Bhaskara.id – 1 Mei 2026 terjadi seruan aksi tuntutan oleh aliansi mahasiswa Banyumas Raya dalam rangka Memperingati Hari Buruh (Mayday) di Gedung DPRD Kabupaten Banyumas. Para massa aksi berjalan dari titik kumpul di Gedung PKM Unsoed kemudian menuju Pendopo Si Panji.
Aksi ini didasari pada 2 momentum yaitu Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional, dengan melihat ketimpangan yang terjadi di Indonesia saat ini, khususnya wilayah Banyumas. Dalam liputannya, Yoga Dwi selaku Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMP menyampaikan urgensi tuntutan di hari Pendidikan.
“Berkaitan dengan pendidikan, ini masih banyak bahkan ada yang kita dapat di Banyumas sendiri ada 165 kurang lebih sekolah yang masih rusak, ini menjadi satu yang harus diperhatikan dan juga harus dilakukan, dan harus ada kebijakan secara khusus dari Bupati Banyumas”.
Para aksi menuntut adanya pendidikan gratis yang seadanya adanya, “diberbagai daerah salah satunya di Maluku Utara, bisa menerapkan pendidikan gratis yang sebenar-benarnya. Tidak ada yang namanya tagihan atau pungutan lain lain. Berbeda halnya dengan Banyumas, masih ada pungutan pungutan untuk LKS dan seterusnya”, tambah Yoga.
Pada aksi itu, Bupati Banyumas maupun DPRD tak kunjung hadir menemui massa. Sebaliknya, Bupati Banyumas memberikan mandat kepada Aspem Kesra, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, dan Kepala Dinas Ketenagakerjaan. Dalam dialognya Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspem Kesra) Kabupaten Banyumas Drs. Nungky Harry Rachmat, M.Si. menyebutkan permohonan maaf atas ketidakhadiran Bupati yang sedang menangani TPST BLE bersama walikota Magelang.
Hal tersebut sempat memicu amarah pendemo, namun ada itikad baik dari ketiga perwakilan Bupati yang turut membuka ruang bagi para mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi maupun tuntutan nya.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas adalah Amrin Ma’ruf, S.Sos, M.Si turut menyampaikan dialog kepada para mahasiswa, “Terimakasih, dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional memberikan semangat pada kami. Bagaimana untuk meningkatkan kesejahteraan guru, Bapak Bupati Sadewo-Lintarti melakukan pengadaan program Trilas. Kegiatan ataupun program yang dilakukan yaitu penanganan anak tidak sekolah, jadi betul data yang ada kemarin, ada 15.000 itu data dari dapodik, kemudian data dari kemenag, kemudian data dari BPS. Disatukan terus kemudian kita kompilasi”.
Namun, Amrin Ma’ruf mengatakan bahwa hal tersebut belum merupakan data real sesuai dengan yang di lapangan, karena merupakan gabungan dari berbagai sumber. Dinas Pendidikan turut melakukan verifikasi dan pembentukan Tim satgas untuk penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) tingkat kabupaten dan kecamatan.
“Penanganan nya terkait dengan infrastruktur, sudah dilaksanakan oleh Bupati kita dengan cara pengadaan bus, termasuk bus wisata yang dinyatakan tidak efektif kita alihkan menjadi bus sekolah gratis”, ucap Amrin.
Pada seruan aksi ini mahasiswa berkomitmen untuk bersikap kondusif dan menjaga nafas aksi supaya tidak berujung pada tindak represif. Mahasiswa sedikit dikecewakan dengan adanya pihak kepolisian, yang mana polisi seharusnya melindungi, menjaga serta mengayomi masyarakat.
Pada tahun 2026, langkah konkrit pemerintah Banyumas mengupayakan 160 gedung sekolah mendapatkan pendanaan dari pemerintah pusat untuk direvitalisasi. Pendanaan revitalisasi sempat dikesampingkan terlebih dahulu oleh pemerintah pusat, karena mengutamakan penanganan bencana di Sumatera.
Tepat pada peringatan Mayday, 1 Mei 2026 Bupati Banyumas Sadewo-Lintarti meluncurkan program Salin Aslimas (Sadewo Lintarti ASN Lindungi Pekerja Rentan Banyumas), berfungsi memberikan perlindungan jaminan Kematian dan jaminan kecelakaan kerja dengan BPJS ketenagakerjaan, yang dibayarkan melalui dana yang dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Suasana demo Mayday menjadi tegang ketika mahasiswa menuntut masuk kedalam gedung DPRD untuk menyampaikan tuntutannya serta penandatangan, yang mana sempat adanya pelarangan oleh pihak keamanan kepolisian. Melewati berbagai upaya negosiasi, mahasiswa dapat masuk untuk menyampaikan tuntutannya serta penandatanganan oleh pihak perwakilan Bupati.
Dalam hal ini, korlap seruan aksi Mayday, Muhammad Zulfan yang merupakan Wakil Presiden UIN SAIZU, menyampaikan poin utama tuntutan aksi ini yaitu Kesejahteraan di sektor guru dan keadilan, kenyamanan serta keamanan untuk buruh, pemerataan fasilitas yang ada di sektor pendidikan di Banyumas raya kemudian adanya kesejahteraan bagi guru honorer.
“Yang kita konsolkan bahwa masih banyak daerah 3T (Terpinggirkan, Terluar, Terdepan) itu masih kurang untuk pengawalan nya. Dan terutama untuk gaji guru guru honorer, bahkan ada guru honorer di SMP 2 Sumbang tidak digaji. Kita bisa melihat bahwa di MBG itu dana besar besaran, namun untuk pendidikan nasib nya seperti apa sekarang”, pungkasnya.
Nafas mahasiswa merupakan bentuk perjuangan aspirasi masyarakat. Zulfan menyampaikan ada pula keterlibatan masyarakat buruh dalam tahap konsolidasi untuk melancarkan aksi ini. Tentu seruan aksi Mayday tidak luput pada keinginan yang ingin dicapai masyarakat buruh.
Mahasiswa tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan, namun tetap mengawal penuh atas apa yang dilakukan pada hari ini, “Kemungkinan kami akan mengecek terlebih dahulu sampai mana progres nya, nanti akan banyak momentum momentum lain untuk kita menyampaikan hal yang belum tersampaikan”, tambah Zulfan.
Aksi ini memberikan harapan bahwa buruh benar-benar diperhatikan kesejahteraan dan kenyamanan dalam bekerja. Dari sektor pendidikan diharapkan adanya pemerataan pendidikan dan fasilitas tenaga pendidikan. Kemudian adanya kesejahteraan bagi guru terutama guru honorer.
Dalam aksi ini tidak mendapatkan apresiasi, namun ada bentuk penerimaan dari Dinas dalam memberikan ruang untuk menyampaikan apa yang masyarakat sampaikan. Aksi demo perlahan selesai setelah adanya penandatanganan pihak Dinas dalam surat pernyataan tuntutan aksi. Aksi demo di tutup dengan pernyataan sikap serta perayaan Mayday, dilantunkan dengan nyanyian hari buruh dan darah juang. (MF/BHAS).