
Sekelompok orang tersebut, tengah mementaskan sebuah teatrikal bertema “Overdosis” yang digelar oleh UKM teater perisai. (DK/Bhas)
Bhaskara.id – Malam itu, sekelompok anak tengah bermain kejar-kejaran dan petak umpet dengan riangnya di bundaran depan gedung serba guna, kampus 1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Kemudian dilanjutkan dengan bermain cublak-cublak suweng, lalu permainan ular naga. Namun, di tengah keceriaan mereka, tiba-tiba datang seorang laki-laki menggunakan jas hujan bercorak polkadot dan memakai kacamata hitam, lengkap dengan koper di tangannya.
Ia datang tanpa alas kaki dengan mengotel sepeda. Kehadirannya menuai ketidakjelasan. Pasalnya, ia datang membawa sejumlah Smartphone yang membuat anak-anak–yang awalnya ceria–berubah menjadi pendiam dan berperilaku tak jelas.
Anak-anak ini, kemudian enggan bermain permainan yang sebelumnya dimainkannya. Semua jadi fokus dengan gadget-nya masing-masing. Mulai tak acuh dengan teman-temannya, dan hidup mereka dilanda kebosanan. Semakin lama semakin asyik, hingga menenggelamkan mereka ke dalam gadget, yang disimbolkan oleh tenggelamnya mereka ke sebuah kolam–di tengah bundaran–pada akhir pementasan tersebut.
Arisan Karya
Cerita tentang sekelompok anak-anak yang bermain permainan tradisonal, kemudian meninggalkannya karena terpengaruh oleh telepon pintar (smartphone), merupakan sebuah teatrikal yang dipentaskan oleh UKM Teater Perisai.
Pentas tersebut rutin dilakukan setiap bulannya oleh pengurus aktif, anggota maupun alumni. Ide dari pemetasan kali ini, bertolak dari fenomena yang ada di sekitar mereka. Pentas bulan yang kemudian dinamai “Arisan Karya” ini, muncul dari keresahan mereka terhadap kondisi anak-anak yang tidak lagi mengenal permainan tradisional. Overdosis merupakan tema yang digunakan untuk menggambarkan kondisi tersebut.
“Selain mengangkat fenomena yang terjadi di sekitar kita, ini juga sebagai ajang mengekspresikan diri,” ujar Ketua UKM Teater Perisai, Abdul Hafidz yang akrab disapa Lemon pada Selasa (15/5).
Menurut salah satu penonton dari Teater Fakultas MIPA UNSOED, Ismail, menuturkan bahwa apa yang ditampilkan pada arisan karya kali ini, merupakan upaya mengkritisi fenomena hilangnya budaya main pada anak-anak di zaman yang serba modern.
“Saya menganalisis dari pamflet ini ada logo apple yang kroak mewakili kemajuan teknologi. Sementara dari alur pementasannya ada permainan tradisional yang mulai ditinggalkan,” katanya.
Salah satu pemeran pria berjas hujan polkadot, Panjul menambahkan, konsep yang ditawarkan pada awal pertunjukan merupakan penyampaian fenomena sebelum adanya gadget, yakni anak-anak begitu riang bermain dengan permainan tradisional. Namun, dipertunjukan kedua menyampaikan bila hidup mereka terasa membosankan akibat gadget tersebut.
“Isu ini berdasarkan fenomena orang-orang di sekitar kami. Tak ada proses kreatif. Mengalir saja,” ucapnya.
Dirwan, selaku penanggung jawab pementasan ini menyampaikan, bahwa hal ini merupakan gambaran kelucuan hidup dari zaman lampau, ke zaman sekarang. Ia pun turut menitipkan pertanyaan dan pesan dalam pementasan ini kepada penonton. “Apakah permainan tradisional masih relevan untuk dimainkan di era sekarang?” Tanyanya, “betapa indahnya gadget tanpa melupakan permainan tradisional.”
Mantan Ketua UKM Teater Perisai, Abidharma Tri Soetji yang ikut menyaksikan pertunjukan tersebut, berharap pementasan ini tidak hanya menjadi kritikan saja. Namun, para pemain dan penonton yang menyaksikan juga diharapkan mampu membawa langkah nyata di luar pentas.
“Pementasan ini akan baik bila diaplikasikan. Akan tetapi menjadi omong kosong belaka bila tidak mau turun ke masyarakat, untuk mensosialisasikan penggunaan gadget yang lebih bijak. Serta mengajak anak-anak untuk menemukan kembali permainan tradisionalnya,” pungkasnya. (UK/Bhas)