Oleh: Abie Dhimas
Berpenduduk lebih dari 250 juta orang, Indonesia menjadi salah satu negara terpadat di dunia dan salah satu negara dunia ketiga. Jumlah penduduk yang besar tersebut, menjadikan Indonesia sebagai sasaran perdagangan komoditas pasar global. Seiring meningkatnya kelas menengah, berdampak pula pada meningkatkan daya beli masyarakat dan akibatnya adalah tingkat konsumsi atas barang juga meningkat. Gaya hidup konsumerisme menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat Indonesia, sehingga berdampak pada berubahnya kebudayaan di masyarakat.
Gaya hidup konsumerisme membuat masyarakat Indonesia lebih dipengaruhi oleh keinginan akan suatu komoditas barang dibandingkan kebutuhan untuk hidup. Keinginan masyarakat dipengaruhi oleh adanya paksaan secara halus oleh ekonomi pasar lewat iklan-iklan yang ditawarkan. Iklan-iklan tersebut menawarkan sebuah kemudahan dan kepraktisan, sehingga membuat pikiran masyarakat menjadi terpengaruh akan hal itu. Masyarakat diajak untuk selalu mengonsumsi secara terus-menerus tanpa batas.
Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat sangat berpengaruh sekali terhadap tingkat konsumerisme masyarakat. Saat ini segala hal dapat dijadikan online, mulai dari membeli makanan, ojek online, belanja online dan lain-lain. Membeli makanan dengan cara online misalnya, pikiran masyarakat diarahkan pada sebuah kesimpulan bahwa ketika sedang lapar solusinya adalah dengan pesan makan secara online. Padahal itu bukanlah satu-satunya cara dan solusi. Contoh lain adalah belanja online, sekarang ini menjadi sebuah cara baru masyarakat dalam transaksi jual beli. Memberikan promo merupakan cara paling ampuh untuk menarik konsumen agar mau membeli komoditas barang yang dijual oleh pasar. Bahkan seseorang yang sering melakukan belanja online akan menjadi kecanduan. Kecanduan inilah yang berbahaya bagi setiap orang, karena dapat mengakibatkan ketergantungan.
Masyarakat yang tingkat kosumsinya tinggi dan didukung kemudahan akses teknologi informasi, membuat masyarakat tercerabut dari akar budayanya sendiri. Konsumerisme telah membentuk seorang manusia ilusi. Seseorang akan dikatakan modern, tidak kuno dan berperadaban maju ketika bisa mengonsumsi barang-barang mewah dan terkenal. Bahkan kebutuhan dasar seperti sandang dan pangan sekarang ini telah mengalami perubahan makna, dari yang asalnya adalah sebagai kebutuhan menjadi keinginan. Seseorang akan berlomba-lomba untuk membeli pakaian atau sandang yang memiliki merk atau brand terkenal, agar terlihat mengikuti jaman. Padahal sejatinya kegunaan pakaian adalah untuk melindungi tubuh. Dalam hal kebutuhan pangan atau makan, seseorang akan berlomba-lomba untuk bisa makan ditempat restoran cepat saji. Semua itu dilakukan demi mengejar gaya hidup modern dan tidak terbelakang.
Ekonomi pasar ala negara maju membentuk manusia di negara dunia ketiga agar mau mengikuti gaya hidup mereka. Negara dunia ketiga hanya dijadikan sebagai pasar dan sumber daya alamnya diambil oleh negara maju. Ekonomi pasar mengharuskan setiap orang dari negara dunia ketiga agar mau mengonsumsi setiap komoditas barang yang diperdagangkan. Cap tidak modern dan terbelakang akan diberikan kepada setiap orang yang tidak mau mengonsumsi komoditas pasar tersebut. Perebutan ruang dan wacana alternatif harus segera dilakukan untuk melawan segala dominasi ekonomi pasar yang sedang berlaku sekarang ini.