Dok. Bhaskara. 


Sore hari pukul 17.10 WIB, Satuan Pengamanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto mendapati dua orang remaja yang berusaha mencuri helm milik mahasiswa setempat. Kedua remaja tersebut  terlihat memasuki kampus menggunakan sepeda motor menuju perpustakaan UMP, padahal jam kunjung Perpustakaan telah usai. Kecurigaannya dimulai dengan terlihatnya kedua tersangka yang hanya menggunakan satu helm, kemudian hendak keluar menggunakan dua helm. Selasa(31/1).
Menurut  salah satu petugas Satpam yang merupakan saksi kunci kejadian tersebut, Fajar menuturkan, untuk membedakan mahasiswa atau bukan mahasiswa adalah hal yang tak rumit. Hal ini dikarenakan ia dapat melihat dari penampilan serta gerak-gerik mencurigkan tersangka. Adanya kasus yang beredar mengenai pencurian helm membuatnya semakin meningkatkan kecurigaan, terutama bagi warga selain mahasiswa UMP.
“Disaat mereka tengah keluar menuju gerbang, dari kejauhan petugas kami yang lain segera menutup gerbang karena melihat kedua tersangka menggunakan helm. Padahal saat awal mereka memasuki kampus hanya salah satu tersangka yang menggunakan helm.  Saat kedapatan mencuri helm, mereka hendak melarikan diri dan kami segera menangkapnya,” jelasnya saat ditemui seusai mengamankan kedua tersangka.
Ia menjelaskan, keamanan adalah salah satu hal yang vital di suatu tempat terutama lingkungan dengan jumlah aktivitas yang tinggi. Begitupun di kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto, keamanan menjadi satu hal yang amat penting. Maka dari itu, meningkatkan kewaspadaan merupakan hal yang penting karena melihat jumlah petugas Satpam yang relatif sedikit.
Oleh karenanya, Fajar berpendapat agar kedepannya mahasiswa dapat membantu mengawasi serta menjaga keamanan lingkungan kampus. “Harapannya, mahasiswa untuk dapat melapor atau berkoordinasi dengan petugas keamanan kampus ketika mendapati oknum mencurigakan,” katanya.
Sependapat dengan Fajar, Mahasiswa Teknik Informatika  semester enam, Abdul Hafidz mengatakan bahwa dengan adanya kasus pencurian yang kerap terjadi, salah satu faktornya adalah tingkat kesadaran untuk menjaga barang pribadi dari mahasiswa yang masih minim.
“Faktor-faktor penyebab maraknya kasus pencurian, pertama tingkat kesadaran mahasiswa yang masih minim, kemudian mahasiswa kurang menjalin koordinasi dan komunikasi dengan petugas untuk menjaga keamanan kampus,” ujarnya.
Selain itu, Abdul juga kerap mendapati adanya warga selain mahasiswa UMP yang memasuki kampus saat malam hari. Terutama saat malam minggu, tak sedikit warga selain mahasiwa memasuki kampus dengan alasan yang tidak jelas.
Melihat kondisi tersebut, Abdul mengkritisi kurangnya fasilitas penunjang keamanan kampus. “Pencahayaan merupakan hal yang penting demi menjaga keamanan kampus. Pencuri akan berpikir dua kali saat akan melakukan pencurian di tempat dengan tingkat pencahayaan yang tinggi. Jika saja kampus kita memiliki pencahayaan yang baik disetiap sudut yang terlihat gelap, hal tersebut dapat meningkatkan keamanan kampus,” imbuhnya.
Sedangkan menurut Ketua Umum UKM Mapala, Odi Ari Pratama, menuturkan unsur keamanan yang utama berada pada setiap individu dan lingkungannya. Bagaimana setiap individu menjaga lingkungan demi terciptanya kenyamanan dan keamanan dalam kampus.
“Jika berbicara tentang diri sendiri, sebagian besar mahasiswa UMP masih minim dalam mengantisipasi segala perlindungan untuk dirinya sendiri, terutama dalam mengamankan barang milikinya. Misalnya kasus pencurian helm, jika saja sang pemilik helm meletakan helmnya ditempat yang lebih aman, kasus pencurian helm akan dapat diminimalisir. Saya rasa ketergantungan mahasiswa terhadap petugas Satpam, menyebabkan kurangnya kesadaran untuk ikut serta dalam menjaga keamanan kampus,” ujarnya kepada awak Bhaskara.
Gubernur BEM Psikologi, Khaton Hugo berpendapat, keamanan itu penting, khususnya untuk mahasiswa. Karena dari keamanan sendiri itu akan berdampak pada kenyamanan. “Pada akhir-akhir ini keamanan di kampus kita ini agak lengah, entah dari petugas keamanan, atau memang dari sang pencuri yang sudah mahir sehingga dapat lolos dari pengawasan petugas maupun kita,” katanya.
Ia merasa petugas selama ini telah maksimal. Terbukti dengan rutin melakukan kontrol pada jam dan tempat-tempat tertentu. Tetapi tak seharusnya semua hal tentang keamanan  kita berikan begitu saja kepada petugas. Kesadaran bagi mahasiswa untuk menjaga setiap barang-barang milik pribadi menjadi kunci selain menyerahkan keamanan kepada petugas.

Selain hal tersebut, penambahan fasilitas demi menunjang tingkat keamanan perlu ditambah. Seperti penambahan kamera CCTV disudut rawan pencurian merupakan hal yang dinilai Hugo cukup urgen. “Penambahan fasilitas seperti CCTV dan meningkatkan tanggung jawab terhadap barangnya sendiri, adalah salah satu solusi untuk menjaga keamanan kampus kita,” tuturnya. (DA/Bhas)