Bhaskara.id-Di tengah menurunnya minat baca dan semakin sepinya ruang intelektual di lingkungan kampus, Lapak Baca UMP hadir sebagai upaya mahasiswa untuk kembali menghidupkan budaya literasi dan diskusi. Kegiatan yang digagas oleh mahasiswa lintas fakultas ini telah berjalan sejak 24 September dan rutin diselenggarakan setiap Kamis sore di depan Auditorium Ukhuwah Islamiyah.

Menurut Khanan, salah satu penggerak Lapak Baca, ruang ini muncul dari keresahan mahasiswa yang gemar membaca namun tidak memiliki tempat untuk mengekspresikan kegelisahan intelektual mereka. “Orang yang suka membaca biasanya punya keresahan. Kalau tidak terwadahi, justru bisa menjadi stres ketika dipendam sendiri. Lapak Baca ini hadir agar mahasiswa bisa membaca dan berdiskusi bersama tanpa merasa sendirian,” ungkapnya.

 Ia menjelaskan bahwa kegiatan membaca dan berdiskusi sebenarnya pernah berjalan di lingkup Fakultas Hukum, namun tidak pernah terakomodir secara konsisten. Dengan semangat baru, kegiatan ini akhirnya dibuka untuk lingkup universitas melalui Lapak Baca UMP. Ia berharap ruang ini dapat memantik kesadaran literasi mahasiswa yang menurut data nasional masih sangat rendah. “Menurut UNESCO, tingkat baca Indonesia itu 0,001 persen. Dari seribu orang, hanya satu yang membaca. Ini memprihatinkan,” jelas Khanan.

Ia menambahkan bahwa minimnya aktivitas intelektual terlihat jelas di sekitar kampus. “Dalam radius 200–300 meter saja, jarang terlihat mahasiswa memegang buku atau berdiskusi. Justru yang ramai game, pacaran, atau aktivitas lain. Lapak Baca hadir untuk menggugah kembali ruang intelektual mahasiswa,” katanya.

Sementara itu, Agena Haidro Satria, mahasiswa Fakultas Hukum UMP, menyatakan bahwa Lapak Baca menyediakan ruang independen bagi mahasiswa yang ingin bertukar gagasan tanpa membawa bendera organisasi maupun kepentingan tertentu. “Lapak Baca ini independen. Tidak ada tekanan, tidak ada kepentingan. Meskipun pesertanya dari berbagai organisasi seperti HMI atau PMII, di sini semua sama rata. Kita tidak membawa bendera masing-masing,” jelasnya.

Agena mengaku mengetahui kegiatan ini dari rekan dan media sosial. Baginya, Lapak Baca sangat relevan bagi mahasiswa hukum yang membutuhkan ruang dialog. “Sering terjadi dualisme bahkan banyak sudut pandang ketika berdiskusi. Itu jadi ajang belajar karena kita mendengar pandangan yang sebelumnya belum kita ketahui,” ujarnya.

 Agena berharap UMP dapat menyediakan ruang permanen yang layak bagi keberlangsungan Lapak Baca. “UMP itu luas. Harapanku, ada satu sudut kampus yang secara resmi dijadikan tempat tetap untuk Lapak Baca. Kalau ada acara lain atau turun hujan, kita tidak perlu repot memindahkan buku dan berpindah tempat,” ujarnya.

 Ia menilai keberadaan ruang khusus tidak hanya mempermudah kegiatan, tetapi juga menunjukkan dukungan kampus terhadap budaya literasi mahasiswa. “Dengan tempat yang jelas dan fasilitas yang mendukung, Lapak Baca bisa berjalan lebih efektif dan menjadi ruang belajar yang benar-benar nyaman,” tambahnya.

LY/BHAS