
Bhaskara- Visi Visual, sebuah kelompok penyuka dunia visual dan bergerak di bidang seni visual kembali menggelar pameran seni rupa. Setelah sebelumnya di tahun 2022, Visi Visual sukses menggelar pameran dengan nama “ARTSOG”, pada kesempatan kali ini pameran bertajuk “ARTHEY #3 WOY!”
Pameran ini diselenggarakan sejak tanggal 16 sampai 18 Juni 2023, bertempat di Taman Edukasi Sumber Daya Air (TESDA), Jalan Jenderal Soedirman, Purwokerto Utara, Banyumas. ARTHEY menampilkan karya dari 29 partisipan yang dibarengi dengan Bral-Brol Show, diskusi seputar seni rupa.
Sederet partisipan yang ikut dalam pameran ini antara lain; Adan F (Maruciel), Aka Krisnawan, Alik Setiawan, Ari Nugroho, Bob Amrizal Jim, Callysta Qiamulail Romi, Davro Ave, Djentot Subechi, Dwi Herdhy S. dan Isna Hanny P, Fenti Enawati, Hefiz (Gian Hafiz A), Harwanti, Johan Kancut “Cuts”, Jon Manah Jembar Membumi, Rasman Maulana, Muhammad Fajar Trianton, M. Rizky, Nada Calysta, Nanang Sugiarto, Nizar Zulmi Sapta, Nur Agustus, Nur Okta Saputra (Bagol), Rizki Agusta, Septian Tedi, Supriyadi, Tri Soes, Zen Ahmad, dan Zidnyraihan.
Nizar Zulmi Sapta, selaku salah satu narasumber diskusi dan juga peserta partisipan pameran, menyampaikan bahwa sebetulnya seni rupa di Banyumas itu masih ada banyak yang belum muncul. “Saya lihat sekarang Banyumas masih berkutat di romantisme masa lampau. Kita jarang membicarakan seni rupa hari ini di Banyumas. Banyak orang yang muncul, tapi terkadang masih bingung menentukan tujuan. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan seperti ini harus lebih dipahami, ini tujuannya mau ke mana?,” ungkapnya.
Ia menuturkan dalam menentukan tujuan-tujuan yang perlu dipikirkan, misalnya membahas mengenai romantisme masa lampau, esensi, atau eksistensinya perlu didukung oleh peran pemerintah. Terkait peran pemerintah paling tidak dapat bekerja sama atau bersinergi bersama dengan kegiatan seperti ini, tentang seni rupa di Banyumas. “Tetapi sebetulnya ngobrolin pemerintah juga gimana, ya,” pungkasnya.
“Selain itu, beberapa posisi yang kosong juga perlu terisi. Misalnya dalam medan seni rupa Banyumas perlu diisi orang yang bisa mengkritik seni, kurator, atau orang yang paham tentang penulisan seni rupa. Karena menurut saya kegiatan seperti ini merupakan suatu peristiwa. Alangkah baiknya peristiwa ini tercatat dan jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi seremonial belaka,” kata Nizar Zumi Sapta.

Mahbub Wibowo selaku penulis pengantar pameran memberikan komentar, setelah ditanya alasan menulis pengantar pameran “ARTHEY #3 WOY!”. “Pertama karena rasa syukur. Kedua terima kasih kepada teman-teman Visi Visual sudah berjuang membikin acara ini terus ada. Dengan segala macam kekurangan, tentu di mana-mana. Tapi untuk terus bertahan itu pilihan yang luar biasa. Orang bisa membikin acara sekali, terus bubar. Tapi acara ini sudah di tahun ketiga. Saya bersyukur teman-teman bisa bertahan. Ketika saya diminta ‘nulis lah’ ya sudah, saya nulis. Tulisan saya adalah respons untuk teman-teman yang bekerja di kegiatan ini,” ungkapnya.
Ia menjelaskan terkait menukilannya sepotong lagu Iwan Fals berjudul Panggilan Dari Gunung dalam narasi pengantar pameran. “Kebetulan semua lagu Iwan Fals kan lagu teror, ya. Nah, salah satu yang lumayan itu Panggilan Dari Gunung. Panggilan Dari Gunung saya nukilan di narasi karena Woy, teman-teman Art Hey mencoba menarik perhatian kita (masyarakat pada umumnya) semuanya, entah itu pelaku kesenian, atau simpatisan. Mereka coba kasih aksi berupa pameran, terus kemudian mereka meminta tanggapan. Saya iseng, ini seperti panggilan dari gunung turun ke lembah-lembah, begitu. Akhirnya kelingan lagu itu, terus saya masukkan saja. Pokoknya saya menulis sat set sat sett… Enaknya menulis untuk teman-teman itu begitu, mereka tidak memberi batasan-batasan. Jadi saya juga Plong… Panggilan Dari Gunung!,” tegas Mahbub.
