
Oleh : Akbar Permana Rozen
Bhaskara.id – Tepat hari raya idul fitri biasanya dari kita mengucapkan minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Bentuk rasa hormat kepada sesama dengan mempererat silaturrahmi persaudaraan. Semoga ibadah di bulan ramadhan kita tahun ini bisa diterima dan doa kita di bulan ramadhan tahun ini bisa dikabulkan oleh Allah SWT. Tak lupa juga berharap bisa menikmati bulan ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Amin.
Perlu kita ketahui bahwa aktivitas kita di bulan ramadhan memiliki ciri khas yang melekat dari tahun ke tahun, mulai dari meriahnya kembang api, makan dan berkumpul bersama keluarga, bisa bertemu sanak saudara. Sejak adanya Covid-19 kebiasaan kita terhalang cobaan untuk ibadah, aktivitas bekerja sampai dengan belajar dilakukan di rumah.
Pelik kehidupan pandemi membuat seseorang memaksakan kehendak untuk tetap teguh mudik dari kota ke kampung halaman walaupun ada larangan. Rutinitas dari tahun ke tahun sangat melekat kepada diri setiap manusia di Indonesia dengan gerakan pulang kampung, meriah dalam balutan merindukan orang tersayang. Lantas apa yang menyebabkan kita tetap ada hati ingin pulang bersama keluarga? Sebetulnya gerakan pulang kampung termasuk juga kedalam dekolonialisasi lho.
Sebelum jauh membahas dekolonialisasi, kita perlu tahu tentang arti dari kata kolonialisasi. Bisa diartikan bahwa kolonialisasi adalah sebuah negara yang menguasai wilayah tertentu, istilah ringannya menjajah atau menempati suatu wilayah untuk memperoleh keuntungan. Sedangkan arti dari dekolonialisasi adalah pengembalian kekuasaan dalam bentuk kemerdekaan ke daerah aslinya, bisa dicontohkan seperti Indonesia yang merdeka dari penjajahan Belanda. Cukup sesederhana itu artinya.
Pengenalan dekolonialisme perlu ditekankan bahwa kesadaran kita bisa membentuk kolektifitas. Kerap istilah menyebutkan bahwa secara konstitusi negara Indonesia sudah merdeka namun watak dari sifat kolonialisme masih ada sampai sekarang. Ciri-ciri sifat kolonialisme adalah sifat eksploitatif, konsumtif, mementingkan individu sampai dengan kejam terhadap bangsa (bisa dalam merusak lingkungan maupun merugikan masyarakat seperti korupsi).
Hubungan ini terlihat dari kebiasaan terdahulu, mulai dari tinggal di pedalaman, lalu pergi merantau ke kota orang untuk mengubah nasib hidup. Ada yang berhasil sukses, ada juga yang tidak. Sementara kampung halaman tempat beragam keelokan dan kelestarian adat banyak yang perlu ditingkatkan akhirnya ditinggal dan terpengaruh oleh budaya luar. Kebiasaan ini mendarah daging pada mereka yang berharap besar dari duduk sekolah dasar sampai tamat berkiblat pada perkotaan melalui doktrin media masa bahwa kota itu indah, banyak gedung tinggi, banyak pekerjaan, dan banyak peluang. Seperti ibarat kota adalah tempat untuk maju dan kampung halaman sebagai tempat tertinggal.
Dilansir dari Portal Statistik Sektoral Provinsi DKI Jakarta, 6 April 2020, data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat, sebanyak 7.421 jiwa penduduk bermigrasi ke ibu Kota pada Maret 2020. Belum terhitung penambahan tahun sebelumnya.
Minat masyarakat luar daerah untuk pindah ke Jakarta karena adanya persepsi bahwa kesempatan kerja lebih terbuka di Ibu Kota dibanding di daerah asal. Padahal pengangguran terbuka di DKI Jakarta mencapai 10,95 persen atau setara 572.780 orang pada Agustus 2020.
Dilansir CNBC Indonesia, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memprediksi ada sekitar 85 juta orang yang melakukan mudik di masa liburan Idulfitri 2022. Menurut Menhub Budi Karya Sumadi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenhub sudah melakukan survei terkait minat masyarakat untuk mudik.
