Aku Bisa Menghilamg

Oleh: Rizki Bagus

Mimpi, Setiap manusia yang ada di dunia ini pasti punya mimpi, entah bermimpi ingin menjadi seseorang yang hebat, atau bermimpi memiliki harta yang banyak—atau mungkin, bermimpi mempunyai keluarga yang bahagia. Hampir setiap mimpi manusia itu masih terdengar mungkin, tapi begitu orang lain mendengar tentang mimpiku—mereka semua tertawa bahkan mengataiku orang gila. Aku tak tahu apa yang salah dengan mimpiku, tapi mimpiku memang terdengar cukup aneh, karena aku bermimpi mempunyai kekuatan super—apapun kekuatanya.
Namaku Defa, cukup dipanggil Def. Seorang remaja laki-laki berumur sembilan belas tahun yang baru saja lulus SMA. Aku mempunyai hobby yang aneh, yaitu berkhayal atau berimajinasi. Apapun, dimanapun dan kapanpun aku bisa melakukanya. Entah berkhayal tentang diriku yang sedang dalam pertempuran, atau diriku yang menjadi pangeran di sebuah kerajaan kaya, bahkan berkhayal tentang dunia anime dan dunia game yang membuatku jungkir balik jika mengimajinasikanya.
Hidupku sebenarnya normal, tidak seperti para fans anime ataupun gamer yang mencurahkan segalanya untuk apa yang mereka suka. Aku mempunyai keluarga, teman-teman di sekolah, sahabat bahkan seorang pacar. Namun dari semua orang-orang yang hidup di sekitarku, hanya Ayah dan Fafa—(nama pacarku)—yang tahu dan menyadari hobby berkhayalku ini. Kata Ayah, “Berimajinasi itu sebuah bentuk kreatif, jadi lanjutkan dan kembangkan semua imajinasimu.”
Fafa awalnya adalah tetanggaku, rumah kami bersebelahan. Dari kecil kami selalu bersama, hingga akhirnya kami sadar bahwa kami saling mencintai, walaupun saat itu kami masih anak SD. Namun ternyata, hingga kami lulus SMA kisah cinta kami masih berlanjut dan tidak terlalu berlebihan seperti anak muda biasanya yang kelewatan. Kami memang saling mencintai, namun kami paham betul tentang agama. Kami selalu ingat batas-batasan kami, sehingga apapun yang terjadi kami akan selalu ingat bahwa sebuah hubungan yang tidak resmi seperti pacaran itu harus ada batasanya.
Hari ini adalah hari yang spesial, karena hari ini Ayah, Ibu dan Zein adiku sedang bepergian ke rumah Nenek di Purbalingga, dan aku akan melakukan ritual berkhayalku. Ritual berkhayalku itu bukan sekedar ritual biasa, karena aku harus memfokuskan diri untuk bisa terbawa dalam alam mimpi.
Tepat pukul tujuh pagi Ayah, Ibu dan Zein meninggalkan rumah. Setelah mereka semua pergi, aku langsung melaksanakan ritual mimpiku. Dan akhirnya aku berada dalam sebuah tempat tak dikenal yang penuh dengan peti mati. Aku terkejut ketika ada yang membuka pintu di ruangan itu. Ia ternyata seorang paman tua berambut putih yang sudah kehilangan satu matanya.
“Paman siapa?…Dan ini dimana?” Tanyaku terbata-bata.
“Kamu sendiri bagaimana bisa ada disini? Ini adalah rumahku, rumah pemburu peti mati dan mayat manusia.” Ucap paman itu memelototiku.
“Pemburu peti mati? Paman manusia bukan si?” Ucapku heran.
