
Bhaskara.id – Setelah dua tahun lamanya tidak ada pesta demokrasi di kampus UMP, debat perdana pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden BEM UMP dinilai kurang memuaskan. Acara yang digelar di Aula A.K. Anshori dan disiarkan secara live melalui Zoom dan Youtube pada Sabtu (24/7) menunjukkan kurangnya persiapan dari pasangan calon tunggal tersebut.
Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPU M) yang bertindak selaku fasilitator membagi debat akbar ini menjadi lima segmen. Pada segmen pertama, pasangan calon memaparkan visi dan misi mereka. Selanjutnya, pasangan calon mendapatkan pertanyaan dari panelis yang berjumlah tiga orang.
Suluh Triyono, panelis pertama, mengatakan jawaban yang dilontarkan itu normatif dan tidak sesuai esensi dari pertanyaan yang ia berikan. Dalam hal ini, ia menyoroti terkait beberapa isu yang terkesan masih ‘blunder’ jawabannya karena mengarah kepada jawaban yang sama. “Berulang-ulang, ketemunya jawaban yang sama,” ujarnya.
“Jawaban paslon terkait isu akan dibawa ke mana BEM KM UMP belum bisa dijawab dengan langkah-langkah nyata yang konkret untuk dilakukan ke depan, serta jawaban yang terkesan berulang-ulang,” ungkap Suluh.
Suluh juga menyatakan esensi dari debat tidak terpenuhi karena secara kapabilitas pasangan calon di debat itu kurang memuaskan. Namun, ia mengapresiasi kinerja KPU yang sudah melaksanakan rangkaian Pemilwa sejauh ini dan KPU dinilai cukup kreatif untuk menyelenggarakan debat dengan sistematika yang telah dibuat.
“Jika paslon nantinya terpilih, harapannya menjadi sosok figur pemimpin yang terbuka bagi semua kalangan serta dapat memfasilitasi dan memberikan ruang kepada semua mahasiswa tanpa terkecuali,” pesan Suluh.
Menurut panelis debat kedua yaitu Masrofah, ia menyatakan debat itu membatasi bagi pasangan calon untuk menjawab dari segi sistematika. Pasangan calon menjelaskan teori, tetapi terlihat tidak memiliki kesempatan lebih lama untuk mengembangkan jawaban.
“Dari segi esensi, paslon sudah berusaha memperlihatkan bahwa mereka mumpuni dengan prestasi. Namun, beberapa kali pertanyaan yang saya lontarkan, hampir semua dijawab dengan keinginan mereka untuk memperbaiki internal organisasi terlebih dahulu baru kemudian mengawal isu-isu yang ada,” ujar Masrofah.
Padahal menurut Masrofah, perbaikan internal organisasi sudah menjadi tanggung jawab bagi setiap lembaga yang seyogianya tidak perlu digembor-gemborkan. Dirinya juga menyatakan tidak puas dengan argumentasi yang pasangan calon berikan karena jawaban yang masih terkesan sama dan diulang-ulang dengan jawaban sebelumnya.
“Jika nantinya mereka terpilih, saya berharap paslon benar-benar berkomitmen untuk mengawal isu-isu kampus maupun nasional. Sehingga jika mahasiswa mengalami kendala, mereka akan memberikan gerakan dukungan hingga keadilan tercapai bagi mahasiswa,” pesan Masrofah.
Selanjutnya, menurut panelis debat ketiga yaitu Gilang Tapan, ia beranggapan sama dengan kedua panelis yang lain yaitu pertanyaan yang ditanggapi dari pasangan calon pun masih tidak menjawab pertanyaan darinya dan terkesan ‘muter-muter’.
“Waktu itu terkesan kaya nggak menjawab dan malah menghindar dari pertanyaan yang diberikan,” ujar Gilang Tapan.
Di samping itu, Gilang pun menyayangkan terkait keterbatasan waktu. Dirinya mengatakan bahwa waktu yang diberikan kepada panelis sangat terbatas sehingga argumentasi dari pasangan calon tidak bisa diulik lebih mendalam lagi. Bahkan, dirinya menyatakan bahwa debat kemarin lebih cocok untuk disebut diskusi ketimbang debat.
Gilang berpendapat jika debatnya dibuat dengan seperti itu akan kurang efektif untuk mengulik pasangan calon lebih dalam. Kemudian, ia berharap pasangan calon harus berpihak kepada mahasiswa dan tidak mengingkari pernyataan mereka saat debat kemarin jika nantinya mereka itu terpilih.
“Terus di sisi mahasiswa, tetap lakukan hal-hal yang baik buat kesejahteraan dan kemaslahatan mahasiswa,” tutur Gilang.
Muhammad Mirza Ibrahim selaku Timses Paslon nomor 2 mengakui pihaknya telah mempersiapkan debat ini jauh-jauh hari. Dari persiapan-persiapan yang ada, pihaknya menyatakan mereka telah menganalisis masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa beserta dengan analisis solusi yang mereka buat.
Selanjutnya, pihaknya juga mempersiapkan terkait public speaking pasangan calon sebelum di panggung debat, “Kita mencoba untuk membuat standar tertentu. Standar seorang figur yang mewakili empat belas ribu mahasiswa sehingga nantinya tidak ‘glagepan’,” ujar Mirza selaku Timses paslon nomor 2.
Di samping persiapan tersebut, Mirza menanggapi berkaitan dengan jawaban yang pasangan calon lontarkan beberapa ada yang sesuai dengan kajian bersama Timses dan ada yang tidak sesuai.
“Terkait wawasan dan pengetahuan paslon ada yang sesuai analisa kami dan ada yang tidak. Memang, kami sudah melakukan analisis sebelumnya. Namun, ketika mereka ini sudah di panggung, itu panggung mereka, bukan lagi panggung timses,” tuturnya. (ABH/Bhas)