Karya : Ibnatia Amila
Bhaskara.id – Di sebuah perkampungan kumuh, Salamah, seorang ibu tunggal hidup di gubuk reot bersama kedua anaknya serta ibunya yang sudah sepuh. Salamah bekerja sebagai buruh lepas saat orang-orang di perkampungannya itu tengah mengadakan panen raya pada saat musim panen padi. Selebihnya, entahlah Salamah mampu bertahan hidup dengan seadanya dan pekerjaan yang serabutan. Anaknya, Ujang yang saat ini akan memasuki masa SMP serta Dwi anak perempuannya yang masih kelas 3 SD turut membantu sang ibu dalam mencari uang demi membeli satu kilo beras beserta lauk-pauknya. Ujang menginginkan sekolah tinggi layaknya teman-teman sepantarannya yang tinggal di perkampungan ini. Namun, orang-orang di perkampungan ini merupakan orang yang bercukupan. Mereka mampu membeli ayam setiap harinya, daging dalam setiap minggu atau bulan. Anehnya adalah orang-orang bercukupan tersebut justru menerima banyak bantuan dari pemerintah, sedangkan Salamah sehari-hari bekerja cukup keras dengan bayaran yang tak seberapa itu hanya beberapa kali menerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Mak nanti Ujang mau ikut daftar sekolah SMP bareng sama Rama, boleh kan Mak?” Ujar Ujang saat emaknya tengah menyiapkan makan sore. Makan sore kali ini cukup lezat bagi Dwi dan Ujang. Lauk tempe orek, telur puyuh rebus dengan nasi hangat itu sudah sangat mewah, Ujang yang juga ikut bekerja sebagai buruh lepas di toko milik tetangganya diberi satu bungkus telur puyuh, katanya biar Ujang dan Dwi adiknya senang.
“Cari sekolah jangan yang mahal-mahal yah Jang, emak enggak sanggup,” jawab Salamah.
“Iya Mak Ujang tahu. Tapi kata bu guru di sekolah Ujang bisa kok dapet beasiswa. Nyatanya Rama yang bapaknya punya toko gede aja dapet beasiswa dari pemerintah Mak,” kata Ujang, ingin membuat emaknya percaya bahwa pemerintah cukup baik kepada keluarganya yang melarat ini.
Ujang hanya mampu bermimpi suatu saat nanti ia bisa menjadi orang sukses seperti yang dilihatnya di televisi milik Rama. Namun mungkin itu hanya impian belaka, orang-orang yang menggunakan jas serta berpenampilan kelimis itu mungkin terlahir dari rahim orang-orang kaya pula. Tak seperti dirinya yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya dan dimana ayahnya berada. Namun Ujang selalu bersyukur. Ia masih mempunyai Salamah, ibunya yang baik dan selalu ada disaat penerimaan rapor di sekolah. Lalu juga Dwi, adik perempuannya yang kini duduk di kelas 3 SD yang selalu meminta bantuan Ujang untuk berhitung dan membaca. Neneknya, Siti masih kuat untuk ikut bekerja membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di saat pandemi tahun kemarin adalah masa terberat bagi Ujang dan Dwi, mereka harus belajar di rumah dengan menggunakan handphone. Sedangkan Ujang yang makan enak saja sudah sangat senang belum mampu membeli handphone terbaru seperti teman-temannya. Ujang dan Dwi sempat menebeng handphone di rumah salah satu tetangganya. Beruntungnya anak itu cukup baik untuk saling berbagi handphone untuk belajar, Ujang hanya perlu ikut patungan untuk membeli kuota. Di sisi lain pasti timbul rasa iri dalam diri Ujang dan Dwi, mereka yang hidup serba kekurangan juga menginginkan handphone selayaknya teman-temannya. Hingga suatu hari Salamah mau tidak mau harus berhutang kepada bu RT demi membelikan handphone untuk kedua anaknya.
“Maaf ya Ujang, Dwi. Emak cuma bisa beli satu hape. Kalian harus berbagi ya,” kata Salamah setelah pulang bekerja dari sawah membawa sebuah kotak berisi handphone layar sentuh. Mungkin handphone ini tak semewah yang kalian punya, namun untuk Ujang dan Dwi yang masih berbagi satu handphone untuk bersama rasanya sangat bahagia.
“Ujang enggak papa Mak, yang penting Ujang bisa sekolah dan belajar pakai hape itu,” ujar Ujang.
Ujang, seorang anak laki-laki yang ingin membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan. Ujang hanya manusia, ia punya rasa iri terhadap teman-teman sebayanya yang bisa bermain tanpa harus memikirkan makan apa besok pagi. Ujang harus membantu emaknya untuk mencari uang sepulang sekolah sampai azan Magrib berkumandang. Sepulang bekerja Ujang akan salat dan mengaji di musala kecil di kampung ini.
Memasuki tahun ajaran baru saat ini sangat sulit untuk Ujang. Nilai UN Ujang tak besar-besar amat, Ujang juga tidak punya prestasi mumpuni seperti mengikuti lomba sewaktu SD. Hal itu menyulitkan Ujang untuk dapat masuk ke sekolah SMP favorit. Walaupun SMP negeri merupakan sekolah gratis yang dibiayai pemerintah namun ternyata harus tetap membeli buku-buku LKS yang harganya juga mahal. Beberapa guru tidak mentolerir apabila muridnya tak punya buku LKS, mengharuskan orang-orang seperti Ujang harus tetap membelinya dengan harga yang mahal tersebut.
