini sangat tidak kita sadari. Mulai dari; menurunnya rasa pecaya diri, hubungan antar manusia, daya ingat, tidur, bahkan depresi.

Kenapa hal ini bisa terjadi?. Karena, kita terlalu acuh pada hal-hal yang tidak terlihat. Proses bermedia sosial inilah yang membuat kita menjadi manusia yang kurang bijak dalam mengatur waktu bersosial media.

Rasa Percaya Diri

Kita tahu, bahwa setiap manusia memiliki kecemasan. Dan tak jarang kecemasan ini selalu kita ceritakan kepada orang lain. Termasuk menceritakan atau memposting di media sosial.

Hal inilah yang menjadi tanda tanya bagi kita, apakah masih memiliki kesadaran atau tidak. Sebab, apa-apa yang kita ceritakan di media sosial memiliki arti penting yang ingin dimiliki atau dialami oleh orang lain. Sehingga, memunculkan rasa tidak percya diri terhadap orang lain.

Kesadaran manusia terhadap sesuatu yang tidak terlihat sangat jarang dilakukan. Sehingga tidak adanya rasa peduli, bahwa sebenarnya ada yang ingin mengalami. Mereka adalah orang-orang yang pada kenyataannya tidak mampu meraih apa yang diinginkannya, akhirnya timbullah rasa tidak percaya diri. Rasa itu mulai timbul saat membanding-bandingkan antara pengguna media sosial yang satu dan lainnya. Biasanya, hal ini terjadi karena adanya rasa iri yang begitu mencolok.

University of Copenhagen telah meneliti bahwa orang yang menggunakan media sosial akan mengalami “Facebook Envy” ketika kita menggunakan Facebook. Sebenarnya teori “Facebook Envy” juga bisa digunakan di media-media sosial yang lainnya. Entah itu Twitter, Instagram, dan lainnya. Yang biasa digunakan untuk memposting kegiatan-kegiatan keseharian. Karena, “Envy” disini memiliki makna “iri”.

Hubugan antar Manusia

Manusia sebagai pemilik peran sosial dan budaya. Seiring berjalannya waktu, peran tersebut dapat menghilang dan pudar secara perlahan. Hal itu disebabkan karena ketergantungan manusia kepada gawai. Orang lebih suka didalam kamar ketimbang keluar rumah untuk berinteraksi. Karena, hal-hal yang menarik saat kita bermedia sosial begitu banyak.

Kenapa interaksi sosial ikut terpengaruhi? Kita tahu pengguna gawai lebih cenderung menghabiskan waktunya untuk berselancar di media sosial. Hal ini sangat berpengaruh pada kenyamanan hati yang dapat mengurangi kemampuan kognitif dalam bersosialisasi dengan orang lain dan bisa membuat kita menjadi pribadi yang tertutup.

Berdasarkan apa yang saya alami, kebanyakan dari kita sering menggunakan gawai secara berlebihan. Sampai kadang kita lupa dengan lawan bicara saat berkomunikasi. Hal inilah, yang memicu adanya kesenjagan interaksi. Nah, dari sinilah mulai muncul adanya sikap yang kurang harmonis sehingga  menurunkan hubungan kita dengan sesama.

Tidak hanya interaksi secara langsung saja yang rusak. Tetapi, didalam bermedia sosial juga berakibat fatal jika tidak bijak dalam menanggapi setiap postingan yang masuk. Karena, media sosial dapat menjadi sesuatu yang sangat mengerikan berupa ujaran kebencian, hoaxs,dan lain-lain. Yang mana, hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada diri sendiri bahkan sesama.

Daya Ingat

Sebenarnya, Media sosial bisa menjadi acuan. Cara terbaik untuk mengingat kenangan dan menceritakan kembali bagaimana peristiwa masa lalu bisa terjadi. Namun, itu mendistorsi cara kita mengingat bagian-bagian kecil dalam hidup.

ketika gawai sudah menyihir kita, disitulah adanya ketergantungan yang sangat berpengaruh pada memori kita, adanya rasa bersalah pada diri sendiri. Karena, ketika ada momen yang sangat berkesan, kita lebih mementingkan fokus untuk mengambil gambar atau video lewat gawai. hal ini menjadikan kita melewatkan fenomena atau kejadian untuk melihat secara langsung.

Akhirnya, hal-hal yang sebenarnya sepele tersebut. Menjadikan kita malas untuk beraktifitas dan memilih media sosial sebagai tempat untuk mengabadikan apa yang kita alami. Disinilah, penyebab semangat kita menurun dan menjadikan gawai sebagai acuan alat terbaik untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk mengingat.

Tidur

Memiliki waktu tidur secara cukup merupakan hal penting untuk kesehatan manusia. Namun, banyak orang yang bermain gawai sebelum tidur. Hal ini menyebabkan kita sulit untuk memejamkan mata.

Menurut pengarang buku When Likes Aren’t Enough, pada majalah Healthline. dr. Tim Bono, ia mengatakan “Kecemasan dan rasa iri yang berasal dari media sosial membuat otak ‘terjaga’, mencegah kita untuk tertidur.Selain itu, cahaya dari gadget juga menghambat produksi melatonin, hormon yang membuat kita merasa lelah,”.

Sebenarnya hal ini sepele. Tapi, sangat berakibat fatal. Bilamana kita lakukan secara terus-menerus. Karena, pada kenyataannya penyebab dari malas saat beraktifitas salah satu hal tersebut adalah kurangnya waktu tidur kita.

Depresi

Dampak dari tidak percaya diri, kesulitan memusatkan perhatian hubungan antar manusia, daya ingat, dan tidur yang diakibatkan tidak bijaknya dalam menggunakan gawai dapat mengakibatkan kita terkena depresi.

studi terbaru yang dipublikasikan di “Journal of Social Clinical Psychology” mengemukakan bahwa ternyata ditemukan adanya hubungan kausal antara penggunaan media sosial dan dampak negatif terhadap kesejahteraan. Kondisi tersebut terutama dalam hal depresi dan rasa kesepian.

Jordyn Young dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa seseorang yang lebih jarang menggunakan media sosial umumnya cenderung tidak depresi dan tidak kesepian. Ia juga menambahkan, mengurangi penggunaan media sosial dapat menyebabkan terjadinya perbaikan, utamanya dalam hal kualitas kesejahteraan hidup seseorang.

Para pakar berhipotesis, ini merupakan akibat suatu konten yang biasanya telah dipilih secara saksama, dalam arti hanya menampilkan apa yang ingin orang tersebut perlihatkan. Misalnya mengunggah makanan di restoran mewah, dokumentasi kebahagiaan liburan keluarga, liburan romantis dengan pasangan, pesta dengan teman-teman, atau konten lain yang umumnya ingin memperlihatkan keceriaan atau energi positif lainnya.

Orang-orang yang melihat konten tersebut akan membandingkan hidupnya dengan konten yang ia lihat, yang mana konten tersebut terkesan jauh lebih menarik. Adanya perbandingan inilah yang diduga memicu seseorang mengalami depresi.

Karena sudah ada hasil studi yang mengemukakan bahwa aktivitas media sosial yang berlebihan dapat mengakibatkan rasa kesepian dan depresi, karenanya kita diharapkan bersikap bijak dalam hal penggunaannya. Misalnya saat bersama dengan teman-teman atau keluarga, baiknya jangan sibuk memandangi smartphone. Ingat, kebersamaan di dunia nyata jauh lebih membahagiakan ketimbang sibuk melihat berbagai konten unggahan di media sosial.