Paman itu tersenyum kemudian ia mengangkat lengan kananya dan tiba-tiba semua mayat yang ada di peti mati itu terbangunkan. Aku terjatuh karena saking kagetnya, apa yang terjadi bagaimana mungkin mayat bisa hidup lagi? Ucapku dalam hati. Aku mundur terseok-seok hingga terpojokan pada sebuah lemari buku besar yang terletak di sudut ruangan. Paman itu mengacungkan jarinya padaku lalu semua mayat yang ada di ruangan itu berjalan mendekatiku. Aku gemetar, semua urat-uratku merasakan ketakutan yang luar biasa, ini bukan bohongan, mayat itu benar-benar terlihat nyata, walaupun ini mimpi—tapi sungguh ini terlalu menyeramkan jika dibilang mimpi.
Mayat-mayat itu semakin dekat, aku tidak tau harus berbuat apa, pikiranku kacau, seluruh mentalku telah dihancurkan oleh ketakutan ini. Hingga paman tua itu mencekiku dan menempelkanku di lemari buku seperti ingin menyayatku habis-habisan. “Kau hanya manusia…lemah, dan tak berdaya.” Ucap paman itu persis di depan wajahku.
Aku mematung seketika, paman itu dan seluruh mayat itu benar-benar mengerikan. Aku tak tahu ini mimpi atau kenyataan, tapi bagaimana bisa aku menjadi seperti ini. Aku memejamkan mata, merasa terperangkap dalam dunia yang tak kukenal, bahkan akal sehatku kacau tidak terkendali, pikiranku melayang entah kemana harus berpikir, buntu… Begitu senyap, bau busuk pun menyeruak dari setiap perkataanya dan wajahnya sangat mengerikan—hampir mati aku dibuatnya.
Tiba-tiba ada suara jeritan dari para mayat, bahkan tangan paman tua yang mencekiku sudah terlepas. Aku membuka mataku, dan semua mayat serta paman itu sudah terkapar tak berdaya. Seseorang memasuki ruangan, ia berbaju putih dan masih terlihat muda. Ia berambut klinis, tersenyum manis dan membuatku meringis. Aku tak tahu siapa dirinya, tetapi ia sudah menyelamatkanku. Ia berjalan mendekatiku, membantuku berdiri dan mengenalkan dirinya.
Seseorang itu bernama Alpha, seorang penyihir baik yang sudah mencari-mencari si paman tua. Ia berbicara bahwa aku terlempar ke dimensi tempat dimana para penyihir hidup, tempat yang hingga saat ini aku belum mengetahuinya. Ia menyembuhkan mentalku, sedikit berbicara padaku, kemudian mengembalikanku ke alam nyata dan akhirnya aku terbangun dari mimpiku.
**
Dua minggu setelah mimpi buruk itu, aku merasakan keanehan dalam diriku. entah apa tapi aku merasakan kejanggalan, karena terkadang orang-orang disekitarku tidak sadar akan kehadiran diriku.
Contohnya kejadian tadi pagi, ketika aku terbangun dari kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan. Ayah, Ibu dan Zein baru menyadariku ketika aku terduduk di kursi makan, mereka bahkan sama sekali tidak melihatku ketika aku berjalan menuju ruang makan, padahal Ayah dan Zein sedang berada di depanku. Lalu kejadian saat aku memasuki kelas, seluruh anak dikelas tidak ada yang melihatku masuk ruang kelas, bahkan mereka mengaku tidak melihat tasku dan bangku yang aku duduki masih kosong. Tetapi secara mendadak begitu aku menaruh tas, mereka semua terkaget dengan kehadiranku. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku, semuanya begitu semu dan membinggungkan. Bagaimana bisa ini terjadi pada diriku, apa karena aku terlempar ke dunia lain? Sehingga diriku bisa menjadi seperti ini. Ah tapi mana mungkin, itukan hanya mimpiku, bukan sebuah kenyataan.
Setelah pulang sekolah, aku langsung menuju kamarku, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku—karena sejujurnya aku penasaran apakah diriku benar-benar tidak terlihat. Bahkan aku sampai mencari kasus seperti diriku di internet, membuktikan apakah ada manusia transparan seperti diriku? Ah tapi mana mungkin aku menjadi manusia transparan, aku yakin keluarga dan teman-temanku memang tidak melihatku saat aku makan ataupun menuju ruang kelas, bukan karena aku yang bisa menghilang. Mana mungkin ada manusia yang bisa menghilang—ucapku dalam hati sembari berpikir secara logis.