“Mak ini buku-buku Ujang yang enggak kepakai mau Ujang jual aja ya ke pengepul, biar nanti uangnya buat tambahan beli seragam sekolah,” kata Ujang sembari mengumpulkan buku-buku sekolahnya yang sudah tidak layak pakai dan biasanya akan dicari oleh penjual cabai atau sarapan di kampungnya. Harganya lumayan untuk satu kilo, bisa ditabung untuk membeli apa yang diinginkan Ujang dan adiknya.
“Iya Jang, emak juga lagi nyari buat biaya kamu masuk sekolah. Nanti emak tanya ke bu RT ya barangkali Ujang bisa kayak Rama yang bisa dapet KIP itu,” kata Emak lembut.
Salamah juga ingin anak-anaknya bisa sekolah tinggi, mungkin bisa jadi guru karena guru adalah pekerjaan yang mulia dan bisa bikin keluarga bangga. Kalau jadi guru bisa lumayan kan biar bisa dipamerin ke tetangga, begitu pikir Salamah.
Hari ini uang yang didapat Salamah sedikit saat menjadi buruh cuci, ya itupun karena bu RT cucian lagi enggak numpuk dan merasa kasian dengan Salamah apalagi ini bukan saatnya musim panen padi. Saat ini hujan deras dengan angin kencang membuat padi-padi menjadi gagal panen sehingga pemilik sawah juga mencari akal agar panenan padi tetap berjalan kalau tidak para pemilik sawah ini juga tidak mendapatkan uang dari hasil panennya.
Dwi yang hari ini bisa seharian main petak umpet baru saja pulang ke rumah membawa bungkusan kresek hitam. Siti sang nenek yang memasak air menggunakan kayu bakar untuk mandi sorenya bertanya apa isi kresek hitam tersebut.
“Ini mbah, Dwi dapet sepatu masih bagus dari Bu Kartika. Katanya anaknya udah gede terus sepatunya enggak muat lagi terus dikasih ke Dwi,” ucap bocah perempuan itu dengan bahagia, akhirnya Dwi punya sepatu yang mirip sama teman-temannya di sekolah. Tidak apa-apa bekas orang lain yang penting masih bisa dipakai dan masih bagus pula.
Malam itu saat pengumuman diterimanya Ujang di sekolah SMP, Salamah datang ke rumah bu RT untuk mencari tahu apakah Ujang bisa menerima beasiswa dari pemerintah. Memang sekolah itu gratis tapi untuk membeli buku-buku yang seringkali diwajibkan oleh guru, Salamah belum mampu membantu anaknya. Salamah lihat anak-anak di kampung kata ibu-ibu mereka mendapat uang paling tidak 500 ribu selama satu bulan atau satu semester dari program pemerintah. Apalagi banyak juga tetangganya yang setiap bulan mendapatkan jatah pangan dari pemerintah. Sedangkan Salamah sendiri yang merupakan warga kurang mampu seperti mereka ini tidak pernah mendapatkannya. Saat itu Salamah pernah mendaftarkan anaknya Ujang dalam program beasiswa untuk masyarakat miskin, namun tetap saja Salamah sebagai warga kurang mampu masih belum cukup kurang mampu bagi pemerintah untuk mendapat beasiswa tersebut. Sedangkan yang lain, tetangganya yang bekerja di kantor desa anaknya juga mendapatkan program pemerintah. Namun Salamah tak pernah iri hati atau dengki dengan hal itu, Salamah tetap gigih bekerja untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Salamah tergopoh-gopoh menuju rumah Bu RT yang juga menjadi kader desa itu. Berharap bahwa kemiskinannya itu membuat pemerintah mengintip bahwa keluarga tersebut membutuhkan biaya demi mendapatkan pendidikan untuk anak-anaknya.
“Maaf ya Bu Salamah, sepertinya keluarga Bu Salamah tidak terdaftar di Dinas Sosial Kabupaten. Beberapa dokumen ada yang kurang. Jadi Ujang sepertinya tidak bisa mendapatkan KIP sekolah,” ucap Bu RT dengan nada yang welas asih.
Salamah seketika menurunkan bahunya, begitu lemas mendengar bahwa Ujang dan Dwi sulit untuk mendapatkan beasiswa. Di rumah, Ujang sedang membantu adiknya mengerjakan PR sekolah. Lalu celotehan Dwi membuat Salamah ikut berpikir bagaimana cara dia mendapatkan uang lebih untuk mendapatkan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Salamah senantiasa berharap Ujang dan Dwi tidak seperti dirinya dan saudaranya yang lain. Anak-anaknya harus mendapat pendidikan yang layak.
“Mas, enak juga ya jadi anak presiden. Aku liat ditivi dia naik pesawat jet,” ungkap Dwi.
“Coba kita jadi anak presiden, mesti tiap hari kita naik pesawat keliling Indonesia atau luar negeri. Iya kan mas?” lanjut Dwi lagi sementara Ujang menuliskan jawaban di buku LKS.
“Iya, yang penting kita belajar aja dulu. Kamu jangan main terus, liat nih PR kamu sampai belum dikerjain,” jawab Ujang.
Dengan pikiran melayang, Salamah masih bersumpah akan bekerja keras demi pendidikan yang layak. Apakah iya si miskin tak boleh punya mimpi selayaknya anak presiden dengan pesawat jetnya?