SUT Dianggap Tak Berkualitas
Bhaskara – Persidangan sebagai wahana pembelajaran politik bagi mahasiswa masih menuai pertanyaan akan keefektivitasannya. Seberapa berkualitasnya persidangan yang dilakukan oleh Keluarga Mahasiswa Univesitas Muhammadiyah Purwokerto(UMP) menjadi hal yang perlu dipertimbangkan, melihat realitas proses persidangan dewasa ini.
Seperti persidangan yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Universitas pada Sidang Umum Tengah, Senin(26/12/2016). Awal waktu sebelum sidang berjalan, polemik demi polemik mulai bermunculan. Dari peserta sidang yang belum memenuhi kuota forum, hingga dipendingnya persidangan sampai ngaret hingga pukul 21.00 WIB.
Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik, Perhat Rakajaya, menuturkan dengan minimnya kuota forum yang ada, menunjukan belum maksimalnya sebuah sidang, apalagi jika melihat urgensi SUT bagi seluruh lembaga di KM UMP.
“Melihat dengan hanya 12 lembaga yang hadir, membuktikan belum idealnya sebuah sidang diselenggarakan. Apabila menghitung jumlah keseluruhan lembaga yang ada di KM UMP mencapai 54 lembaga, hanya berapa persen lembaga yang dapat menghadiri acara tersebut. Padahal, jika kita mengetahui fungsi dari SUT yang sebenarnya mengevaluasi dan memberikan masukan bagi para lembaga tinggi, hal ini tentunya adalah yang penting bagi kemajuan KM UMP kita,” ucapnya.
Perhat juhga menambahkan, tak hanya pada awal persidangan polemik terjadi. Peserta sidang yang didominasi anggota baru dari setiap lembaga KM UMP, menyebabkan kurang produktifnya persidangan. Terbukti dengan forum yang hanya dikuasai oleh wajah-wajah lama saja.
“Saya menyayangkan teman-teman kurang komunikatif, ini mungkin disebabkan karena banyak anggota baru yang belum paham dengan teknik, mekanisme persidangan, dan wacana seputar organisasi,” ucapnya kepada awak Bhaskara.
Tak jauh berbeda dengan Perhat, Direktur Badan Keuangan Mahasiswa, Yolanda mengatakan Fungsi SUT yang harusnya dapat mengedukasi para lembaga akan pentingnya Student Goverment yang ada di KM UMP, ternyata kurang mendapat sorotan. “Peran lembaga di SUT, yaitu memberi masukan dan sebagai penguat lembaga tinggi untuk bekerja lebih maksimal. Karena yang dilakukan oleh lembaga tinggi adalah untuk membantu para lemabaga dalam menjalankan kinerja organisasi di dalam KM UMP,” ujarnya.
“Apabila meninjau realita SUT kali ini memang belum dapat dibilang berkualitas. Hal ini ditinjau mulai dari kesiapan panitia, hingga forum yang semakin pasif, semakin memperlihatkan kurang baiknya SUT. Tidak tersampaikannya tujuan dari SUT adalah salah satu penyebab lain dari kualitas yang SUT yang rendah,” tambahnya.
Selain itu, Yolanda juga mengkritisi kurangnya sosialisasi dan publikasi seputar sidang tersebut. Ia juga memberikan saran terhadap permasalahan akan SUT kali ini dengan mengedepankan wacana seputar teknik dan tujuan persidangan kepada setiap lembaga.
“DEMA selaku lembaga yang berada dibidangnya, kedepannya mampu mengedukasi terlebih dahulu para lembaga sebelum melakukan persidangan. Teknisnya, DEMA ditataran Universitas dan Fakultas dapat membuat forum sebagai ajang diskusi untuk mensosialialisasikan tujuan dari SUT,” ujarnya.
Anggota Himpunan Mahasiswa Program Studi Sejarah, Andhika Pratana menuturkan, dari keseluruhan sidang pada malam hari itu sudah cukup baik. Walaupun forum pada awal persidangan belum mencukupi, ia merasa hal ini masih pada batas wajar. “Forum sudah baik. Kondusif dan banyak yang hadir,” ujarnya.
“Harapannya, setelah SUT Lembaga Tinggi menerima segala bentuk masukan dan juga evaluasi seputar kinerja mereka dibeberapa bulan yang lalu. Kedepannya mereka dapat menjalakan rekomendasi yang ada dan tidak melakukan kesalahan yang sama,” kata Andhika kepada awak Bhaskara.
Ketua Dewan Mahasiswa Universitas, Triyono, berpendapat mahasiswa kali ini kehilangan minat untuk mau belajar tentang aturan main di KM UMP, yaitu dengan ikut hadir dalam SUT. “Adapun penyebab dari kurangnya kualitas dari SUT dikarenakan para mahasiswa lebih tertarik untuk berlibur dihari tenang, dari pada harus mengikuti persidangan,” katanya.
“Sosialisasi kami rasa sudah maksimal, dengan jalan pendekatan melalui tiap lembaga untuk menghadiri agenda tersebut. Kami sudah melayangkan surat dan menghubungi melalui alat komunikasi yang ada,” tambahnya.
Ia juga membenarkan adanya polemik yang terjadi saat SUT merupakan dampak dari kurangnya kineja dari panitia.”Mau seperti apapun, anggota itu suci, biarkan kesalahan ini saya yang menanggung. Saya atas mewakili DEMA-U meminta maaf karena belum memfasilitasi secara maksimal, lembaga-lembaga KM UMP dengan baik,” ucapnya kepada awak Bhaskara. (DK/Bhas)
