Bhskara.id – Sorak sorai mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pecah ketika Yovie & Nuno tampil di panggung malam inagurasi First Time at Campus (FTC) 2025. Lagu-lagu hits yang dibawakan membuat suasana semakin hangat sekaligus meriah, menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dengan penuh kenangan.

Bagi mahasiswa baru, konser ini menjadi momen pertama mereka menikmati hiburan besar bersama teman-teman seangkatan. “Menurut saya sangat worth it, karena dengan biaya Rp135.000 kami mendapat banyak hal. Ada materi dari influencer, konsumsi yang enak, souvenir, tiket konser, voucher diskon, kaos, hingga konser,” ungkap salah satu mahasiswa baru dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Salah satu Panitia FTC 2025 mengatakan biaya yang ditarik dari mahasiswa baru sudah disesuaikan dengan fasilitas yang diberikan. “Goodie bag ada dua, satu berisi cemilan dan satunya alat tulis. Dibanding universitas lain, Rp135.000 ini sudah pas. Harapannya mahasiswa baru bisa menikmati konser ini dan lebih semangat menjalani kuliah ke depannya. Ini persembahan terakhir kami sebagai panitia,” ujarnya.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (BEM UMP), Yoga Dwi Yuwono, menambahkan bahwa transparansi adalah kunci penting agar mahasiswa yakin dengan penggunaan dana. “Kalau dari mahasiswa untuk mahasiswa, ya worth it-worth it saja. Yang penting transparansi, mahasiswa tahu ke mana dana itu digunakan. Dan perlu ditegaskan, Rp135.000 ini tidak termasuk kaos, karena kaos memang dikeluarkan oleh birokrasi,” tegasnya.

Meski panitia mengakui ada tantangan, terutama soal pengelolaan keuangan, malam inagurasi FTC 2025 tetap berjalan sukses. Salah satu panitia FTC 2025, menjelaskan bahwa dana sebesar Rp135.000 dari mahasiswa baru harus benar-benar diatur secara cermat. “Aduh, kalau tantangan terbesar sih ya soal keuangan. Kita manfaatkan apa yang ada, lalu diatur supaya bisa merata untuk semua kebutuhan. Dari konsumsi, souvenir, hingga persiapan konser, semua butuh alokasi yang pas,” ungkapnya.

Dengan keterbatasan anggaran, panitia dituntut kreatif. Beberapa kebutuhan acara, seperti pengisi materi dan logistik, dikelola dengan memaksimalkan kerja sama sponsor serta dukungan pihak kampus. Transparansi menjadi prinsip utama agar mahasiswa tahu bahwa dana yang dibayarkan benar-benar kembali dalam bentuk fasilitas dan pengalaman yang mereka rasakan.

Mahasiswa baru Prodi Agroteknologi, Wisnu Handika, turut memberi pandangan, menilai keterbukaan penggunaan dana harus diperkuat ke depan. “Oke, sebelumnya saya benar-benar nggak tahu bahwa kaosnya dari birokrasi ya. Eh, kalau memang begitu menurut saya penting untuk ke depannya adanya transparansi lebih jelas mengenai rincian penggunaan HTM Rp135.000 itu. Jadi, mahasiswa baru itu tahu betul alokasi dananya untuk apa saja, bukan soal mahal atau murahnya, tapi lebih ke kejelasan dan keterbukaan supaya semua pihak merasa tenang dan percaya. Harapannya dengan transparansi itu kita bisa lebih menghargai biaya yang sudah dikeluarkan para Maba ini karena tahu jelas manfaatnya. Karena biaya yang diperlukan bukan hanya untuk acara PKKMB, tapi untuk semua aspek jurusan masing-masing,” terangnya.

Dengan manajemen dana yang ketat dan komunikasi yang terus diperbaiki, panitia berhasil menghadirkan pengalaman berkesan. Kemeriahan konser Yovie & Nuno pada malam inagurasi bukan hanya jadi hiburan, melainkan juga simbol awal perjalanan mahasiswa baru UMP dalam menapaki dunia kampus dengan semangat baru. (MV/IY/BHAS)