Oleh: Afif Fadhlullah Aziz

Di tengah kondisi penyebaran virus Corona (Covid-19) yang melanda Indonesia, sebagian besar sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia menerapkan kebijakan Work From Home Full atau Lock Down, salah satunya ialah Universitas kita, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Sebelum menerapkan kebijakan Work From Home Full pada tanggal 24 Maret 2020, pihak birokrasi sudah lebih dulu membagikan surat edaran yang menghimbau agar kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online class. Kegiatan yang dimulai pada tanggal 16 Maret 2020 ini bertujuan untuk meminimalisir penyebaran virus corona dengan menuntut kita untuk tidak berada di ruang kelas. Karena jika kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan secara tatap muka, lalu ada salah satu mahasiswa atau dosen yang terjangkit virus tersebut, maka ditakutkan akan menular dengan cepat dan sulit dikendalikan. Mengingat hingga saat ini jumlah mahasiswa yang aktif di UMP kurang lebih mencapai 9.000 mahasiswa.

Tindakan preventif ini memang sangat tepat untuk diterapkan, namun sampai tanggal 24 Maret 2020, tindakan ini dianggap sangat kurang persiapan. Kita dituntut untuk memfasilitasi diri sendiri demi mengikuti Online Class, disamping kita sudah membayarkan uang SPP di awal semester. Padahal, salah satu tujuan kita membayar uang perkuliahan yaitu untuk mendapatkan fasilitas, yang nantinya digunakan untuk kenyamanan dalam kegiatan belajar. Ada banyak fasilitas yang seharusnya kita dapat ketika tidak ada online class seperti AC, proyektor, buku-buku di perpustakaan, sekre, WiFi dsb.

Namun di sini saya hanya mencontohkan akses internet atau WiFi, karena inilah yang berdampak paling besar terhadap peralihan sistem dari tatap muka menjadi online class. Dengan adanya WiFi tentu sangat membantu bagi kita, terutama ketika diperintah oleh dosen untuk mencari referensi mata kuliah. Kita bisa berselancar di internet menggunakan fasilitas kampus tanpa harus membeli paket kuota. Meskipun membelinya, ini hanya digunakan ketika berada di luar kampus. Yang jelas, adanya fasilitas WiFi dapat menghemat uang saku, dan lebihnya bisa disisihkan untuk membeli barang-barang kesukaan kita misalnya buku-buku favorit atau merchandise boyband k-pop.

Namun dengan adanya online class, uang yang seharusnya bisa diperhemat malah digunakan untuk membeli paket kuota, tentu uang saku tersebut akan lebih sulit untuk disisihkan. Selain itu, hal tersebut bisa dianggap memberatkan bagi orang tua kita, karena harus menyiapkan uang tambahan untuk membeli kuota bagi anaknya yang sedang menempuh masa studinya.

Untuk mengatasi hal ini, dari pihak kampus sendiri belum memberikan layanan kuota gratis untuk kegiatan belajar secara online class. Sehingga orang tua kita harus mengeluarkan biaya tambahan untuk anaknya agar bisa belajar secara online.

Pokok permasalahannya adalah kita sudah membayarkan uang perkuliahan, namun kita tidak mendapatkan fasilitas yang diberikan pihak kampus, sehingga hal ini seperti menjadi sia-sia karena fasilitas tidak bisa dinikmati seperti biasanya. Alternatifnya adalah harus ada win-win solution untuk permasalahan ini. Seperti harus ada penyedian kuota atau pengurangan biaya kuliah di semester depan.

Pihak birokrasi harus bekerjasama dengan berbagai provider penyediaan layanan internet demi untuk memudahkan kita dalam belajar secara online alih-alih sebagai pengganti akses WiFi di kampus. Dengan disediakanya paket kuota tentu dapat mengurangi beban orang tua kita, karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya perkuliahan tambahan, di luar biaya yang sudah dibayarkan ke pihak kampus.

Selain itu, perlu juga adanya pengurangan biaya kuliah di semester depan, karena saat ini kita tidak menikmati fasilitas yang ada, di samping kita juga belum tahu kebijakan lock down akan berakhir sampai kapan. Dan juga karena kita belum mengetahui penggunaan uang yang dibayarkan di awal semester, mengingat seluruh fasilitas kampus sudah di non-aktifkan. Akibatnya penggunaan uang tersebut menjadi pertanyaan bagi kita, untuk apa uang tersebut ketika kegiatan belajar mengajar diganti online class?.

Hal-hal seperti ini seharusnya sudah dipikirkan oleh pihak kampus sebelumnya, karena terhitung sudah sepuluh hari diterapkanya kebijakan online class sampai kebijakan lock down, sehingga nantinya tidak ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Jika pihak kampus tidak memikirkan hal ini secepatnya, maka sia-sia sudah uang perkuliahan yang telah dibayarkan dan tentu akan memberatkan bagi orang tua kita yang sudah mempercayakan anaknya untuk berkuliah di UMP.