Bhaskara.id – Diskusi publik bertajuk “Masalah-masalah rakyat yang tak pernah terjawab” sukses diselenggarakan di Taman Andang Pangrenan, Purwokerto Selatan, Minggu, 12 April 2026, dengan menghadirkan Symphati Dimas (Ketua Umum Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional) dan Tiyo Ardianto (Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada) sebagai pemateri. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga perwakilan lembaga masyarakat sipil yang turut serta menyuarakan keresahan terhadap kondisi sosial saat ini.
Diskusi ini menjadi ruang refleksi atas kondisi sosial masyarakat yang dinilai semakin kompleks. Berbagai isu seperti kemiskinan, ketimpangan pendidikan dan kesehatan, serta tekanan ekonomi menjadi topik utama yang dibahas dalam forum tersebut.
Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM menyampaikan bahwa persoalan rakyat di Indonesia terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas.
“Persoalan kemiskinan, kebutuhan hidup, hingga ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan masih terjadi di berbagai daerah,” ujar Tiyo.
Tiyo juga menegaskan bahwa diskusi tidak boleh berhenti pada wacana semata.
“Setelah diskusi ini, semua harus bergerak. Kalau tidak, perlu dipertanyakan akal sehat dan nurani kita,” tegas Tiyo.
Lebih lanjut, Tiyo menekankan pentingnya menciptakan ruang-ruang alternatif diskusi di luar institusi formal. Menurutnya, ruang seperti tongkrongan atau komunitas bisa menjadi tempat konsolidasi gagasan dan gerakan.
Sementara itu, Symphati Dimas, Ketua Umum Pimpinan Pusat FMN menyampaikan bahwa diskusi ini mencerminkan tingginya keresahan masyarakat terhadap kondisi saat ini.
“Diskusi ini memperlihatkan kekecewaan rakyat yang sangat besar terhadap kebijakan pemerintah,” ungkap Dimas.
Dimas menambahkan bahwa kegiatan diskusi harus menjadi awal dari langkah perjuangan yang lebih konkret.
“Diskusi harus diwujudkan menjadi rencana aksi nyata, baik di tingkat daerah maupun nasional,” jelas Dimas.
Sumandi, Ketua Umum LSM Lembaga Independen Banyumas (LIBAS) turut memberikan tanggapannya. Ia mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini dan menilai bahwa peran generasi muda sangat penting dalam mendorong perubahan.
“Saya bangga masih ada anak muda yang peduli. Kegiatan seperti ini penting untuk menggugah kesadaran masyarakat,” kata Sumandi.
Sumandi juga menyoroti persoalan di tingkat daerah, seperti keterbatasan anggaran dan kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada rakyat.
Secara keseluruhan, diskusi publik ini tidak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi, tetapi juga memantik kesadaran kolektif akan pentingnya aksi bersama. Para narasumber dan peserta sepakat bahwa perubahan hanya dapat terwujud melalui gerakan yang terorganisir dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini diharapkan lahir solidaritas antara mahasiswa, buruh, petani, dan masyarakat luas untuk bersama-sama memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan sejahtera. (BHAS/MV/FR/SB).