Oleh: Afif Fadhullah Azis/Fakultas Pertanian dan Perikanan

Dua tahun sudah roda perpolitikan kampus tingkat universitas tidak berjalan yang disebabkan oleh dua hal. Pertama, pada tahun 2019 lalu, bab dan pasal AD/ART dibahas sampai tiga kali di hari yang berbeda ketika kongres mahasiswa dilaksanakan. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk pemilihan lembaga tinggi harus bergeser mundur.

Ketika sidang sudah mengalami jalan buntu, pemilihan lembaga tinggi tetap dilaksanakan meskipun hanya untuk formalitas saja demi menjalankan roda keorganisasian kampus. Pemilihan lembaga tinggi dilaksanakan hanya untuk DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) dan BKM (Badan Keuangan Mahasiswa) yang saat itu masih ada serta tidak ada pemilihan Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sehingga hasilnya tetap sama yaitu roda keorganisasian kampus tetap tidak bergerak dengan semestinya.

Selanjutnya, ketika satu tahun roda keorganisasian kampus berhenti, kita harus melaksanakan kongres mahasiswa kembali demi melaksanakan periodisasi (kaderisasi) dengan harapan roda keorganisasian kampus berjalan kembali dengan baik.

Namun, Kosma (Kongres Mahasiswa) tidak berjalan dengan baik karena pandemi Covid-19 ditambah terdapat insiden di mana penanggung jawab Kosma tidak bisa bertanggungjawab terhadap jalannya Kosma pada waktu itu (lihat berita Bhaskara dengan judul: Tak Kunjung Temui Kesepakatan, Peserta KOSMA Serentak Meninggalkan Forum). Kosma yang diharapkan dapat menjalankan roda perpolitikan kampus juga tidak ada hasilnya sama sekali. Dari kedua hal inilah, roda keorganisasian KM UMP (Keluarga Mahasiswa UMP) mati.

Imbas terbesar dari matinya perpolitikan di tingkat universitas adalah tidak ada pendidikan keorganisasian tingkat universitas yang masuk ke mahasiswa tingkat bawah sehingga mereka buta akan budaya di tingkat universitas, mulai dari cara masuk ruangan sidang sampai dasar apa yang harus digunakan ketika beradu argumen.

Pengalaman penulis (mahasiswa angkatan 2017) yang pernah berdebat di dua generasi berbeda membuktikan jika ia pernah merasakan budaya yang berbeda dalam pengambilan argumen dan keputusan. Pada generasi pertama yaitu generasi kakak tingkat penulis, mereka berdebat selalu menggunakan dasar buku yang mereka baca sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan berdasarkan sumber valid. Berbeda dengan generasi pertama, generasi kedua ialah generasi adik tingkat penulis yang mana mereka berdebat menggunakan dasar waktu pengambilan keputusan sehingga keputusan yang diambil adalah keputusan yang lemah.

Akan tetapi, hari ini, dengan kesadaran penuh dari berbagai tingkatan mahasiswa KM UMP, roda keorganisasian ingin diputar kembali. Tentu, ini menjadi sebuah semangat baru bagi mahasiswa KM UMP untuk melihat proses berputarnya roda keorganisasian serta melihat proses pemilihan Presiden BEM UMP sampai dilantik nantinya.

Setelah tiga tahun tidak ada Pemilwa yang dihitung dari terpilihnya presiden di tahun 2018, semangat KM UMP mulai membara kembali karena diadakannya Pemilwa. Selain itu, para panitia Pemilwa pun ikut bersemangat karena pengadaan Pemilwa, seperti KPU-M UMP (Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa UMP) yang menyosialisasikan Pemilwa melalui video-video kreatifnya yang dibuat di aplikasi Tiktok demi membangun kesadaran mahasiswa agar mengikuti Pemilwa. Tak lupa, DPM-U (Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas) juga ikut berpartisipasi dalam menyiapkan aturan-aturan Pemilwa agar Pemilwa berjalan lancar dengan minim sengketa. Mereka bekerja untuk KM UMP agar roda perpolitikan berputar demi terciptanya pendidikan keorganisasian yang lengkap.

Dengan semangat ini, kita sebagai mahasiswa seharusnya ikut mendukung berjalannya Pemilwa KM UMP. Jangan sampai Pemilwa kali ini gagal karena dampaknya akan sangat fatal. Jika gagal, apakah pendidikan keorganisasian akan lengkap tanpa adanya Presiden BEM KM UMP? Apakah kita tidak malu jika ditanya siapa Presiden KM UMP dan dijawab dengan KM UMP sedang tidak baik-baik saja? Atau bahkan, apakah kita tidak malu karena tidak ada orang yang akan memimpin kita ketika berdemonstrasi serta berorasi?

Oleh karena itu, mari kawal Pemilwa dari awal sampai akhir agar lembaga tinggi di KM UMP menjadi lengkap dan pendidikan keorganisasian berjalan dengan baik serta ikuti arahan dari panitia Pemilwa dan coblos calon Presiden KM UMP sesuai nurani.