Dua hari telah berlalu dan kondisiku terlihat makin memburuk, dalam artian kekuatan ini semakin nyata. Aku berusaha menangkal semua pikiran tentang khayalanku, bagaimana mungkin aku bisa tak terlihat, ini pasti hanya mimpi dan aku tidak bisa terbangun karena mimpi ini begitu kuat.
Satu minggu, dua minggu bahkan satu bulan telah berlalu begitu cepat. Tapi justru aku semakin bisa mengendalikan kekuatan ini. emosiku normal, aku sehat dan tidak dalam keadaan gila dan aku ternyata memang bisa menghilang. Saat itulah aku meyakinkan diriku bahwa aku memang bisa menghilang, ini bukan mimpi! Aku pun sudah berkali-kali membuktikanya, dari mulai mengerjai Zein bahkan hingga mengintip Fafa di kamarnya. dan ternyata aku—Defa Mahendra benar-benar bisa menghilang!!
Serasa mendapatkan durian runtuh, batinku dalam hati. Aku mendapatkan kekuatan super seperti di dunia khayalan, bahkan aku mungkin bisa dibilang superhero yang nyata! Argh… ingin sekali kutunjukan kekuatan ini pada semua orang, karena dengan begitu aku pasti akan terkenal, Defa si manusia transparan! Bukan hanya di Indonesia, dunia akan melihatku, melihat kekuatan superku. Dengan begitu, kondisi ekonomi dan sosialku pasti lebih baik lagi. Menjadi artis, pemain film terkenal bahkan mungkin aku juga menerbitkan buku yang menceritakan tentang diriku sang manusia super—Pasti gokil!
Sudah tiga jam aku tertawa bahagia di kamar tidak jelas karena kekuatanku memang nyata. Aku binggung apa yang harus kulakukan, apakah kekuatan ini akan ku pamerkan atau kekuatan ini memang digunakan untuk menolong orang. Ingin sekali rasanya memberitahu orang-orang tentang kekuatanku, tapi entah kenapa aku belum yakin seratus persen apakah aku akan terkenal mendadak.
Tiba-tiba Fafa menelponku, ia mengajakku untuk belajar bersama karena tujuh hari lagi akan ada ujian tulis berbasis komputer untuk persiapan mendaftar perguruan tinggi.
“Kenapa aku tidak cerita ke Fafa aja ya kalo sekarang aku bisa menghilang.” Gumamku dalam hati.


“Fa, ada yang pengin aku omongin nih.” Ucapku menatap Fafa.
“Mau ngomong apa Def? kalo bukan soal pelajaran, jangan dulu deh. Fokus belajar aja dulu.” Sahut Fafa yang masih fokus membaca buku.
“Hmm… Yaudah deh.” Ucapku kecewa.
“Sabar ya.” Ucap Fafa yang tersenyum begitu manis kepadaku.
Argh… Manis sekali dirinya. Dari kecil Fafa memang terkenal cantik dan pintar, tak heran banyak yang mendekatinya. Tapi jujur, dalam hatiku aku sangat beruntung mempunyai pacar seperti Fafa yang benar-benar mengerti diriku.
Setelah kami selesai belajar, akhirnya aku memberanikan diri untuk cerita tentang diriku yang mampu menghilang. Fafa terkejut, ia pun sempat schock melihatku. Ia banyak bertanya sejak kapan aku mempunyai kekuatan ini? Aku pun menjawab sejak saat mimpi buruk itu datang—saat aku bermimpi bertemu penyihir bernama Alpha.
“Kalau begitu Def, aku punya permintaan. Apapun yang terjadi, kau jangan menggunakan kekuatan itu untuk berbuat yang tidak benar ya, baik berbuat jail, mencuri atau apapun! Ingat ya.” Jelas Fafa menatapku serius.
“Pasti Fa, tenang aja. Aku engga akan berbuat yang buruk-buruk kok. Kamu juga jangan cerita-cerita ke orangtuaku ya.” Sahutku.
