Oleh: Rizky Bagus Syahputra
Bhaskara.id – Corona atau Covid-19 sudah ditetapkan sebagai pandemi per tanggal 11 Maret 2020, oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Akibatnya banyak negara-negara yang melakukan lockdown atau melakukan pembatasan sosial berskala besar untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.
Di Indonesia sendiri, kita bisa mengenal istilah social distancing pada awalnya, yang kini berubah menjadi physical distancing. Karena, bukan hanya sosial saja yang dibatasi, akan tetapi pertemuan fisik dan jarak antar manusia perlu dibatasi pula. Sosial distancing dan physical distancing sudah mulai dilaksanakan sejak terbitnya kebijakan presiden pada tanggal 16 maret 2020, melalui siaran pers Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.
Dengan adanya kebijakan itu, semua orang harus berada di rumah atau mengisolasi diri serta keluarganya. Masyarakat dianjurkan agar tidak bepergian keluar rumah atau melakukan perkumpulan massa selama pandemi masih berlangsung.
Pada awalnya, sebagian masyarakat Indonesia tampak menerima kebijakan pemerintah dengan melaksanakan kebijakan tersebut. Walaupun tetap saja ada beberapa masyarakat yang nekat untuk keluar rumah karena berbagai alasan.
Himbauan, sosialiasi, hingga berbagai ajakan untuk selalu berada di rumah dan menghindari kegiatan di luar rumah telah dilakukan oleh pemerintah, aparatur negara, berbagai instansi bahkan kalangan public figure dan ormas-ormas pun sudah melakukannya dengan gencar. Yang tujuannya tentu untuk segera memutus penyebaran Covid-19.
Hiruk pikuk akibat pandemi semakin hari semakin menjadi. Apalagi semenjak bertambahnya jumlah pasien dan korban positif yang terkena Covid-19. Masyarakat pun semakin resah. Bahkan, seluruh lapisan masyarakat juga terdampak akibat Covid-19. Dimulai dari para pelajar, pengajar, pekerja, pengusaha bahkan para pejabat.
Selain berdampak pada berbagai elemen masyarakat, Covid-19 juga menyebabkan banyak tempat ibadah, tempat wisata, rumah makan dan tempat-tempat umum lainnya ditutup sampai pandemi ini berakhir.
Akibatnya, banyak acara hiburan, acara budaya, acara keagamaan dan acara perkumpulan yang melibatkan banyak orang ditiadakan secara mendadak. Contohnya adalah sholat tarawih berjama’ah, arisan rutin di sebuah rukun tetangga (RT) ataupun acara-acara kebudayaan seperti grebeg suro, sedekah laut dan pentas budaya yang dilakukan terpencar di masing-masing daerah.
Sebetulnya, bukan itu yang ingin penulis utarakan. Di sini, penulis ingin membahas lebih dalam mengenai karantina di rumah akibat adanya Covid-19 ini. Mungkin satu atau dua minggu, kebanyakan orang masih bisa bertahan selama karantina di rumah, walaupun masih ada beberapa masyarakat yang masih nekat untuk keluar rumah, entah untuk memenuhi kebutuhan hidup, berjuang menangani corona atau malah acuh tak acuh terhadap kebijakan pemerintah.
Penulis pun merasakan langsung karantina di rumah yang masih bisa di tolerir di minggu-minggu pertama, karena memang untuk kesehatan bersama. Tapi, setelah memasuki minggu ketiga hingga saat ini, rasa-rasanya penulis banyak melihat entah di status media sosial orang lain ataupun laman-laman berita. Status tersebut berisi tentang pernyataan kebosanan seseorang saat melakukan karantina di rumah.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut pandangan penulis sendiri, serta beberapa pakar psikologi juga menyebutkan, bahwa isolasi diri di rumah dan menerapkan jarak dari sesamanya akan memicu adanya tekanan psikologis. Apalagi bagi mereka yang memiliki trauma mental, trauma kesepian, trauma ketakutan berlebihan dan trauma yang membuat seorang pengidapnya mengalami tekanan secara psikis. Hal tersebut tentu sangat berdampak bagi orang-orang seperti mereka.
Lalu, bagaimana cara mengatasi kebosanan saat melakukan karantina di rumah? Menurut penulis, cara yang paling ampuh untuk menghilangkan kebosanan adalah dengan melakukan aktivitas. Aktivitas apapun itu selama diri kita merasa nyaman, merasa senang dan merasa mempunyai kesibukan.
Contoh aktivitas yang bisa dilakukan saat karantina di rumah diantaranya seperti membaca buku, menonton film, bermain game, memasak, olahraga dan masih banyak aktivitas lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan saat dirumah.
Apalagi teknologi saat ini sudah semakin canggih, dunia maya pun sudah menjadi tempat peraduan manusia untuk menuangkan segalanya. Entah hanya untuk hiburan, atau panggung penampilan bakat-bakat terpendam bahkan bisa juga menjadi ladang berusaha ataupun berkarya.
Salah satunya ialah jualan online melalui instagram ataupun facebook, bahkan saat ini ada banyak tempat berjualan yang murah dan laris seperti Shopee, Tokopedia, Lazada dan sebagainya. Selain berjualan, berkarya melalui dunia maya pun bisa dilakukan di rumah. Mulai dari meng-cover lagu lewat Youtube atau Instagram, membuat tutorial make up, mengekspresikan diri di depan kamera melalui aplikasi tiktok, ataupun mencoba memublikasikan sebuah tulisan dalam sebuah blog ataupun aplikasi wattpad.
“Ah, tapi kalo dirumah terus bosen. Pengin keluar, ingin mencari udara segar“. Jika kalimat itu masih terlintas dalam pikiran, cobalah untuk bercermin, melakukan pengamatan ke dalam diri pribadi. Lalu melihat situasi pandemi yang terjadi, memikirkan bagaimana jika virus itu ternyata menyerang kita, dan kita adalah penyebab tersebarnya virus itu pada orang-orang yang kita kasihi, tentu tidak mau bukan. Maka dari itu, kita harus menerima apa yang terjadi, jangan menolak dan berusaha membuatnya seakan tidak terjadi.
“Bosen si engga, tapi tugas menumpuk”. Jika kita merasakan tugas yang menumpuk akibat perkuliahan yang dilakukan secara online, menurut penulis, hal yang harus dilakukan adalah menyadarkan diri sendiri. Bahwa tugas adalah tanggungjawab pribadi, mau mengerjakan ataupun tidak, itu kembali pada diri sendiri. Walaupun tugas adalah kewajiban untuk mendapatkan nilai ataupun sebagai peningkatan ilmu yang dimiliki, tetapi esensi dari tugas itu adalah peningkatan cara pandang atau cara pikir dalam diri pribadi masing-masing orang.
Menyelesaikan tugas pun bisa dengan berbagai cara, mulai dari mengerjakan sendiri dengan serius memahami materi dan membaca buku materi, atau memilih mengerjakan dengan mencari jawaban melalui internet, atau memilih mengerjakan tugas dengan meminta hasil pekerjaan teman dan menconteknya.
Jadi sebenarnya, kejenuhan dalam melihat tumpukan tugas juga merupakan bentuk cara pandang pribadi masing-masing terhadap sesuatu. Sebanyak-banyaknya tugas yang diberikan, tentunya hal itu tergantung bagaimana pengelolaan waktu yang digunakan dalam mengerjakan tugas-tugas tersebut. Intinya banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan selama di rumah. Saran dari penulis, jangan bosan, jangan merasakan kesedihan.