Mahbub juga menambahkan komentarnya, setelah ditanya mengenai harapannya tentang pameran tersebut. “Sebenarnya saya tidak suka berharap dan tidak suka mengeluh. Hanya saja sebagai manusia yang normal, harapan itu pasti ada. Harapan kepada Visi Visual untuk terus ada, terus membikin acara seperti ini. Terus kemudian itu menimbulkan dialektika yang menarik antara pelaku dan masyarakat. Nah, iklim itu yang ingin terus dipupuk, terus dibangun bagaimana kesenian bisa ngobrol dengan masyarakat, masyarakat bisa ngobrol dengan kesenian, ada respons bolak-balik. Begitu juga dengan para ilmuan, dalam hal ini akademisi, atau pemikir-pemikir di Purwokerto kan, banyak sekali. Orang-orang pintar, orang-orang yang punya kompetensi ciamik sebetulnya. Cuma itu, iklimnya sekarang belum terlalu lumrah untuk thek-thok-kan untuk komentar-komentaran,” imbuhnya.
Budi Haryanto, selaku bagian dari tim Visi Visual dan penyelenggara “ARTHEY #3 WOY!” mengatakan bahwa acara seperti ini sudah tahun ketiga (tiga kali). Karena memang setahun sekali kita bikin pameran yang open submit untuk semua orang, bukan hanya dari internal Visi Visual yang mengeluarkan karya. Di tahun pertama dan kedua menggunakan nama “ARTSOG” dan di tahun ketiga ini re-branding menggunakan nama “ARTHEY #3 WOY!”.
Ia menambahkan terkait tanggapannya terhadap diskusi seputar seni rupa yang telah diselenggarakan, “Untuk diskusi tadi, saya membandingkan dengan acara sebelumnya. Bukan dengan ruang atau forum yang lain. Acara pertama itu kita ngobrol-ngobrol, karena pertama membikin acara, ndilalah yang jadi bicara itu banyak orang, dan dosen semua. Saat itu situasinya belum cair. Nah, di tahun kedua, kita coba dengan satu orang pembicara supaya lebih fokus. Tetapi secara tempat dan cuaca pada saat itu kurang mendukung, karena kita setting outdoor dan ndilalah gerimis, sampai akhirnya kita rubah tempat, dan tempatnya itu sangat tidak kondusif karena terhalang oleh sekat lukisan. Akhirnya audiens itu hanya beberapa saja yang terlihat. Nah, di tahun ketiga ini, akhirnya kita sadar bahwa salah satu cara untuk menghidupkan forum itu dengan mendatangkan moderator yang kompeten. Menurut saya, forum tadi jauh lebih hidup dibanding tahun-tahun sebelumnya.”
Budi mengaku bahwa menyelenggarakan pameran ini butuh waktu persiapan selama 5 bulan. Ia juga menerangkan bahwa tujuannya menyelenggarakan pameran ini adalah keinginannya untuk menjembatani antara perupa dan masyarakat.
“Kita ingin menjadikan ini sebagai ruang untuk mempertemukan mereka. Karena menurut saya dan teman-teman di Visi Visual, mungkin sudah banyak pameran yang ada di Purwokerto. Tetapi hanya cenderung di internal komunitasnya masing-masing saja. Nah, berhubung yang ada di Visi Visual bukan hanya orang Banyumas, tetapi terdapat juga orang Cilacap, jadi kita ingin bicara seni rupa kultur eks Karesidenan Banyumasan. Visi Visual juga ingin membikin acara yang semua orang, entah itu dia berkomunitas atau dia seniman individu yang tanpa komunitas, terlibat dalam pameran. Kita ingin ini lebih terbuka dan bisa diakses semua orang,” imbuhnya.
Kendati demikian, menurut Budi para pengunjung pameran “Art Hey, Woy!” masih dominan orang-orang yang bersentuhan langsung dengan seni rupa. Baik itu perupa, atau anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni di kampus. Sementara itu masyarakat umum yang hadir belum mencapai 50% dari keseluruhan pengunjung.
(Bhas/LBS)