Bhaskara.id- Tinggal menghitung jari hingga tahun akan berganti menuju masa dimana pesta demokrasi terbesar di negeri ini berlangsung. Tahun 2024, akan menjadi masa terpenting bagi sejarah Indonesia dalam menentukan pemimpinnya. Kini masa itu akan dipegang oleh yang muda sebagai pemilik suara mayoritas pemilih dalam Pemilu 2024.
Benar, sadar atau tidak generasi milenial dan MZ akan menjadi tombak suara untuk menentukan pemenang pertarungan epik negeri ini. Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) jumlah pemilih pada Pemilu 2024 adalah 204.807.222. Dari jumlah tersebut, yang muda akan mendominasi suara dengan jumlah lebih dari 100 juta pemilih.
Tentu bukan angka yang sedikit tapi, bukan angka yang mudah juga untuk mengambil hati para muda ini. Berbagai cara untuk menggaet yang muda memilih pasangan calon capres dan cawapres pasti akan dilakukan oleh elit partai politik demi memenangkan Pemilu 2024 nanti dan memegang kekuasaan untuk lima tahun kedepan.
Pertanyaannya, bagi saya dan kalian generasi milenial dan MZ, mau pilih siapa emang?
Masing-masing koalisi partai politik telah mengajukan siapa-siapa saja yang akan mereka gaungkan menjadi pemimpin negeri. Dari koalisi Partai Nasdem, PKS dan PKB ada pasangan Anies Baswedan dan Cak Imin. Pasangan ini dikenal dengan pasangan “Amin” dengan nomor urut 01. Keduanya mengusung visi “Indonesia Adil untuk Semua” dengan tujuan masyarakat Indonesia harus merasakan kemakmuran. Tak main-main, paslon 01 ini juga menawarkan kebebasan untuk masyarakat Palestina di jalur Gaza. Pasangan ini menyatakan kesiapan mereka jika nantinya terpilih menjadi presiden untuk menjadi tameng dalam membantu Palestina.
Kemudian koalisi pemenang pemilu sebelumnya yakni Partai PDI P, PPP, Hanura dan Perindo mengusung gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai presiden dan Mahfud MD sebagai wakil presiden. Pasangan ini mendapatkan nomor urut tiga dengan visi “Menuju Indonesia Unggul: Gerak Cepat Mewujudkan Negara Maritim yang Adil dan Lestari”. Pasangan ini Ganjar-Mahfud MD juga berjanji untuk tetap melanjutkan program hilirisasi yang telah di laksanakan oleh Presiden Joko Widodo.
Pasangan terakhir yang di usung adalah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dari Koalisi Indonesia Maju dengan nomor urut dua dan partai pendukungnya Partai Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, PSI, PBB, Partai Prima, Partai Garuda dan Partai Gelora. Sama seperti kedua pasangan capres dan cawapres sebelumnya, Prabowo yang berhasil mengubah pandangan masyarakat terhadap dirinya membawa visi “Bersama Indonesia Maju, Menuju Indonesia Emas 2045.” Kemudian, janji yang ia tawarkan saat nantinya terpilih menjadi presiden adalah program makan siang dan susu gratis di sekolah dan pesantren.
Ketiga pasangan calon yang diusung masing-masing koalisi memiliki kelebihan dan kekurangnya sendiri. Ada yang memilih pasangan calon dengan usia termuda lalu berhasil mengubah citranya, ada yang memilih pasangan calon dengan segudang pengalaman yang tentu tidak diragukan lagi kemampuannya, dan ada pasangan yang memilih berdasarkan musyawarah antar partai politik. Sangat beragam bukan?
Seperti semboyan kita, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Mungkin itu yang bisa disampaikan bagi kita kaum muda, entah itu kalian yang masih duduk dibangku perkuliahan atau kalian yang tengah mencari pekerjaan. Karena yang diharapkan hanya satu, menjadikan Indonesia lebih baik. Kalian yang muda, dapat memilih dari kaca mata calon pemimpin mana yang dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik bukan sekadar drama politik. Hal itu lah yang harus kita sebagai yang muda kritisisasi.
Apalagi kita sudah cukup diperlihatkan bagaimana politik negeri ini berlangsung, bagaimana para elit politik berkoalisi untuk mendapatkan suara. Bahkan, kata-kata seperti petugas partai, politik dua kaki dan politik cawe-cawe sempat wara-wiri di berbagai media mewarnai fyp dan trending topic. Saya rasa, itu sudah cukup untuk menggambarkan politik saat ini, tinggal kita sebagai kaum muda menilai dan memilih. Jangan sampai, kata-kata tersebut membuat kita buta dan enggan untuk memilih calon pemimpin negeri yang kaya raya, membuat yang muda anti-pati pada kondisi negerinya sendiri. Apalagi nanti kita akan diberikan karpet merah sebagai pemilik suara mayoritas, tetap ingat dan pilih pemimpin yang bukan hanya memberikan lips service sebagai janji kampanye-nya.
Hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Gibran Rakabuming Raka calon wakil presiden dalam sebuah wawancaranya. “Treatment untuk Gen Z ini beda, jangan sampai diksi-diksi seperti itu membuat anak muda ini anti-pati terhadap partai.” Dengan ini, saya juga kembali mengingat bagaimana George Owell mengkritik rezim politik dunia dalam bukunya “Animal Farm”. Bila dilihat sekilas, buku ini hanya bercerita tentang peternakan biasa, namun sebenarnya buku ini adalah kritik dalam bentuk novel alegori politik. Owell dengan berani menuliskan “All animal are equal, but some animals are more equal than other”, sehingga saya menyadari adanya rezim atau tidak bangsa ini hanya butuh pemimpin yang mampu membawa perubahan bukan pertunjukan drama dari elit partai politik. (Redaksi/Bhas)