Oleh: Firda Fayza Almaya

Bhaskara.id – Di negeri yang meminjam kata merdeka,

suara rakyat sering pulang dengan luka,

Keadilan, seperti lampu di lorong panjang,

menyala sebentar lalu padam oleh tangan penguasa.

 

Setiap pagi, kabar buruk disusun rapi,

anggaran dibelah seperti roti yang tak pernah lapar.

Yang dekat dengan kuasa duduk lebih dulu,

yang patut dan mampu menunggu di balik pintu.

 

Kursi-kursi itu bukan lagi milik kemampuan,

melainkan alamat bagi nama yang dikenal.

Jabatan dihamparkan seperti barang obral,

sementara warga sipil menghitung hak yang makin tipis.

 

Lalu militer, bayang-bayang yang makin panjang,

masuk ke ruang yang seharusnya dijalankan oleh sipil.

Negeri ini bukan barak,

dan rakyat bukan baris yang harus diam tanpa tanya.

 

Di jalan-jalan, orang kecil belajar sabar,

dari antrean, dari upah, dari janji yang tak kunjung tiba.

Namun sabar pun punya batas,

dan diam pun menyimpan gemuruh yang belum selesai.

 

Kartini pernah menyalakan kata tentang manusia dan keadilan,

bahwa hak bukan hadiah, melainkan martabat.

Soekarno pun pernah mengingatkan,

bahwa kemerdekaan bukanlah milik segelintir,

melainkan jiwa bangsa yang menolak tunduk.

 

Maka jika negeri ini ingin disebut bangsa,

Jangan wariskan takhta karena kedekatan,

Jangan jual wibawa pada ambisi,

Jangan bungkus ketidakadilan dengan seremoni.

 

Sebab rakyat tak butuh panggung yang ramai,

rakyat butuh pintu yang benar-benar terbuka.

Dan sejarah, dengan mata yang tak bisa disuap,

selalu mencatat siapa yang mengabdi,

dan siapa yang sekedar menguasai.