Bhaskara.id – Debat calon Presiden dan wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang diadakan pada 12 November di Pelataran gedung E FKIP menghadapi tantangan serius: minimnya minat mahasiswa untuk hadir. Meskipun acara ini bertujuan sebagai ajang bagi para kandidat untuk menyampaikan visi, misi, dan program kerja yang dapat memajukan organisasi kemahasiswaan, kenyataannya partisipasi mahasiswa tampak jauh dari harapan. Kursi-kursi yang kosong dan keterlibatan audiens yang rendah menimbulkan pertanyaan mengenai kepedulian mahasiswa terhadap proses demokrasi di kampus.

“Panitia memang kurang berkoordinasi, yang menyebabkan sedikitnya audiens. Kebanyakan yang datang dari organisasi, sedangkan mahasiswa umum sangat sedikit. Mungkin ini karena panitia kurang berkoordinasi dan kurang komunikasi dengan para ketua lembaga untuk menyosialisasikan debat ini,” ujar FA. Perwakilan dari salah satu himpunan FKIP, FA juga menjelaskan bahwa walaupun beberapa informasi terkait debat sudah tersebar, kurangnya komunikasi dan adanya kesalahpahaman dalam undangan serta perubahan jadwal yang belum pasti mengakibatkan acara ini tidak optimal.

“Sosialisasinya kurang gencar, mahasiswa jadi tidak tahu, dan akhirnya tidak tertarik dengan acara ini,” ungkap IS. IS, seorang mahasiswa FKIP, menilai bahwa minimnya sosialisasi dari panitia membuat mahasiswa tidak tertarik untuk datang.

FA berharap ada peningkatan koordinasi dan keharmonisan setiap periode kepemimpinan di BEM FKIP, serta keterbukaan dari pihak BEM terhadap lembaga-lembaga di bawahnya, terutama dalam hal sosialisasi dan penyelesaian permasalahan.

(LY/BHAS)