Hari itu aku tersadar sesuatu, kekuatan ini kenapa bisa diberikan padaku ya? Ada alasan apa penyihir bernama Alpha itu memberikan kekuatan ini, apa ada maksud tertentu? Argh… Sudahlah, terlalu pusing jika hanya dipikirkan, aku harus menemuinya nanti malam—Di dalam mimpi.
Matahari pun tenggelam dalam indahnya senja, tergantikan oleh gemerlap langit malam yang kian terang seiring sinar bulan. Sebelum tidur, aku biasa melakukan ritual—agar terhubung dengan mimpi yang kuinginkan, yaitu menemui penyihir Alpha.
Aku terbawa pada sebuah tempat yang sedikit gelap dan sempit. Aku mencoba mencari jalan keluar hingga akhirnya bertemu dengan sebuah pintu yang ternyata tersembunyi dibalik rak buku. Pada saat aku membuka pintu ternyata yang langsung terhubung dengan sebuah hutan. Hutan itu terlihat menyeramkan, dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dinginya udara membuatku sedikit menggigil. Aku mencoba bermeditasi kembali lalu tak lama setelahnya, penyihir Alpha pun menampakan diri.
“Ada apa anak muda? Kenapa kau ingin bertemu denganku lagi?” Ucapnya tersenyum.
“Aku ingin bertanya padamu, apakah kau yang memberikan kekuatan padaku saat kau bertemu denganku waktu itu?” Tanyaku serius.
“Kekuatan? Kekuatan seperti apa memang?
“Aku bisa menghilang.” Ucapku sembari menunjukkan kekuatanku.
“Hahaha… Tentu itu bukan kehendakku yang seorang penyihir bocah. Kau pasti orang terpilih, jadi berbahagialah, dan gunakan kekuatan itu sebagaimana seharusnya.”
“Jadi kau bukan yang memberikan kekuatan ini?”
“Bukan Nak, tapi menurutku lebih baik kau terima saja kekuatan itu, dan jangan sampai ada orang-orang yang mengetahui tentang kekuatanmu. Pesanku, gunakan kekuatan itu dengan bijak, sampai jumpa bocah.” Ucap Alpha kemudian pergi dariku dan aku pun terbangun dari mimpiku.
Aku mengerti sekarang, yang harus kulakukan sebenarnya itu adalah menolong orang lain. Karena dengan kekuatan ini, aku jadi bisa membantu seseorang.
Malam pun berlalu dan esoknya aku langsung pergi ke rumah Fafa. Sesampainya di rumah Fafa, aku pun mengobrol dengannya tentang pertemuanku dengan penyihir Alpha dan apa yang seharusnya kulakukan,
“Yaelah Def, kamu engga harus berbuat apa-apa kali. Toh berbuat baik atau menolong orang kan sebenernya engga perlu pake kekuatan juga bisa. Kalo menurutku si lebih baik kamu engga perlu pakai kekuatan itu lagi, cukup menjadi Def yang sejak kecil udah aku kenal, itu aja.” Senyum Fafa.
“Iya ya Fa, kamu benar. Aku tetap manusia, walaupun aku bisa menghilang, bukan berarti aku bisa menjadi pahlawan. Apalagi di zaman modern seperti sekarang, lebih baik kita belajar yang rajin untuk mengampai mimpi daripada terlalu sering bermimpi tapi tidak sejalan dengan usaha yang kita lakukan.” Sahutku tersenyum kembali.
“Betul!” Ucap Fafa yang kemudian mulai saat itu aku mengerti bahwa sebenarnya kekuatan ini hanya sekedar kekuatan, aku memang bisa menghilang tapi aku bukan pahlawan yang patut dikenang, apalagi menjadi pahlawan seperti para pejuang. Aku tetaplah manusia, tetaplah menjadi Defa Mahendra. Seorang anak remaja yang bisa menghilang, dan mungkin kekuatan ini memang ditakdirkan untukku. Tapi bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk bisa lebih mandiri dan berempati.