Debat capres dan cawapres yang kedua. Yang dilaksanakan pada hari Minggu (6/5) di parkiran Fakultas Farmasi. Sumber: KPUM UMP

 

  • Penyampaian argumentasi kedua Paslon bersifat fiksi
  • Gagasan kedua Paslon belum sesuai kebutuhan mahasiswa/masyarakat

 

Bhaskara.id – Acara debat Calon Presiden dan Wakil Presiden Bem UMP, dinilai tak menarik. Acara yang digelar di gedung J dan di area Parkir Fakultas farmasi pada Jumat (4/5) dan Minggu (6/5) tersebut, menunjukan ketidaksiapan dari kedua Pasangan Calon.

Pada debat pertama, kedua paslon memaparkan visi dan misi masing-masing. Selanjutnya kedua paslon mendapat pertanyaan dari moderator, paslon lawan, dan audiens. Menurut Teguh Trianton, selaku panelis mengatakan, gagasan yang dilontarkan oleh kedua  paslon dianggap tidak konkret.

“Semua yang diomongkan oleh kedua paslon dan penanya lebih fiksi daripada fiksi,” ujarnya.

Anton mengatakan, hal-hal yang diangkat merupakan hal yang tidak  konkret atau tidak real. “Yang dibicarakan belum menyangkut kepentingan yang mendasar. Banyak yang dibicarakan sifatnya hanya angan-angan saja,” tambahnya .

Ia berpesan, seorang pemimpin tidak mungkin lahir dari sebuah pelatihan saja. Tetapi, seorang pemimpin yang kuat itu lahir dari pemberontakan (konflik). Ia juga memberi PR pada kedua paslon untuk melakukan riset tentang permasalahan yang konkret, sehingga muncul gagasan real (nyata).

Menurut Panelis debat kedua, Abidharma Suciadi, debat pada saat itu sama halnya dengan debat sebelumnya. Kata dia, tidak ada perbedaan yang menonjol. Salah satunya, dalam hal penyampaian argumentasi para paslon yang masih belum memuaskan.

“Dari segi bahasa dan pemilihan kata kurang tertata dengan rapi. Kemudian, menyangkut gagasan dalam suatu tema paling tidak mereka harus mempunyai gagasan yang jelas,  konsep yang jelas, agar mereka dapat memenuhi ekspektasi dari masyarakat, mahasiswa secara luas, serta KM UMP,” ungkapnya.

Menurutnya, gagasan yang disampaikan oleh masing-masing paslon masih semu. Apa yang mereka bicarakan hanya sebatas tumpukan kata-kata dan pengolahan bahasa yang sedemikian rupa. “Kesiapan dari para paslon pun masih kurang. Hal ini terlihat dari beberapa argumentasi yang telah disampaikan oleh masing-masing paslon. Mereka tidak mencerminkan kesiapan untuk memimpin. Mereka hanya berani dalam mencalonkan diri, serta berani untuk berbicara di depan orang banyak,” imbuhnya.

Abi berpesan, agar masing-masing Paslon harus lebih mempersiapkan dirinya. “BEM bukan hanya sekedar siapa pemimpinnya. Namun, bagaimana kinerja dari kabinet kedepannya. Menjadi seorang pemimpin harus mempunyai ide dan gambaran yang jelas untuk kabinet kerja kedepannya. Siapapun yang terpilih, nantinya harus benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya. Misalnya, terkait permasalahan-permasalahan yang ada. Ketika ada isu-isu sosial, analisis data yang disajikan pun harus kuat,” tutupnya.

Menurut salah satu audiens, Ibra, Mahasiswa Fakultas Hukum semester delapan, mengatakan, dengan adanya debat mahasiswa akan tahu bagaimana kualitas dari pasangan calon tersebut. Namun ia juga  sependapat dengan Abi, jika debat kali ini kurang berkualitas. Hal ini dikarenakan masing-masing pasangan calon belum menyiapkan data-data yang konkret. “Dari segi pemahaman, kedua paslon ini belum paham secara keseluruhan mengenai tema yang diusung,” kata dia.

Kedua Timses pasangan calon pun, mengakui persiapan untuk acara debat ini memang belum maksimal. Cahyudi selaku tim sukses dari paslon 1 menuturkan, “kesiapan dari paslon sendiri memang kurang. Materi yang terkesan mendadak menjadi kendala bagi kami, sehingga debat kali ini terkesan kurang menarik. Namun, saya selaku timses telah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu mempersiapkan debat pertama maupun debat kedua.”

Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Hidayat,selaku Timses 2 mengatakan“selama ini, Timses 2 sudah ikut membantu Paslon dalam hal kelengkapan ataupun alat peraga. Selain itu, timses juga ikut membahas tentang apa yang akan disampaikan Paslon dalam debat. Jadi, sebenarnya kami sudah siap.”

Dayat mengaku, kendala mereka sebenarnya dikarenakan kebingungan dengan tema yang diusung, serta waktu yang terbilang singkat turut menjadi suatu kendala bagi paslonnya. (DDS/TA/Bhas)