Oleh: Wildan Firdaus
Di dadaku, bersemayam kitab suci dengan cahaya yang tertata rapi
Terjaga dalam hafalan, namun sering kali goyah dihantam badai hati
Aku sang penjaga firman yang kini merangkak dalam sunyi
Membawa langit di kepala, namun kaki masih terbenam di lumpur bumi.
Cawan kepalsuan dan asap nikotin itu adalah pelarian yang pengecut
Setiap teguk dan hisapannya membakar tenggorokan hingga gersang
Seolah mengkhianati tiap huruf, yang kupahat enam tahun di pesantren
Jejak suci itu kian terhapus oleh noda hitam.
Aku tahu benar ke mana seharusnya aku melangkah
Namun rindu ini terlalu bebal, mengejar wanita yang hatinya masih terbelah
Kau adalah bab pelajaran yang belum sempat kubaca hikmahnya
Mencintaimu adalah perang melawan hantu dari masa lalumu.
Bagaimana mungkin aku membimbingmu dengan ayat-ayat kedamaian
Jika kau sendiri masih sibuk mengeja luka lama yang enggan kau beri akhiran?
Sedangkan di pundakku, ada harapan Bapak dan Mama yang tak boleh luruh
Menanti mahkota kemuliaan, bukan sekadar raga yang rapuh dan retak.
Aku berdiri di antara sucinya hafalan dan pekatnya asap neraka
Menahan tangis dan malu, menjadi kebanggaan sekaligus pesakitan jiwa
Akankah sanggup aku bertahan dengan takdir yang terbelah ini?
Jika masih kupeluk erat racun, sembari mengejar hati yang belum usai.
Semoga di ujung jalan nanti, aku masih menemukan jalan pulang.