Jumlah penduduk DKI Jakarta sebanyak 11,25 juta jiwa pada Juni 2021. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, sebanyak 7,95 juta jiwa atau 70,73% penduduk di provinsi tersebut merupakan kelompok penduduk usia produktif (15-64 tahun). Artinya bisa dilihat bahwa produktifitas masyarakat dominan pada lingkup perkotaan yang berisi perantauan.
Watak dan sifat seperti demikian adalah sifat kolonialisme dimana kita fokus terhadap suatu daerah yang mempunyai peluang untuk diduduki menjadi sebuah keuntungan. Hal ini tidak juga salah karna semua dari kita usaha dalam ikhtiar mencari rezeki tapi tidak dengan melupakan budaya. Namun, perkotaan adalah sebuah ancaman baru untuk iklim yang berdampak pada kesehatan yang sudah terlihat dampaknya seperti sekarang. Ya, itu adalah gambaran sedikit dari wilayah eksploitatif. Seperti yang kita tahu juga bahwa Jakarta adalah pusat memiliki banyak sentuhan SDM asing yang tidak sepenuhnya mengedepankan tentang masalah kesehatan lingkungan, begitupun masyarakat yang merantau disana.
Semakin sering kita bersentuhan dengan perkotaan, rawan mempengaruhi budaya adat asli daerah perantau tersebut, mulai dari agama, kebiasaan berpakaian sampai dengan tingkah laku dan perkataan. karena yang kita anggap modern adalah budaya asing seperti yang dirasakan sekarang, untuk belajar bahasa daerah asli anak zaman sekarang kurang meminati. Salah satunya juga yaitu kehidupan industri yang setiap hari bekerja tanpa henti. Padahal jika dilihat dengan keahlian hayati dan kekayaan alam, Indonesia punya segalanya, dari laut sampai pegunungan, kemudian di masing-masing wilayah tempat tinggal, tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan budaya eksternal. Namun, yang terjadi kebanyakan demikian.
Dekolonialisme adalah sebuah bentuk kesadaran bahwa kultur asli kita adalah beradat dengan agama yang melekat ditiap masing-masing individu didampingi rasa toleransi yang tinggi, rasa sosial dan empati yang terkenal sampai manca negara dengan menyebut bahwa Indonesia menjadi negara teramah di dunia. Kesadaran dekolonialisme menjadi kunci bahwa kita perlu melihat lebih dekat bagaimana budaya asli kita mulai luntur termakan zaman.
Sebenarnya istilah negara maju dan berkembang adalah tabu, bagaimana sifat kolonialisme bisa merubah daerah dan mengelompokan menjadi negara miskin, berkembang, dan kaya. Padahal setiap daerah memiliki ciri khas masing masing, tidak semua dipaksakan memakan beras, tidak semua dipaksakan menanam sawit dan semua memiliki bagian penting di diri masing-masing.
Kembali lagi dengan dekolonialisme kita dapat menyadari bahwa kultur asli kita bisa dilihat dari pulang kampung. Kebersamaan, keceriaan, dan rasa sosial yang tinggi. Dengan dekolonialisme kita menyadari dan membentuk potensi ekonomi setiap individu dengan memanfaatkan alam secukupnya, mempercayai bahwa kita ada yang makan sagu, jagung, singkong, kentang, dan lain sebagainya disetiap hari. Jika kebiasaan terus dilestarikan nantinya menciptakan peluang baru dalam bentuk ekonomi dan ketahanan pangan yang beragam. Arti dari kata sejahtera juga termasuk dalam dekolonialisasi dalam mensejahterakan kaum adat.
Diharapkan dengan kita memahami arti dekolonialisasi pulang kampung semakin mempererat dalam menjaga adat istiadat atau budaya leluhur kita, sesuai agama tanpa campur tangan dan meniru bangsa lain, karena apa? Pepatah menyebut negara yang besar adalah negara yang tidak melupakan budayanya. Dengan pulang kampung kekeluargaan, gotong royong, sosial kita membentuk energi. Lebih hebat lagi jika budaya kita yang ditiru oleh budaya asing. Mari pulang dan hidupkan kampung dengan segala keelokan isinya. Jadi, terapkan dekolonialisasi kita disetiap kegiatan ya. Semangat!