
Bhaskara.id- Setiap tahunnya UMP mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi para mahasiswanya. Pada tahun ini, ada perbedaan dalam pelaksanaan KKN yaitu pelaksanaan KKN Tematik yang hanya dikhususkan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP).
Berdasarkan penuturan dari Lulu, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), mahasiswa FKIP dapat memiih salah satu program KKN yang disediakan oleh kampus. “Untuk mahasiswa FKIP itu wajib KKN Tematik, tetapi boleh juga ikut KKN Muhammadiyah Aisyah (MAs) dan KKN 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dengan seleksi wawancara. Jika dinyatakan lolos maka boleh ikut KKN tersebut, tetapi jika tidak lolos maka akan otomatis ikut KKN Tematik FKIP,” ujar Lulu.
Lulu menjelaskan KKN Tematik kali ini merupakan kali pertama yang diperuntukkan khusus untuk mahasiswa FKIP. Menurutnya, hal ini sedikit kurang adil karena mereka hanya bertemu dengan mahasiswa dari kalangan FKIP saja, sedangkan untuk magang satu dan dua di sekolah juga khusus untuk mahasiswa FKIP.
“Sejauh ini, yang saya ketahui tentang KKN Tematik itu khusus untuk mahasiswa FKIP. Kalau pembedanya dengan KKN reguler, juga belum tahu karena KKN Tematik itu baru ada di tahun ini kalau tidak salah. Saya tanya ke kakak senior juga sebelumnya belum ada,” tutur Lulu.
Menurut salah satu mahasiswa Prodi Geografi, Dimas Hirzi, ada sedikit perbedaan KKN tahun ini yaitu KKN Tematik yang hanya dikhususkan untuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“KKN Tematik itu KKN yang khusus untuk FKIP dan yang mengurus KKN Tematik itu fakultas, bukan dari LPPM langsung, tetapi masih diawasi oleh LPPM. Tanggapannya ya baik-baik saja cuma agak kaget tidak digabung reguler, tetapi malah sendiri,” tutur Dimas.
Namun, menurut Dimas, pelaksanaan KKN sudah dipikirkan dengan matang oleh penyelenggara yaitu LPPM. Menurutnya, walaupun di tengah pandemi, KKN tetap dilaksanakan secara offline. Tidak hanya itu, peserta juga diwajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan sebelum KKN dan harus dinyatakan negatif Covid-19 pada tes Swab Covid-19.
Salah satu mahasiswa FKIP lainnya yaitu Hanin juga kebingungan antara perbedaan KKN Tematik dengan reguler. Berdasarkan penuturannya, mahasiswa FKIP lebih condong menginginkan KKN reguler karena dirasa dapat menambah relasi dengan program studi lainnya.
Senada dengan Lulu dan Dimas, Hanin –salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris– tidak terlalu mengetahui urgensi adanya KKN Tematik. “Mahasiswa FKIP tidak boleh mengikuti KKN reguler, tetapi dia wajib ikut KKN Tematik. Saya bertanya ke kakak senior perbedaan KKN reguler dengan tematik. Ternyata, tematik itu seperti bertema gitu dan akan lebih mengkhususkan kepada pendidikan dan mungkin karena FKIP itu juga mahasiswanya banyak dan prodinya ada 9, jadi mungkin ada sesuatu hal yang membuat mengapa FKIP itu tematik,” tutur Hanin.
Suwarno, Ketua Lembaga Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat atau biasa disebut LPPM, menyebutkan bahwa sistematika pelaksanaan KKN tahun ini sama dengan tahun lalu. “Sama tidak ada perubahan dengan sebelumnya. Tidak ada masalah dan yang mengurusi tentang KKN Tematik ini dari pihak fakultas, LPPM hanya mengawasi,” ujarnya.
“Untuk pelaksanaan sama, kami merujuk pada yang sudah ada, kemudian sampai saat ini sudah sampai pendaftaran sudah tercatat 280 atau 290-an. Untuk kelompok, sudah dibuat jadi nanti sama berkelompok. Waktu tahun lalu, itu programnya sendiri-sendiri kalau sekarang berkelompok. Kami juga menggunakan tiga tempat, Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan Purbalingga”, tambah Laily Nurlina.
Menurut Laily Nurlina, KKN ini hanya diwajibkan untuk FKIP karena berfokus kepada pendidikan agar ke depannya ada pandangan mengenai profesinya dan ini bukan kali pertamanya KKN Tematik dilaksanakan, tetapi di fakultas lain pernah melaksanakannya juga.
“Kami merasakan ketika mengikuti nonpendidikan mahasiswa kami kurang porsi. Sekarang, dengan KKN yang berfokus pada pendidikan, kami lebih mendekat pada masyarakat kemudian tetap menjaga hubungan baik dengan sekolah-sekolah di sekitar desa yang ditempati mahasiswa,” tutur Laily Nurlina.
Walaupun masih pandemi, Laily Nurlina menyebutkan bahwa kelompok KKN Tematik dibagi berdasarkan domisili mahasiswa dan hal tersebut bukanlah hal yang baru untuk memisahkannya. Menurutnya, KKN Tematik lebih berfokus pada pendidikan sehingga mahasiswa dapat lebih siap menjadi seorang guru. (AM/Bhas)